Camat Subi dan Nelayan Sampaikan Permohonan Maaf, Ajak Perkuat Sinergi di Laut Natuna
Subi, Natuna, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Camat Subi, Kabupaten Natuna, Syarifuddin, S.Ag., M.A., secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh nelayan Natuna, khususnya dari Ranai, menyusul viralnya video yang memuat ucapan kasar terkait aktivitas penangkapan gurita di perairan Subi. Permohonan maaf ini juga disampaikan atas nama masyarakat dan nelayan di Kecamatan Subi.
Melalui sambungan telepon pada Sabtu (25/10/2025), Syarifuddin menegaskan bahwa insiden tersebut bermula dari kesalahpahaman dan tidak perlu diperbesar. “Terkait video yang viral itu, kami atas nama masyarakat dan nelayan Subi memohon maaf atas kata-kata yang kurang pantas. Tidak ada maksud untuk melarang nelayan Ranai mencari gurita di wilayah kami,” jelasnya.

Lebih lanjut, Camat Syarifuddin meminta semua pihak memahami konteks pernyataannya yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa ucapannya dalam video merupakan kiasan atau perumpamaan untuk menggambarkan kearifan lokal yang hidup di masyarakat, bukan larangan formal. Nilai-nilai ini, meski tidak tertulis, menurutnya, telah lama menjadi pedoman hidup bersama.
Dalam penjelasannya, Syarifuddin mengajak semua pihak untuk melihat persoalan ini dari sisi kewajiban dan hak yang seimbang. “Laut sekitar Pulau Subi memang bukan milik nenek moyang orang Subi. Namun, ketika terjadi musibah kecelakaan laut di perairan ini, yang paling berkewajiban membantu pertama kali adalah masyarakat dan nelayan Subi, karena lokasinya berada dalam wilayah teritorial mereka. Sebaliknya, jika masyarakat Subi enggan membantu dengan alasan laut itu milik provinsi atau pusat, tentu hal itu akan disesalkan,” ujarnya.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/batu-championship-2-sukses-digelar-tumbuhkan-sportivitas-dan-jaring-1-200-atlet-pencak-silat/
Pernyataan tersebut, menurutnya, ingin menegaskan prinsip resiprositas (saling memberi dan menerima). Di satu sisi, ada pengakuan atas kewajiban masyarakat lokal untuk membantu saat terjadi musibah. Di sisi lain, seharusnya ada pula pengakuan terhadap hak-hak yang melekat pada kewajiban tersebut, termasuk dalam hal pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Camat Syarifuddin menutup wawancara dengan pesan perdamaian dan semangat kebersamaan. Ia menegaskan bahwa masyarakat dan nelayan Subi tetap membuka tangan dan menghargai nelayan dari Ranai serta daerah lain di Natuna. “Yang penting, mari kita saling pengertian untuk kemaslahatan bersama sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi di masa yang akan datang,” tambahnya.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Insiden ini menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif dan penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya laut.Laut Natuna, dengan segala kekayaannya, adalah warisan bersama yang harus dikelola dengan prinsip keadilan, kelestarian, dan gotong royong. Dialog antarpemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan nelayan dari berbagai wilayah, perlu terus dibangun untuk mencegah kesalahpahaman dan memperkuat sinergi untuk kesejahteraan bersama di Bumi Melayu Lancang Kuning ini.
( Julita ).


Potret Camat Subi, Syarifuddin, menjelaskan soal kesalahpahaman dan kearifan lokal di perairan Natuna ( Foto : Julita ). 
