Wawan Susetya dalam Karyanya Nasionalisme Dan Patriotisme

 

Esai
Membangun Karakter Nasionalisme Dan Patriotisme
dalam Perspektif Budaya
Oleh: Wawan Susetya

Tulungagung, ( Pendidikannasional.id )- Kali ini ada Satrawan dan penulis buku yang sekaligus budayawan dari kota Tulungagung yang mencoba menuangkan karya tulisnya berupa Esai, berikut ini pandangan Wawan Susetya tentang Nasionalisme dan Patriotisme.

KARAKTER dapat diartikan sebagai sistem daya juang, daya dorong, daya gerak, dan daya hidup yang berisikan tata nilai kebaikan akhlak dan moral dalam diri manusia. Karakter inilah yang dapat melandasi pemikiran, sikap dan perilaku manusia. Sementara itu karakter bangsa adalah akumulasi atau sinergi dari karakter individu warga bangsa yang berproses secara terus-menerus dan kemudian mengelompok. Lebih jauh, karakter bangsa Indonesia adalah nilai-nilai kehidupan nyata bangsa Indonesia yang merupakan perwujudan dan pengamalan Pancasila.
Untuk mewujudkan dan membentuk karakter bangsa Indonesia diperlukan nilai-nilai yang harus ada dalam setiap warga negara. Dan, nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa Indonesia adalah 18 karakter, yakni keimanan dan ketakwaan, kejujuran, kedisiplinan, keikhlasan, tanggung jawab, persatuan, saling menghormati, toleransi, gotong royong, musyawarah, kerja sama, ramah tamah, keserasian, patriotisme, kesederhanaan, martabat dan harga diri, kerja keras, dan pantang menyerah.
Saya meyakini bahwa 18 karakter bangsa tersebut merupakan pengejawantahan nilai-nilai yang bersumber dari kearifan lokal dari daerah (suku bangsa) yang bersifat universal kemudian menjadi karakter bangsa. Terbentuknya nasioanalisme itu merupakan persatuan dari daerah-daerah. Jika demikian, mengapa sesuatu yang bersifat primordialisme atau kedaerahan musti diperhadapkan dengan nasionalisme? Bukankah segala sesuatu yang bersumber dari kearifan lokal (daerah-daerah atau suku) kemudian kalau bersatu justru menjadi aset atau kekuatan bangsa?
Bagaimana sesungguhnya permasalahan ini?
Falsafah Rujak Uleg Dan Gado-Gado
Sebagaimana kita ketahui rujak uleg menjadi makanan yang nikmat itu karena adanya percampuran dari bahan-bahannya, ada lontong, kulupan/sayur, kecambah, kikil, tahu-tempe, sambal dan sebagainya. Demikian halnya dengan gado-gado yang bahannya bermacam-macam, sehingga ketika dicampur menjadi satu, rasanya menjadi nikmat. Kalau hanya lontong atau sayur atau tahu saja belum bisa dikatakan rujak uleg atau gado-gado. Tetapi makanan tersebut bisa disebut rujak uleg atau gado-gado kalau semua bahan-bahannya dicampur menjadi satu-kesatuan.
Demikian halnya dengan nasionalisme yang dapat diartikan sebagai paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara atas kesadaran bersama. Terwujudnya kata nasional itu karena adanya persatuan dari daerah-daerah atau suku-suku, seperti Jawa, Bali, Batak, Dayak, Bugis dan sebagainya. Selain itu juga agama-agama, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu dan penghayat kepercayaan kepada Tuhan YME.
Menurut hemat kami, pandangan tersebut menjadi salah-kaprah mengenai kebhinekaan hingga Nusantara atau Negara Indonesia. Ketika ada komunitas kesukuan, misalnya Jawa atau suku-suku yang lain, berbicara atau mengadakan kegiatan di kancah nasional yang bernuansa Jawa atau suku tertentu lalu dianggap bertentangan dengan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) dan melanggar kebhhinekaan. Demikian halnya ketika agama, ras dan komunitas atau golongan tertentu menyuarakan pandangan mereka lalu dicap telah menyimpang.
Dalam berbagai hal, selama ini ada kesan untuk menegasi atau me-tidak-kan dari kesukuan atau agama tertentu. Kesan tersebut seolah-olah pandangan dari suku-suku tertentu atau agama tertentu kurang diakomodir atau bahkan ditolak. Padahal, bagaimana pun, Indonesia atau Nusantara ini merupakan kumpulan dari berbagai macam suku-suku bangsa, agama, ras dan antar golongan (SARA). Atau gampangannya, Indonesia itu adalah Jawa, Batak, Bugis, Dayak, Ambon, Madura, dan sebagainya. Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Begitulah semestinya cara pandangnya, bukan sebaliknya; Jawa, Batak, Bugis, Dayak, Ambon, Madura, dan sebagainya bukanlah Indonesia. Atau, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu dan Penghayat Kepercayaan bukanlah Nusantara.
Artinya, ketika orang Jawa eksis atau menghidupkan (baca; nguri-uri) bahasa dan budayanya, hal itu bukan berarti menyimpang dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan kebhinekaan. Sebaliknya justru orang-orang Jawa itu telah memperkokoh keberadaan Indonesia atau Nusantara. Demikian halnya ketika agama atau penghayat kepercayaan menghidupkan ajaran dan budaya mereka, hal itu makin memperkuat posisi Indonesia. Oleh karenanya, marilah kita tidak usah menutupi identitas kita sebagai suku atau agama tertentu dalam kancah nasional, misalnya menyangkut salam di atas. Ketika orang Islam mengucapkan salam (komplet dalam Agama Islam) tentu tidak tidak dimaksudkan untuk tidak menghormati kepada pemeluk agama lain. Demikian halnya dengan pemeluk agama yang lain atau penganut kepercayaan.
Demikian halnya dengan bacaan salam secara nasional dengan mengucapkan semua salam dari semua agama, yakni; “Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, Salam sejahtera bagi kita sekalian, Salom Om Swastihastu, Nama budaya, Salam kebajikan dan Selamat siang”.
Artinya, kalau tidak mengucapkan salam yang mempresentasikan atau mewakili semua agama di negara kita, jangan-jangan dianggap tidak toleran dan melanggar kebhinekaan (bhineka tunggal ika). Lalu digagaslah ucapan Salam Pancasila seperti itu.
Menurut hemat kami, pandangan tersebut menjadi salah-kaprah mengenai kebhinekaan yang ada di Nusantara atau Negara Indonesia. Ketika ada komunitas kesukuan, misalnya Jawa atau suku-suku yang lain, berbicara atau mengadakan kegiatan di kancah nasional yang bernuansa Jawa atau suku tertentu lalu dianggap bertentangan dengan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) dan melanggar kebhhinekaan. Demikian halnya ketika agama, ras dan komunitas atau golongan tertentu menyuarakan pandangan mereka lalu dicap telah menyimpang.
Selama ini terkesan untuk menegasi atau me-tidak-kan dari kesukuan atau agama tertentu. Pandangan mereka kurang diakomodir atau bahkan ditolak. Padahal, bagaimana pun, Indonesia atau Nusantara ini merupakan kumpulan dari berbagai macam suku-suku bangsa, agama, ras dan antar golongan. Atau gampangannya, Indonesia itu adalah Jawa, Batak, Bugis, Dayak, Ambon, Madura, dan sebagainya. Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Begitulah semestinya cara pandangnya, bukan sebaliknya; Jawa, Batak, Bugis, Dayak, Ambon, Madura, dan sebagainya bukanlah Indonesia. Atau, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu dan Penghayat Kepercayaan bukanlah Nusantara.
Artinya, ketika orang Jawa eksis atau menghidupkan (baca; nguri-uri) bahasa dan budayanya, hal itu bukan berarti menyimpang dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan kebhinekaan. Sebaliknya justru orang-orang Jawa itu telah memperkokoh keberadaan Indonesia atau Nusantara. Demikian halnya ketika agama atau penghayat kepercayaan menghidupkan ajaran dan budaya mereka, hal itu makin memperkuat posisi Indonesia. Oleh karenanya, marilah kita tidak usah menutupi identitas kita sebagai suku atau agama tertentu dalam kancah nasional, misalnya menyangkut salam di atas. Ketika orang Islam mengucapkan salam (komplet dalam Agama Islam) tentu tidak tidak dimaksudkan untuk tidak menghormati kepada pemeluk agama lain. Demikian halnya dengan pemeluk agama yang lain atau penganut kepercayaan.
Nasionalisme Kumbakarna: Right or Wrong Is My Country
Dalam Serat Tripama disebutkan tiga tokoh ksatria dalam pewayangan yang memiliki semangat membela tanah air atau membela negaranya, yaitu Raden Kumbakarna, Patih Suwanda (Raden Sumantri) dan Adipati Basukarna alias Adipati Karna.
Pertama, Raden Kumbakarna yang terkenal sangat nasionalis karena menjunjung tinggi dan setia kepada bangsa dan negaranya, Ngalengka Diraja. Awalnya sebenarnya ia tidak suka dengan tabiat dan perilaku kakaknya Prabu Dasamuka alias Rahwana Raja yang menculik Dewi Shinta, istri Prabu Rama Wijaya. Karena itulah Kumbakarna tak mau berangkat ke medan peperangan menghadapi Prabu Rama Wijaya. Namun karena Prabu Dasamuka mengolok-oloknya bahwa ia telah dibesarkan dan mukti wibawa di Negeri Ngalengka, maka Kumbakarna akhirnya maju ke medan peperangan. Meski demikian, majunya Kumbakarna berperang menghadapi Prabu Rama Wijaya bukan karena diniatkan membela kakaknya (Prabu Dasamuka), tetapi demi mempertahankan bangsa dan negaranya yang telah diserang musuh (Prabu Rama Wijaya dan pasukannya, bala wanara). Itulah sebabnya keberanian Kumbakarna dalam berperang itu dikenal dengan istilah “Right or wrong is my country”.
Kedua, Patih Suwanda yang pada masa mudanya dikenal sebagai Raden Sumantri. Ia adalah sosok prajurit yang setia kepada bangsa dan negaranya atau setia kepada rajanya. Sosok tersebut yaitu Raden Sumantri yang kemudian dikenal sebagai Patih Suwanda. Jiwa patriotismenya diilustrasikan dalam sebuah Tembang Dhandhanggula: “Yogyanira kang para prajurit, Lamun sira arsa anuladha, Duk ing nguni caritane, Andelira Sang Prabu, Sasrabahu ing Maespati, Aran Patih Suwanda, Lelabuhanipun, Kang ginelung tri prakara, Guna kaya purun ingkang den antepi, Nuhoni trah utama.”
Ketiga, Adipati Basukarna alias Adipati Karna yang rela berkorban demi membangkitkan semangat keberanian Prabu Duryudana (Raja Ngastina) berhadapan dengan para Pandhawa dalam Perang Bratayuda Jayabiangun. Awalnya, memang, Adipati Basukarna merasa berhutang budi kepada Prabu Duryudana, sehingga ia siap berperang membantu menghadapi para Pandhawa. Tetapi, sesungguhnya Adipati Karna menyadari bahwa Perang Bratayuda Jayabinangun itu harus terjadi demi menegakkan kebenaran dan keadilan. Bagaimana pun ia menaruh hormat kepada para Pandhawa yang berusaha memayu hayuning bawana dengan jalan memerangi para Kurawa yang dikenal berwatak angkara murka atau candhala. Bahkan, Adipati Karna pun mengetahui kalau para Pandhawa adalah saudara se-ibu dengannya. Tetapi, bila Adipati Karna tak berada di kubu para Kurawa niscaya mereka (para Kurawa) itu memiliki nyali menghadapi para Pandhawa. Itulah sebabnya, demi terjadinya perang saudara atau perang besar itu, maka Adipati Karna merelakan dirinya menjadi “tumbal” dalam Perang Bratayuda Jayabinangun itu.
Dharmaning Satriya dalam Pewayangan
Dalam pewayangan (pedhalangan) terdapat hikmah mengenai model kepemimpinan ksatria (satriya) yang biasanya dilambangkan atau disimbolkan dengan tokoh Raden Arjuna atau Raden Abimanyu. Para satriya ini biasanya dalam penampilannya selalu didampingi oleh para punakawan; Ki Lurah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Para satriya tersebut mengemban tugas menegakkan kebenaran dan keadilan serta memayu hayuning bawana (menyelamatkan dan memakmurkan bumi seisinya).
Simbolik dari satriya dalam pewayangan—Raden Arjuna atau Raden Abimanyu—memegang peranan penting, karena para ksatria memiliki kewajiban melaksanakan ‘darmaning satriya’, sebagai berikut:
1. Ngayomi wasu pitri pandhita-resi ingkang ulah puja mesubrata (melindungi wasu pitri pandhita-resi yang sedang ulah puja mesubrata)
2. Rumeksa raharjaning praja bumi kelahiran (memelihara keselamatan atau kesejahteraan negara dan bumi kelahiran)
3. Trisna bangsa welas asih mring kawula dasih (mencintai bangsa dan memberikan kasih sayang kepada rakyat jelas)
4. Setya ing janji nuhoni sabda ingkang wus kawedhar (menepati janji yang sudah diucapkan)
5. Tundhuk ing bebener adhedhasar adil (tunduk patuh terhadap kebenaran berdasarkan keadilan)

Selain itu, dharmaning satriya tersebut juga berkaitan dengan ajaran kepemimpinan sejati dalam pewayangan, yaitu disebut ‘Ngelmu Hasthabrata’ yang pernah diberikan Sri Rama Wijaya kepada Raden Gunawan Wibisana atau Sri Bathara Kresna kepada Raden Arjuna, yaitu dengan meneladani 8 (delapan) unsur alam, yaitu;
1. Meneladani kisma (bumi, tanah) dewanya Bathara Endra. Makna peneladanannya kaya, yakni suka memberi atau berderma.
2. Meneladani banyu (air), dewanya Bathara Baruna. Maknanya adalah bicara (wicara) yang hendaknya dipakai bicara yang baik. Sifat air yaitu mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Identik dengan sikap rendah hati.
3. Meneladani agni (api), dewanya Bathara Brama. Maknanya menegakkan keadilan dengan cara penegakan hukum seadil-adilnya tanpa pandang bulu, sebagaimana sifat api yang dapat membakar apa saja.
4. Meneladani angin, dewanya Bathara Bayu. Maknanya adalah nafas, sehingga harus dijadikan sebagai “tetalining ngaurip” termasuk meneliti secara cermat dalam kehidupan sehari-hari terhadap informasi.
5. Meneladani kartika (lintang, bintang) dewanya Bathara Yama. Maknanya kehendak (karsa) atau cita-cita yang tinggi, maqam (kedudukan seseorang yang tinggi).
6. Meneladani surya (matahari), dewanya Bathara Surya. Maknanya angan-angan (angen-angen), sehingga diharapkan terus membuka wewenganing ngelmu dengan istiqomah seperti ‘perjalanan’ matahari.
7. Meneladani rembulan (bulan), dewanya Bathara Candra. Maknanya adalah hati yang bersih atau suci, simbolisasi keindahan spiritual.
8. Meneladani samudra (lautan, samudera) dengan peneladanan hati yang luas lagi dalam, sehingga mampu menampung keluhan atau aspirasi dari banyak orang. Ada versi lain yaitu mendung, dewanya Bathara Kuwera. Maknanya adalah merupakan pasemon terhadap rasa pangrasa manusia, sehingga mengarah pada ketentraman dan kebahagiaan abadi.

Pemimpin yang mengantongi atau menguasai Ngelmu Hastha Brata di atas dapat dikatakan sebagai adil dan bijaksana, bahkan mereka dapat dikatakan ‘memayu hayuning bawna’ (menjaga, melestarikan serta memakmurkan bumi). Atau dapat pula dikatakan sebagai pemimpin yang rahmatan lil ‘alamien.

Perang Bratayuda Jayabinangun Dan Ramayana
Mengenai ajaran kehidupan yang dapat dipetik dari pewayangan, misalnya dalam Bratayuda Jayabinangun atau Ramayana, yakni
1. Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti; artinya keberanian dan kekuatan (kejahatan atau angkara murka) akan lebur/dikalahkan oleh kebajikan. Atau semboyan tersebut dapat dimaknai kebatilan walaupun sebesar raksasa yang menguasai dunia akan hancul oleh kebenaran.
2. Becik ketitik ala ketara; artinya kebaikan dan keburukan akan terlihat di belakang hari).
3. Memayu hayuning bawana; artinya menyelamatkan atau memakmurkan bumi seisinya.
4. Mikul dhuwur mendhem jero; artinya menjunjung derajat orang tua baik-baik, menyembunyikan aib dalam-dalam; atau mengangkat nama baik keluarga.

Bahasa Jawa Dan Budaya
“Tak ada negara tanpa bangsa, tiada bangsa tanpa budaya, dan tiada budaya tanpa bahasa”, ungkapan tersebut mengisyaratkan bahasa dan budaya memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah sebabnya melestarikan dan mempertahankan budaya yang adiluhung sebagai warisan para leluhur bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga masyarakat.
Barangkali kita masih ingat dengan semboyan Bung Karno Sang Proklamator RI mengenai Trisakti bahwa sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat perlu dan mutlak memiliki tiga hal, yakni;
Pertama, berdaulat di bidang politik
Kedua, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi
Ketiga, berkepribadian di bidang kebudayaan.
Pemikiran Bung Karno itu akan dapat menyusun kekuatan dan pembangunan bangsa sekaligus sebagai character building kita.
Maka kita harus waspada terhadap upaya serangan dari pihak luar, misalnya yang akan menghancurkan bangsa kita. Untuk menghancurkan suatu bangsa, maka yang pertama kali dilakukan adalah merusak budayanya. Dan salah satu bagian penting dari budaya adalah bahasanya. Bahasa, dalam hal ini menunjukkan bangsanya.

Karakter Bangsa
Secara umum, karakter merupakan akumulasi dari sifat, watak dan kepribadian seseorang. Dengan demikian, karakter berbeda dengan kepribadian seseorang.
Ruang lingkup pendidikan karakter dengan komplementer atau saling berhubungan dengan satu dan lainnya, dapat dilihat sebagai berikut;
Olah Pikir: cerdas, kritis, inovatif, ingin tahu, berpikir, terbuka, produktif, berorientasi ipteks, dan reflektif
Olah Hati: Beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik
Olah Raga: bersih dan sehat, disiplin, sportif, angguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, gigih
Olah Rasa/Olah Karsa: ramah, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, beretos kerja
Berdasarkan Kemendiknas 2011 ada 18 buah nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan kepada peserta didik yang bersumber dari Agama, Pancasila, budaya yaitu; 1) Religius, 2) Jujur, 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja keras, 6) Kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa ingin tahu, 10) Semangat kebangsaan, 11) Cinta tanah air, 12) Menghargai prestasi, 13) Bersahabat atau komunikatif, 14) Cinta damai, 15) Gemar membaca, 16) Peduli lingkungan, 17) Peduli sosial, dan 18) Tanggung jawab.

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *