Puja Manusuk Shima Sangguran 2026, Semangat Pulangkan Prasasti Sangguran Asli ke Indonesia

Puja Manusuk Shima Sangguran ke-5, Menghidupkan Kembali Jejak Peradaban 1.098 Tahun dan Menguatkan Ikhtiar Repatriasi Prasasti Sangguran

Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Peringatan Puja Manusuk Shima Sangguran Kaping 5 yang bertepatan dengan Ambal Warsa Kaping 1098 Prasasti Sangguran pada 2 Agustus 2026 menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali identitas sejarah Kota Batu sebagai salah satu wilayah strategis dalam perjalanan peradaban Nusantara. Kegiatan yang berlangsung di kawasan Padepokan Sangguran, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga ruang refleksi sejarah, pendidikan kebangsaan, serta penguatan komitmen bersama dalam memperjuangkan pemulangan Prasasti Sangguran dari Skotlandia ke Indonesia.

Rangkaian kegiatan dihadiri oleh tokoh budaya, akademisi, pemerintah daerah, DPRD Provinsi Jawa Timur, Forkopimcam Junrejo, Pemerintah Desa Mojorejo, pegiat sejarah, serta masyarakat yang bersama-sama mengikuti ritual adat, doa bersama, hingga selamatan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kota Batu sebagai Simpul Awal Peradaban Jawa Timur

Pengampu Sanggar Sangguran ketika memberikan sambutan sambutanya.
Pengampu Sanggar Sangguran ketika memberikan sambutan sambutanya.

Pengampu Sanggar Sangguran, Siswanto Galuh Aji atau yang akrab disapa Cak Pentol, menegaskan bahwa keberadaan Prasasti Sangguran merupakan bukti autentik mengenai tingginya peradaban yang pernah berkembang di wilayah Kota Batu.

Menurutnya, penetapan kawasan Sangguran sebagai wilayah sima atau daerah istimewa bebas pajak menunjukkan bahwa daerah tersebut telah memiliki sistem pemerintahan, tata kelola ekonomi, serta kehidupan masyarakat yang maju.

“Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Kota Batu merupakan wilayah pilihan yang sejak dahulu memiliki sumber kehidupan yang kuat, mulai dari sektor pertanian, pandai besi hingga berbagai mata pencaharian lainnya. Status sima menunjukkan adanya kepercayaan kerajaan terhadap kawasan ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Prasasti Sangguran yang juga dikenal sebagai Prasasti Mananjung, menjadi salah satu penanda penting lahirnya fase baru pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno setelah berpindah dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur.

Menurutnya, perjalanan sejarah tersebut kemudian berkembang menjadi Kerajaan Medang, Kahuripan, Singhasari hingga Majapahit.

“Narasi sejarah Kota Batu tidak seharusnya berhenti pada masa Kanjuruhan maupun Singhasari. Batu memiliki mata rantai sejarah yang jauh lebih panjang dan memiliki posisi sangat penting dalam perjalanan peradaban Nusantara,” katanya.

Repatriasi Prasasti Menjadi Misi Bersama

Tampak ketika Prosesi Puja Manusuk Shima
Tampak ketika Prosesi Puja Manusuk Shima

Dalam kesempatan tersebut, Siswanto juga kembali menyampaikan harapan agar Prasasti Sangguran yang kini berada di Skotlandia dapat dipulangkan ke Indonesia.

Menurutnya, keberadaan prasasti di luar negeri bukan melalui mekanisme jual beli yang sah, melainkan merupakan bagian dari pengambilan artefak pada masa kolonial sehingga secara moral dan historis layak dikembalikan kepada bangsa Indonesia.

“Kami berharap pemerintah pusat, masyarakat internasional, hingga keluarga besar Lord Minto memiliki kebesaran hati untuk mengembalikan prasasti tersebut kepada Indonesia. Jika nantinya ditempatkan di Museum Nasional pun kami dapat menerimanya, yang terpenting prasasti itu kembali ke tanah air,” tegasnya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/labuni-bumiaji-gelar-wilujengan-agung-suran-perdana-wali-kota-batu-apresiasi-pelestarian-budaya/

Ia juga meluruskan pandangan yang berkembang mengenai adanya “kutukan” pada Prasasti Sangguran.

