
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Dusun Sabrang Bendo Gelar Bekti Bumi Titik Temu Kearifan Lokal, Spiritualitas, dan Konservasi Air di Tengah Tantangan Ekologi
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Dalam upaya merajut kembali harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, Dusun Sabrang Bendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, kembali menggelar ritual adat Bekti Bumi, Rabu (07/01/2026). Lebih dari sekadar acara tahunan, tradisi ini muncul sebagai narasi kultural yang mendalam, menyatukan rasa syukur, permohonan, dan yang paling relevan saat ini sebuah seruan nyata untuk pelestarian sumber daya air.
Di balik nuansa sakral dan kesederhanaan warga, Bekti Bumi tahun ini menyimpan pesan ekologis yang sangat kuat. Ritual ini difokuskan pada tiga titik mata air vital yang menghidupi masyarakat.Sumber Rebun, Sumber Samin, dan Sumber Demun. Uniknya, dua dari sumber tersebut Sumber Samin dan Sumber Demun dilaporkan telah mengalami kekeringan atau dalam istilah lokal “mati”.Justru di titik-titik inilah ritual mencapai kedalaman filosofisnya.


Inti dari prosesi Bekti Bumi adalah penyembelihan hewan kurban, berupa kambing, yang dilakukan secara khusus di setiap mata air. Robiyan, Ketua Umum Pekumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN) Kota Batu, menegaskan bahwa praktik ini jauh melampaui dimensi seremonial belaka.
“Ini adalah simbol pengorbanan dan komitmen kolektif kami untuk menjaga titipan Tuhan yang paling berharga yaitu air, Menyembelih kurban di area sumber yang masih berair adalah wujud syukur. Sementara, melakukannya di sumber yang telah ‘mati’ adalah bentuk pengakuan, introspeksi, dan ikrar untuk menghidupkannya kembali. Kami ‘mengorbankan’ sesuatu yang kami miliki, dengan harapan dan doa agar alam kembali berbalas memberikan kehidupan.” ujar Robiyan.
Pernyataan Robiyan menyentuh inti dari sinkretisme kearifan lokal Jawa yang melihat alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai subjek atau “sedulur” (saudara) yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya. Ritual ini menjadi media komunikasi simbolis antara manusia dengan lingkungannya.


Darsono ( Kaji Bagong ), sebagai tokoh masyarakat setempat, memperkaya narasi ini dengan perspektif temporal. Ia mengungkapkan bahwa selama kurang lebih sembilan tahun terakhir, kondisi mata air di wilayah mereka mengalami ketidakstabilan dan ketidakpastian.
“Tradisi ini merupakan puncak dari ungkapan syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang masih diberikan,Di sisi lain, ini juga merupakan media permohonan dan peringatan. Permohonan agar sumber kehidupan kami dipulihkan, dan peringatan bagi kami semua untuk generasi sekaran agar lebih bijak menjaga setiap tetes air. Kami mewarisi mata air dari nenek moyang, dan itu adalah amanah yang harus kami teruskan, bukan kami tamatkan.” Kata Kaji Bagong.
Tradisi Bekti Bumi di Dusun Sabrang Bendo menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal (local wisdom) dapat berdialog secara dinamis dengan isu-isu kontemporer, khususnya krisis air dan degradasi lingkungan. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai “pengingat spiritual” tetapi juga sebagai mekanisme sosial untuk membangkitkan kesadaran kolektif.
Apa yang dilakukan warga Dusun Sabrang Bendo menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan teknis dan regulasi dari atas. Diperlukan pendekatan yang holistik, yang menyentuh aspek kultural, spiritual, dan emosional masyarakat setempat. Bekti Bumi adalah bentuk ekospiritualitas yang diwujudkan dalam tradisi.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Ritual ini berhasil mentransformasi kepasifan dalam menghadapi kekeringan menjadi semangat aktif untuk merawat. Air tidak lagi dipandang sebagai komoditas, tetapi sebagai entitas yang hidup, yang hubungannya dengan manusia bersifat timbal balik: dijaga, maka memberi kehidupan,dieksploitasi, maka ia akan “pergi”.
Bekti Bumi di Sabrang Bendo bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dilestarikan. Ia adalah tradisi yang hidup, bernafas, dan berdialog dengan tantangan zamannya. Dalam gempita modernitas yang seringkali memutus hubungan manusia dengan alam, ritual seperti ini menjadi oase penuh makna. Ia mengajarkan bahwa rasa syukur yang paling tulus diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga titipan, dan bahwa doa terbaik untuk kelangsungan hidup adalah dengan menjadi penjaga yang bertanggung jawab atas sumber kehidupan itu sendiri. Sebuah pesan yang relevan tidak hanya untuk warga Giripurno, tetapi untuk kita semua di mana pun berada.
( Ria ).


Sebuah Ritual yang diadakan di area Sumber Mata Air, Rebun
