
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Melestarikan Tradisi, Memperjuangkan Sumber Kehidupan.Ritual Pitonan di Batu Jadi Pengingat Pentingnya Air bagi Masyarakat dan Budaya
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Dalam semarak kesenian lokal yang menghidupkan udara Dusun Sabrangbendo, Desa Giripurno, sebuah ritual adat Jawa kuno kembali digelar dengan khidmat. Mitoni atau Pitonan. Lebih dari sekadar perayaan seremonial saja tetapi acara ini telah menjadi simbol nyata keteguhan masyarakat dalam melestarikan warisan leluhur sekaligus penegasan hak kultural atas sumber daya alam, khususnya mata air, yang menjadi nadi kehidupan dan tradisi.

Berasal dari kata”pitu” (tujuh), Mitoni atau Pitonan adalah tradisi syukur dan doa untuk keselamatan bagi seorang anak yang telah menginjak bulan ketujuh,bisa juga satu tahun sampai tujuh tahun,bagi anak laki laki sebelum di khitan. Prosesi sakralnya mulai dari slametan, siraman (mandi ritual), sarat dengan makna filosofis Jawa tentang penyucian, harapan, dan penyambutan kehidupan baru. Namun di Sabrangbendo, ritual ini mendapatkan dimensi pelestarian yang lebih dalam, karena seluruh rangkaian, terutama sesi siraman, secara sengaja digelar di dan menggunakan air dari sumber mata air setempat. Air bukan hanya media fisik, melainkan unsur sakral yang menghubungkan manusia, budaya, dan alam.
Gelaran Budaya Kearifan Lokal yang Hidup. Acara tersebut diwarnai dengan kemeriahan kesenian tradisional yang menjadi penanda identitas kolektif.Terbang Jidor, Bantengan, Barongsai, Reog Ponorogo, dan Drumband dan lain lainya turut memeriahkan, menunjukkan bagaimana tradisi ritual berpadu dengan ekspresi seni yang hidup. Ini adalah pendidikan non formal bagi generasi muda, bahwa adat istiadat dapat tetap relevan dan meriah di tengah zaman modern.

Wildan,Anggota DPRD Kota Batu Komisi B Fraksi Partai Demokrat, yang hadir dalam acara, menyampaikan apresiasi tinggi. Ia menekankan bahwa pemanfaatan sumber mata air untuk kegiatan budaya ini adalah bukti nyata keterikatan kultural masyarakat.
“Sumber air ini dimanfaatkan secara kultural oleh masyarakat. Kami berharap YLPI Al-Hikmah, sebagai pihak yang terkait, menyadari betapa vitalnya sumber ini bagi hajat hidup dan tradisi warga. Semoga hak masyarakat atas air ini dapat dikembalikan dan diselesaikan dengan baik tanpa berlarut-larut. Solusi terbaik dari Al-Hikmah sangat dinantikan untuk kelangsungan hidup warga Giripurno dan sekitarnya,” tegas Wildan kepada awak media.


Robiyan,Ketua Umum Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara, menegaskan bahwa acara seperti Mitoni atau Pitonan adalah bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.
“Membawa ritual Mitoni ke sumber mata air adalah bentuk pelestarian aktif. Mengambil air untuk siraman adalah praktik warisan leluhur yang harus kita jaga. Pemerintah Kota Batu, bahkan hingga tingkat nasional, perlu memberi perhatian serius. Pelestarian adat dan perlindungan sumber mata air harus berjalan beriringan. Kami mendesak para investor untuk mengkaji ulang aktivitas, seperti pengeboran, yang dapat mengancam kelestarian sumber air yang masih dimanfaatkan secara sakral ini. Rakyat bersatu, Indonesia maju,” jelas Robiyan dengan penuh semangat.

Haji Darsono(Bagong), selaku sohibul hajat menyampaikan bahwa mitoni ini untuk anak kami yaitu Saifullah Maulana Malik Ibrahim yang berusia empat tahun, tradisi ini adalah bagian dari kehidupan mereka yang hidup berdampingan dengan alam dan masyarakat.
“Kami nguri-nguri (merawat) budaya pitonan ini agar tidak punah dan menjadi pemantik bagi generasi penerus. Di sisi lain, ini juga cara kami untuk menyelamatkan sumber-sumber mata air di Desa Giripurno, Dusun Sabrangbendo. Melestarikan budaya berarti juga melindungi sumber kehidupan yang diwariskan leluhur,” ujarnya Kaji Bagong sapaan akrabnya, ke awak media.

Kegiatan Mitoni di Dusun Sabrangbendo telah melampaui makna ritual individu.Ia telah bertransformasi menjadi medium advokasi budaya dan lingkungan yang powerful. Acara ini menyampaikan pesan jelas bahwa air adalah hak dasar masyarakat yang tidak hanya mendukung kehidupan fisik, tetapi juga kehidupan budaya dan spiritual. Pelestarian tradisi adat tidak mungkin berjalan jika sumber daya alam yang menjadi jantung ritual itu sendiri terancam.
Lihat Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/perkuat-akses-keadilanwali-kota-batu-gandeng-advokat-peradi-perluas-bantuan-hukum-gratis/
Masyarakat Giripurno, dengan dukungan tokoh politik dan budayawan, mengajak semua pihak pemerintah, investor, dan lembaga terkait untuk duduk bersama. Tujuannya jelas yaitu mencari solusi berkelanjutan yang menghormati hak kultural masyarakat, melindungi kearifan lokal, dan menjamin keberlanjutan sumber mata air sebagai milik bersama yang harus dijaga untuk generasi sekarang dan mendatang.
Dalam gelaran Mitoni yang penuh warna ini, tersirat harapan besar: semoga setiap tetes air yang digunakan dalam siraman menjadi pengingat abadi akan pentingnya harmoni antara manusia, tradisi, dan alam.
( Ria ).


Acara mitoni naik delman keliling Dusun Sabrang bendo ( Foto. : tim ) 