Menurutnya, isi prasasti justru memuat ajaran moral berupa sapatha (konsekuensi bagi pelanggaran) dan nugraha (anugerah bagi kebajikan), yang mencerminkan nilai etika pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat.

Bukti Transisi Besar Pemerintahan Nusantara

Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur ketika berada di kegiatan Sangguran.
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur ketika berada di kegiatan Sangguran.

Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, menjelaskan bahwa Prasasti Sangguran merupakan salah satu prasasti penting peninggalan pemerintahan Mpu Sindok yang menetapkan wilayah Sangguran sebagai kawasan sima untuk menopang pengelolaan tempat-tempat suci.

Ia menyebut, keberadaan lebih dari 18 prasasti Mpu Sindok di kawasan Malang Raya memperlihatkan bahwa wilayah tersebut menjadi titik penting dalam proses perpindahan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur.

“Kondisi alam, termasuk aktivitas gunung berapi, diduga menjadi salah satu faktor perpindahan pusat pemerintahan. Dari Mpu Sindok kemudian berlanjut kepada Dharmawangsa, Airlangga, Singhasari hingga Majapahit,” jelasnya.

Tampak Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur bersama sama, Forkopimcam,Di Sparta, Kemenag, Lembaga Adat, Dewan Kesenian Batu , Kepala Desa serta yang lainya.
Tampak Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur bersama sama, Forkopimcam,Di Sparta, Kemenag, Lembaga Adat, Dewan Kesenian Batu , Kepala Desa serta yang lainya.

Untari mengungkapkan bahwa upaya repatriasi sebenarnya telah diperjuangkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur selama beberapa tahun terakhir. Namun proses tersebut menghadapi berbagai tantangan, termasuk adanya informasi mengenai tuntutan biaya kompensasi perawatan artefak yang nilainya sangat besar.

Karena itu, replika Prasasti Sangguran yang dibuat masyarakat dinilai menjadi media edukasi yang sangat penting agar masyarakat tetap dapat mempelajari bentuk, aksara, dan kandungan sejarahnya.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang telah memiliki bahasa, aksara, dan tata pemerintahan sejak berabad-abad lalu. Kesadaran sejarah inilah yang harus terus kita bangun,” ujarnya.

Meluruskan Sejarah Mbah Karminah

Dalam pemaparan sejarah budaya, Siswanto juga meluruskan narasi mengenai sosok Mbah Karminah yang selama ini sering dipersepsikan sebagai penari ronggeng.

Tampak dengan khidmat prosesi Manusuk Shima dilakukan.
Tampak dengan khidmat prosesi Manusuk Shima dilakukan.

Menurutnya, Mbah Karminah atau Dewi Taramirah merupakan seorang pambegsa yang mendapat amanah mendampingi Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga yang memilih menjalani kehidupan spiritual.

Ia menegaskan bahwa berbagai gerakan tari yang diwariskan mengandung nilai-nilai filosofis dan spiritual untuk membimbing manusia menuju kehidupan yang luhur.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa kawasan Sangguran sejak masa lampau telah menjadi ruang berkumpul para guru dan tokoh bijaksana yang mengembangkan nilai-nilai lokal sebelum masuknya pengaruh Hindu dan Buddha.

Ia berharap punden-punden yang menjadi bagian dari warisan budaya tersebut terus direvitalisasi agar tidak lagi dipersepsikan secara keliru sebagai tempat mistis, melainkan sebagai ruang penghormatan terhadap leluhur dan pusat pendidikan nilai-nilai budaya.

Pemerintah Desa Tegaskan Komitmen Pelestarian

Kepala Desa Mojorejo ketika memberikan apresiasi atas kegiatan budaya Sangguran.
Kepala Desa Mojorejo ketika memberikan apresiasi atas kegiatan budaya Sangguran.

Kepala Desa Mojorejo, Rujito, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pegiat budaya yang secara konsisten menyelenggarakan Puja Manusuk Sima setiap tahun.

