Pameran “Jejak Arang” di Galeri Raos Batu, Merayakan Seni Sederhana dan Menyambung Ikatan Batin
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Galeri Raos, Kota Batu, kembali menghadirkan suguhan seni yang mendalam melalui pameran bertajuk “Jejak Arang”. Pameran yang digelar oleh Yayasan Pondok Seni Batu ini tidak hanya memamerkan keindahan visual, tetapi juga mengusung filosofi tentang proses, kolaborasi, dan esensi hubungan manusia.
Dalam kunjungannya, Koeboe Sarawan, yang hadir sebagai pemangku kepentingan dan pemerhati seni, menyampaikan apresiasi tinggi. Menurutnya, pameran ini adalah buah ide dan gagasan cemerlang seluruh pengurus pondok seni dengan metode unik berbahan dasar arang.

“Hal ini merupakan sarana bahasa ungkapan pelukis yang sangat menarik. Ini lahir dari sebuah kolaborasi untuk menyatukan hal-hal yang berbeda menjadi satu kesatuan,” ujar Koeboe Sarawan. Ia menekankan bahwa nilai paling fundamental dari pameran ini adalah sebagai sarana menyambung hubungan batiniah, baik antar seniman maupun antar manusia secara luas.
“Karya apapun pada dasarnya adalah media untuk menyambungkan batin, menyambung rasa. Inilah yang paling penting,” sambungnya. Koeboe Sarawan juga berharap kegiatan serupa dapat diadakan secara berkelanjutan. Untuk mengabadikan karya-karya tersebut, ia menyarankan agar para perupa mendokumentasikannya dalam bentuk video dan foto sehingga dapat diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas di masa depan.


Senada dengan hal tersebut, salah satu pengurus yayasan dan juga perupa yang berpameran, Gus Bandi Harioto menjelaskan konsep unik pameran. Semua karya yang dipajang berasal dari para pengurus Yayasan Pondok Seni Batu dengan menyuguhkan pendekatan yang berbeda.
“Kami menggunakan bahan yang murah, tetapi tidak mengurangi kualitas estetika. Uniknya, semua karya ini pada akhirnya akan dihapus. Yang tertinggal hanyalah ‘jejak’-nya dalam ingatan dan dokumentasi. Filosofi inilah yang melandasi tajuk ‘Jejak Arang’,” jelas Gus Bandi.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa pameran ini menjadi edukasi bagi semua orang bahwa berekspresi melalui seni, khususnya melukis, tidak harus dengan bahan-bahan mahal. “Ini membuktikan bahwa nilai seni ada pada ide, proses, dan kepekaan rasa, bukan pada harga material,” tambahnya.

Antusiasme pengunjung juga terlihat, salah satunya disampaikan oleh Mareta (33). Sebagai salah satu penikmat seni yang hadir, ia mengungkapkan kekagumannya pada pameran ini. “Karya-karya ini sangat bagus. Dengan bahan seadanya seperti arang, para seniman bisa menampilkan beragam bentuk dan ekspresi yang membuatnya sangat menarik,” ujarnya.
Mareta berharap agar para perupa dan seniman di Kota Batu terus berkreasi untuk menyuguhkan karya-karya yang lebih inovatif dan progresif lagi ke depannya.

Pameran “Jejak Arang” tidak hanya sekadar pameran lukisan, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang keabadian, kerjasama, dan kekuatan seni dalam menyambung rasa. Kegiatan ini diharapkan dapat terus menjadi wadah yang menumbuhkan ekosistem seni yang dinamis dan inklusif di Kota Batu.
( Ria ).


Karya seni abstrak dari arang yang menunjukkan tekstur dan gradasi warna abu-abu yang unik.( Foto : istimewa ). 
