Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono, Dalang Muda Pelestari Wayang Malangan dari Kaki Gunung Arjuno
Kota Batu PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah pesona alam Kota Batu yang dikelilingi gunung dan perbukitan, terdapat kisah inspiratif tentang ketekunan, cinta pada budaya, dan semangat melestarikan warisan leluhur. Kisah itu dibawa oleh seorang dalang muda berbakat, Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono, yang baru saja meraih Juara 2 Festival Dalang Muda 2025 se-Jawa Timur.
Di Desa Sumbergondo Rafi, yang lahir pada 11 Desember 2004, adalah putra asli Dusun Gandong, Desa Sumbergondo, di lereng Gunung Arjuno. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana pasangan Bapak Imam dan Almarhumah Ibu Sulistiyo Ningsih. Sejak kecil, kehidupan Rafi tidak jauh dari sawah dan kebun, membantu orang tua bertani dan berjualan sayuran keliling. Namun, di tengah kesederhanaan itu, bakat seninya sudah bersinar.

Minat Rafi pada dunia pewayangan muncul sejak ia masih di Taman Kanak-kanak. Keberaniannya luar biasa, ia rela berangkat sendiri puluhan kilometer untuk belajar karawitan. Perjalanan belajarnya dimulai secara formal di Sanggar Seni Krido Manggoro Laras (KML) pimpinan Ki Eko Saputro, sejak kelas 4 SD hingga kelas 2 SMP. Ia mempelajari kerawitan dan dasar-dasar pedalangan.
Setelah keluar dari KML, ia tetap aktif mengasah kemampuan dengan mengiringi Seni Tayuban dan wayang kulit. Saat SMA, tekadnya mengkristal, ia ingin mendalami Wayang Gagrak Malangan, kekhasan budaya wayang daerah Malang Raya. Dengan semangat otodidak, ia belajar dengan hanya melihat pagelaran, sebelum akhirnya mendapat bimbingan langsung dari guru-guru seperti Ki Suryaman, Ki Suliamat, dan Ki Tantut Sudanto.

Perjuangannya tidak instan. Sejak 2016, Rafi rutin mengikuti festival dalang. Pada 2017, ia meraih juara favorit se-Jawa Timur dengan membawakan corak Solo. Namun, hati dan identitas budayanya tertambat pada wayang tanah kelahirannya. Sekitar tahun 2023, ia mantap beralih sepenuhnya ke Gagrak Malangan. Keputusan ini terbukti tepat. Pada 2025, dengan membawakan lakon “Maeso Joyo Gumelar”, ia sukses menyabet gelar Juara 2 sekaligus Penyaji Terbaik dalam Festival Dalang Muda tingkat provinsi.
Kini, di usianya yang masih muda yakni 23 tahun, Rafi telah membangun rumah bagi impiannya. Ia mendirikan Sanggar Surya Laras yang sudah memiliki tiga grup dengan masing-masing 16-18 anggota. Sanggar ini aktif menerima job pertunjukan hingga ke Surabaya. Prestasinya juga diakui melalui berbagai piagam penghargaan, termasuk dari Pasopati.

Namun, bagi Rafi, prestasi pribadi bukan akhir segalanya. Ada misi yang lebih besar yaitu melestarikan Wayang Malangan. “Di Kota Batu ini cuma ada dua, yaitu Ki Suliamat dan saya saja. Ini harus kita lestarikan,” ujarnya pada Sabtu 17 Januari 2026,dengan penuh keyakinan. Ia khawatir seni adiluhung ini akan punah tanpa regenerasi.
Ki Nyoto Rafi, yang kini telah berkeluarga dengan Fidia Yuniarti, S.Pd.Gr., berpesan khusus kepada generasi muda yaitu, Jangan fanatik. Mari belajar bersama-sama melestarikan budaya wayang, kerawitan agar jangan sampai kesenian ini diambil oleh orang lain.
” Diharapakan kesenian budaya wayang ini masuk di ekstrakulikuler di sekolah sekolah mulai SD-SMA sehingga adat istiadat ini tetap lestari dan bisa menciptakan generasi sejak dini.” Kata Rafi ke awak media.

Seorang dalang idealnya bisa menguasai banyak hal,nabuh (memainkan gamelan), mengatur nada suara, memahami sinden, dan tentunya mendalang.
· Perlu pengenalan dini. Ia mendorong agar wayang masuk sebagai ekstrakurikuler di sekolah untuk menciptakan regenerasi sejak dini.
· Butuh wadah. Impian terbesarnya adalah memiliki tempat yang luas untuk sanggar, sebagai pusat pengembangan kerawitan dan wayang Malangan bagi generasi penerus.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kisah Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono adalah bukti bahwa kecintaan pada akar budaya, ditempa oleh ketekunan dan kesederhanaan hidup di alam, dapat melahirkan prestasi yang gemilang. Dari dusun terpencil di kaki Gunung Arjuno, ia membawa nama Kota Batu dan Wayang Malangan ke kancah yang lebih tinggi. Perjalanannya mengajarkan bahwa melestarikan warisan budaya bukan hanya tentang menjaga masa lalu, tetapi juga tentang memberinya napas baru untuk masa depan. Semangatnya adalah inspirasi bagi kita semua untuk turut menjaga khazanah budaya Indonesia agar tetap hidup dan relevan.
( Ria ).



Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono sedang memimpin pagelaran Wayang Gagrak Malangan.( Foto : Doc. Rafi ).