Menurutnya, meningkatnya partisipasi masyarakat menjadi indikator tumbuhnya kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga warisan budaya.

“Kegiatan ini bukan sekadar memperingati ulang tahun Prasasti Sangguran, tetapi juga menjadi ruang untuk menyebarkan energi positif, memperkuat identitas budaya, dan mendukung upaya pemulangan prasasti asli ke Indonesia,” ujarnya.

Tampak dari Lembaga Adat serta dari pemuka seluruh agama mengikuti serangkaian acaranya.
Tampak dari Lembaga Adat serta dari pemuka seluruh agama mengikuti serangkaian acaranya.

Rujito juga mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu pihaknya menerima kunjungan pakar asal Belanda yang menyampaikan adanya narasi di luar negeri bahwa masyarakat Kota Batu telah merasa cukup dengan keberadaan replika prasasti.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menegaskan bahwa replika hanyalah media edukasi. Harapan masyarakat tetap sama, yakni agar prasasti asli dapat kembali ke tanah air,” katanya.

Dukungan Pemerintah Daerah

Camat Junrejo juga mengapresiasi dengan adanya pelestarian budaya di Sangguran.
Camat Junrejo juga mengapresiasi dengan adanya pelestarian budaya di Sangguran.

Camat Junrejo, Parman, memberikan apresiasi atas semakin berkembangnya gerakan pelestarian budaya di wilayah Junrejo.

Menurutnya, berbagai kegiatan pelestarian sumber air, tradisi desa, hingga ritual budaya menunjukkan semakin kuatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, dan lingkungan.

Ia menyatakan pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa akan terus memperkuat dukungan melalui penataan kawasan, penyediaan fasilitas, termasuk pengembangan kawasan Sangguran sebagai destinasi budaya.

Kementerian Kebudayaan Berkomitmen

Tampak depan kanan pakai kacamata, Kadisparta Kota Batu, Ketua Umum Dewan Kesenian Kota Batu, serta Depag Kota Batu.
Tampak depan kanan pakai kacamata, Kadisparta Kota Batu, Ketua Umum Dewan Kesenian Kota Batu, serta Depag Kota Batu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, mengungkapkan bahwa perjuangan repatriasi Prasasti Sangguran kini telah memperoleh perhatian serius dari Kementerian Kebudayaan.

Menurutnya, Menteri Kebudayaan telah menyatakan komitmen untuk mengupayakan pengembalian Prasasti Sangguran ke Indonesia.

“Kementerian ingin melihat sejauh mana masyarakat Kota Batu menjaga dan melestarikan budaya yang dimiliki. Kegiatan hari ini menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki komitmen kuat terhadap warisan sejarah tersebut,” katanya.

Tarian yang dibawakan merupakan juga sebagai wujud uri uri budaya yang tetap dilestarikan.
Tarian yang dibawakan merupakan juga sebagai wujud uri uri budaya yang tetap dilestarikan.

Menanggapi isu adanya permintaan pembayaran dari pihak pemegang artefak di luar negeri, Onny menyatakan bahwa pemerintah pusat masih melakukan proses negosiasi.

“Berdasarkan informasi dari Kementerian, pemerintah berupaya agar proses repatriasi tidak memerlukan pembayaran karena Prasasti Sangguran merupakan bagian dari warisan budaya bangsa Indonesia,” ujarnya.

Selamatan sebagai Simbol Syukur

Setelah seluruh rangkaian sambutan dan prosesi adat selesai dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan dengan selamatan bersama melalui penyajian berbagai tumpeng sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berbagai macam tumpeng sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berbagai macam tumpeng sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pelestarian sejarah tidak hanya diwujudkan melalui kajian akademik, tetapi juga melalui penguatan nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta pewarisan budaya kepada generasi mendatang.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Peringatan Ambal Warsa Kaping 1098 Prasasti Sangguran menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi penting dalam membangun identitas bangsa, memperkuat karakter kebangsaan, serta menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu kepada Indonesia masa kini dan masa depan.

 

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

 

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *