Pameran Tunggal Rokim Technokulasi The Power Of Drem

Dalam pameran tunggal pertama kalinya ini Abdul Rokim menyuguhkan beberapa karyanya yaitu seni instalasi dan dua dimensi, yang bertajuk ” Technokukasi The Power Of Drem”.

Kota Batu, Pendidikannasional.id – Kota Wisata Batu yang menyuguhkan berbagai macam destinasi wisatanya baik alam maupun buatan, dan juga di kelilingi oleh perbukitan atau pegunungan, sehingga kota ini memiliki udara yang sejuk dan pemandanganya yang indah. Juga memiliki kultur budayanya yang beraneka ragam. Kota dingin ini banyak lahir seorang seniman baik musisi maupun seni rupanya. 

Seni rupa khususnya melukis, sepertinya sudah tidak asing lagi di Indonesia, sebagai sarana pesan atau cirikhas kedaerahan, kota atau provinsi masing-masing. Begitu juga dengan Kota Batu, banyak lahir seniman-seniman yang berbakat, salah satunya yaitu Abdul Rokim dengan sapaan akrabnya Rokim. Menggelar pameran tunggal yang pertamanya dengan tema, ” Technokulasi The Power Of Drem”, yang bertempat di Galeri Raos Jl. Panglima Sudirman No. 6 Ngaglik, Kota Batu. Sabtu ( 12/10/2024 ). 

Apresiasi disampaikan oleh Pj. Wali kota Batu, Aries Agung Paewai, melaluhi Vidio yang diberikanya. Aries mengucapakan selamat dan sukses untuk pameran tunggal yang bertajuk”Technokulasi “, dengan tema rekayasa tanaman hasil karya hasil Adul Rokim. 

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/sosial/kopi-asli-gunung-arjuna-kota-batu-zuna-coffee/

” Berharap karya-karya ini bisa dinikmati, apresiasi oleh seluruh segenap seniman di Kota Batu, dan tentunya para pengunjung, berkarya dan berinovasi adalah wujud karya kita untuk terus berkarya. Selamat dan sukses mudah mudahan pameran ini bisa memberikan dampak positif bagi kita semua dan juga memajukan Kota Wisata Batu.” Paparnya. 


Dalam pameran tunggal perdanya ini didedikasikan kepada para senior-senior pembimbing maupun sahabatnya, dikarenakan dalam masa-masa awal melukisnya tersebut, dari belum tahu sampai mengerti dan paham perihal melukis selalu didampingi oleh para pembimbingnya tersebut. Semuanya itu di sampaikanya sewaktu memberikan sambutan pada acara pembukaan pameran tunggalnya. 

” Rasa syukur yang tak terhingga kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga pada malam hari ini apa yang saya cita-citakan semenjak belajar melukis di pondok seni sekitar tahun 1992 dan bertepatan usia menginjak yang ke 50 tahun, akhirnya apa yang saya inginkan selama ini bisa terlaksana. Dalam pameran tunggal saya ini mengambil tema” Technokulasi “. Tema ini beradaptasi ketika dimana lingkungan kami berdekatan dengan tanaman hias yang berada di dusun saya. Technokulasi ini sebenarnya dari saya sendiri yang mengandung arti bahwa menggabungkan antara teknologi dan okulasi atau teknik sambung tanaman, sehingga mimpi saya Technokulasi ini adalah sebuah teknologi menyambung tanaman itu antara tanaman yang satu dengan yang lain tanpa melihat jenis, valitas atau familinya. Dalam pameran ini juga saya menggambungkan antara dua teknis tersebut menjadi satu media. ” Ungkapnya. 

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

” Kemudian pameran tunggal ini kami dedikasikan kepada guru-guru saya workshop tahun 1992,ini merupakan bentuk tanggung jawab saya ketika dahulu dibimbingnya. Teryata baru sampai usia 50 tahun ini saya bisa menunjukan hasil dari apa yang telah diajarkanya tersebut.” Imbuhnya. 

Pada saat itu juga selaku ketua Pondok Seni Batu Watoni menyampaikan bahwa sebentar lagi kita akan menyaksikan sebuah pameran tunggal pertama dari rekan kami Rokim, dan sebenarya gagasan ini sudah lama ingin diwujudkanya ketika mengikuti pameran binel Jawa timur pada waktu itu. 

” Saya kira ini puncak dari yang di gagas oleh Abdul Rokim, dan di pameran ini saya sebagai ketua yayasan mengapresiasi karya-karyanya dengan tema Technokulasi tersebut.” Katanya. 

Tidak kalah menariknya dan terasa haru, saat pada sesi pembukaan tersebut Abdul Rokim menghadirkan semua guru pembimbing,dan sahabatnya untuk membuka pameran tunggal tersebut. Para pembimbingnya antara lain : Gus Imron, Agus Tobron, Kubu Serawan, Watoni, Gus Bandi, Slamet Henkus, Anwar, Joeari soebardja, Jaenal, Takim, H. Van zhirenk

Dalam kesempatanya Kubu Serawan sebagai salah satu seniman senior Kota Batu mengucapkan bahwa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mana telah di berikan karunia kesehatan untuk kita semua sehingga bisa hadir dalam acara pembukaan pameran tunggal ini. 

” Kami sebenarnya pada waktu itu bukan guru tetapi lebih tepatnya belajar bersama-sama, karena mungkin saat itu kita yang lebih awal dalam berkesenian. Sehingga kami merasa ada sambung rasa untuk belajar bersama-sama, dan saling berbagi. Berhubung waktu itu cara melukis masih pergunakan cara yang tradisional maka saling intip dan membuahkan hasil yang di inginkan.” Katanya. 

” Saat ini sahabat Rokim sebagai wujud rasa syukur nya kepada Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa dengan menggelar pameran tunggal. Ini merupakan sebuah proses berkesenian yang berkelanjutan yang tidak akan berakhir. Semoga sukses dan menjadikan keberkahan bagi Abdul Rokim.”Harapnya.

Selanjutnya, Joeari soebardja juga menyampaikan bahwa saat itu kita menemukan teman teman seniman blok utara dan waktu itu kita namai dengan Branglor, dan sebenarnya waktu itu kita sama-sama tidak mengerti bahwa seni rupa itu bagaimana, lalu apa, kemudian bagaimananya itu sama sama-sama tidak mengerti. 

” Kemudian teman-teman ada yang mulai melangkah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu ke ISI Yogyakarta dan setelah itulah kita baru mengerti dan memahaminya. Sehingga kami bertekad sampai saat ini kita semua terus untuk berkarya. Bersyukur daerah Branglor masih ada yang eksis sampai sekarang.” Jelasnya. 

Sementara itu sebagai budayawan dan juga seniman senior Slamet Henkus juga menyampaikan bahwa melihat pada saat itu memang ada seperti pemetakan antara wilayah yaitu daerah utara, Tengah dan selatan. 

” Bersyukur bahwa branglor ada yang berpameran tunggal,ada satu konteks yang berbeda dari sisi kreativitas, sepertinya karya- karya branglor ini lebih berorientasi pada seni yang berbasis lingkungan. Sampai sempat di panggil oleh Presiden Jokowi karena karyanya yang bersandar ke lingkungan, dengan bentuk berkolaborasi dengan masyarakat. Memang dalam konteks berkesenian saya pikir tidak berbicara secara visual dalam pengertian suka-suka pelukis tetapi seni juga memasuki ruang atau dimensi sosial. Oleh sebab itu tidak salah jika seorang tokoh Hadi Fargo mengatakan bahwa setiap  manusia itu seniman. Semoga dalam pameran lukisan, kedepan bisa memberikan kontribusi yang lebih dan siapa tahu bisa menggerakkan masyarakat, sehingga ada dimensi dan perspektif lain bahwa seni rupa tidak hanya di studio tetapi lintas ruang dan waktu.” Paparnya. 

Hal senada juga disampaikan oleh Seniman senior Gus Bandi ( Kokod ) mengatakan bahwa dahulu kita oernah mengadakan workshop bersama-sama tetapi ada hal yang lucu itu kita siang mengajar bersama teman teman badahal kita sama-sama tidak mengetahuinya untungnya teman-teman tidak tahu kalau kita itu sebenarnya tidak tahu. 

” Bersyukur saat ini kita berkumpul di dalam kondisi yang sehat, dan selamat serta sukses buat Abdul Rokim.” Katanya. 

Suasana keakraban sekaligus reuni tatkala sepata dua kata disampaikan oleh Agus Tobron menceritakan bahwa saat itu seperti Gus Imron, Rokim, Zhirenk, Usman, Takim, semuanya itu selalu bolosan dalam belajar melukis. 

” Teryata nakal itu membawah berkah, dan masih teringat-ingat kata seorang teman yaitu Badri bahwa jadi pelukis itu harus berani melarat ( miskin ), dan bersyukur teman teman semuanya ini tidak ada yang kurang mampu. Buat Abdul Rokim selamat dan sukses.” Ucapnya. 

Selesai sambutan- sambutan acara berlanjut di buka pameran oleh seniman senior senior, Kubu Serawan dan Slamet Henkus beserta sahabat dan yang lain lainya. ( Adi ).

Array
Related posts
Tutup
Tutup