
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Haul ke-16 Gus Dur di Kota Batu Menghidupkan Kembali Semangat “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat”
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Ribuan masyarakat dari beragam latar belakang agama, organisasi, dan profesi memadati Nala Eco Point, Kelurahan Temas, Kota Batu, Jumat (2/1/2026), dalam acara haul ke-16 mendiang Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Acara yang mengusung tema “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” ini tidak sekadar ritual keagamaan, melainkan ruang refleksi kebangsaan yang mengedepankan inklusivitas dan penghormatan atas jasa sang pendiri Kota Batu.
Rangkaian kegiatan meliputi tahlil, istighotsah, tasyakuran, doa lintas agama, doa tahun baru, ceramah kebangsaan, dan refleksi pemikiran Gus Dur, meneguhkan komitmen untuk merawat warisan nilai-nilai pluralisme, keadilan, dan humanisme yang dipegang teguh oleh Gus Dur.

Acara dihadiri oleh sejumlah pejabat sipil dan militer, antara lain Wali Kota Batu Nurochman, S.H., M.H., Ketua Perwosi Kota Batu Rida Heli Suyanto, Danlanal Malang Kolonel Laut (P) Agus Haryanto, serta perwakilan Dandim 0818 Malang dan Anggota DPRD Kota Batu. Hadir pula Ketua Yayasan Alamku Hijau, Fitri Harianto (Cak Ndan), beserta jejaring organisasi masyarakat.

Yuli Effendi Mirza, Ketua Panitia, menegaskan bahwa haul ini sengaja dirancang sebagai ruang terbuka bagi semua kalangan. “Gus Dur mengajarkan kita untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu, kami merancang acara ini untuk bersifat inklusif dan menyatukan semua orang,” ujarnya.

Pernyataan senada disampaikan Rudianto, Ketua DPC Sarbumusi NU Kota Batu. Ia menekankan bahwa Gus Dur bukan hanya figur untuk dikenang, melainkan teladan hidup yang relevan. “Gus Dur adalah pahlawan nasional, pendiri Kota Batu, pemimpin NU yang visioner, presiden yang humanis, serta pejuang bagi buruh dan kelompok marginal,” jelas Rudianto.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dalam pandangan Gus Dur, tidak ada dikotomi mayoritas-minoritas. “Semua adalah bagian dari bangsa Indonesia. Peringatan ini adalah momen untuk menjaga memori kolektif dan meneruskan nilai-nilai keragaman, keadilan, dan kasih sayang,” tegasnya.

Wali Kota Batu, Nurochman, secara personal membagikan kisah cintanya pada Gus Dur. “Saya mencintai Gus Dur. Sejak beliau wafat, setiap hari saya ‘mengirim surat’ kepada beliau,” kata Nurochman dengan penuh haru. “Surat apa? Ya, surat Al-Fatihah. Kebiasaan ini saya mulai sejak pertama kali mendengar kabar wafatnya di televisi, dan Insyaallah akan terus saya amalkan, minimal sekali sehari, biasanya usai salat Maghrib.”
Nurochman juga mengungkapkan kekagumannya pada kemampuan Gus Dur melindungi semua elemen masyarakat tanpa diskriminasi.

Dalam kesempatan itu, Nurochman mengajak masyarakat mengingat kembali kontribusi historis Gus Dur bagi kemandirian Kota Batu. Ia menjelaskan bahwa sebelum resmi menjadi daerah otonom, Batu berstatus kota administratif dalam masa transisi, setelah sebelumnya merupakan kecamatan.
“Pada 21 Juni 2001, Presiden KH Abdurrahman Wahid menandatangani keputusan yang menetapkan Kota Batu sebagai pemerintahan mandiri yang mampu mengatur diri sendiri,” ucap Nurochman. Keputusan bersejarah itu merupakan respons atas perjuangan panjang masyarakat dan Kelompok Kerja (Pokja) yang memperjuangkan peningkatan status Kota Batu.

“Meski Hari Jadi Kota Batu diperingati setiap 17 Oktober, tanggal 21 Juni 2001 adalah momen fundamental bagi berdirinya Pemerintah Kota Batu secara otonom. Perhatian langsung dari Presiden saat itu adalah kontribusi besar yang tak boleh dilupakan,” pungkasnya.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Nurochman menutup sambutannya dengan harapan agar peringatan haul ini tidak berhenti pada seremoni. “Dengan memperingati Haul ke-16 ini, kami berharap dapat meneladani kepemimpinan dan pemikiran beliau yang inklusif. Dalam pikiran Gus Dur, tidak ada minoritas atau mayoritas; semua adalah anak bangsa Indonesia. Semoga semangat ‘dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat’ ini terus hidup dalam tata kelola pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat kita,” tutupnya.
Acara yang berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan ini menjadi bukti bahwa pemikiran dan spirit Gus Dur tetap relevan sebagai perekat bangsa dan panduan dalam membangun kota yang humanis, adil, dan beradab.
( Ria ).




