Kirab Pamitan Poltekad Angkatan VII Transformasi Intelektual Militer dalam Menghadapi Peperangan Generasi Kelima
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Sebanyak 113 mahasiswa Program Diploma 4 Angkatan VII Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) menggelar Kirab Pamitan di Kota Batu pada Jumat, 17 Juli 2026. Parade yang dimulai dari Balai Kota Among Tani dan berakhir di Alun-Alun Kota Batu ini berlangsung semarak dengan iringan atraksi Drum Band Wikan Lokananta Poltekad. Namun, di balik kemeriahan prosesi yang menyedot perhatian warga itu, tersimpan narasi besar tentang transformasi sumber daya manusia pertahanan Indonesia yang tengah memasuki babak baru, dari kader akademik menjadi garda terdepan teknologi pertahanan di tengah perubahan paradigma ancaman global.
Tradisi tahunan ini dihadiri langsung oleh Komandan Poltekad, Brigjen TNI Dr. Indarto Kusnohadi, S.I.P., S.H., M.H., M.M., beserta jajaran pejabat distribusi Poltekad. Turut mendampingi, Pemerintah Kota Batu yang diwakili oleh Staf Ahli Wali Kota Batu Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, M. Agoes Mahmudi, S.Sos., M.AP. Kehadiran unsur pimpinan tertinggi institusi dan perwakilan eksekutif daerah ini mengonfirmasi bahwa Kirab Pamitan bukan sekadar seremoni wisuda, melainkan momentum pengakuan publik atas peran strategis Poltekad dalam ekosistem pendidikan nasional dan pertahanan negara.

Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Staf Ahli, M. Agoes Mahmudi, S.Sos., M.AP. Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi dan penghormatan yang mendalam kepada keluarga besar Poltekad. Beliau menegaskan bahwa kehadiran Poltekad di Kota Batu tidak hanya memperkuat identitas kota sebagai kawasan pendidikan, tetapi juga menghadirkan semangat disiplin, nasionalisme, dan pengabdian yang menjadi perekat sosial kemasyarakatan. “Kehadiran Poltekad bukan hanya memperkuat identitas Kota Batu sebagai kota pendidikan, tetapi juga menghadirkan semangat disiplin, nasionalisme, dan pengabdian bagi masyarakat,” ujarnya dalam amanat yang disampaikan.
Lebih jauh, Staf Ahli menyoroti dimensi filosofis dari tradisi Kirab Lokananta. Ia memaknai setiap langkah dalam kirab sebagai simbol perjalanan panjang dari masa pendidikan menuju masa pengabdian. Di balik setiap hentakan langkah, terdapat tekad untuk mengemban amanah sebagai prajurit yang menjunjung tinggi disiplin, loyalitas, integritas, serta pengabdian kepada bangsa dan negara. Amanat ini sekaligus menjadi pesan moral yang kuat kepada para mahasiswa bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Kepada 113 mahasiswa Angkatan VII yang akan dilepas, pemerintah kota menyampaikan ucapan selamat atas capaian akademik yang telah diraih. Keberhasilan menyelesaikan pendidikan di Poltekad dinilai sebagai buah dari kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah yang telah ditempa selama empat tahun. Namun, penekanan penting disampaikan agar para alumni senantiasa menjaga kehormatan almamater, memegang teguh nilai-nilai keprajuritan, serta menjadi pribadi yang profesional, berintegritas, dan dekat dengan rakyat. Sebab, kekuatan seorang prajurit tidak hanya diukur dari kemampuan teknisnya, tetapi juga dari keteladanan sikap dan pengabdiannya.

Dalam wawancara eksklusif usai kegiatan, Komandan Poltekad Brigjen TNI Dr. Indarto Kusnohadi memaparkan secara rinci capaian dan orientasi ke depan institusi yang dipimpinnya. Ia mengungkapkan bahwa Angkatan VII ini berjumlah 113 orang dan alhamdulillah seluruhnya dapat melaksanakan tugas belajar dengan baik, sehingga tingkat kelulusan mencapai 100 persen. Sebagian besar lulus dengan predikat pujian atau cum laude, sebagian lagi sangat memuaskan, dan tidak ada yang berada di bawah standar tersebut. Capaian ini menjadi indikator bahwa sistem pendidikan Poltekad mampu menghasilkan lulusan unggul secara konsisten.
Komandan Poltekad menjelaskan bahwa kelima program studi yang diampu oleh para lulusan Angkatan VII terdiri atas Otoranpur atau Otomotif Kendaraan Tempur, Terasenmil atau Teknik Senjata Militer, Elkasintal atau Elektronika Sistem Senjata, Teknik Telekomunikasi, serta Rekayasa Siber. Kelima bidang keilmuan ini secara sengaja dirancang untuk merespons kebutuhan alutsista modern dan sistem persenjataan yang semakin kompleks. Tidak berhenti di situ, Poltekad tahun ini juga akan membuka satu program studi baru yang sangat strategis, yaitu Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan. Selain program D4, Poltekad juga telah memiliki program Magister Operasi Darat untuk jenjang S2, yang memperkuat posisinya sebagai pusat keunggulan pendidikan vokasi dan pascasarjana di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Menyoal relevansi kurikulum dengan tantangan kekinian, Komandan Poltekad menyoroti perubahan fundamental dalam konsep peperangan. Ia menegaskan bahwa lulusan Poltekad tidak hanya dituntut berprestasi selama masa pendidikan, tetapi juga harus memiliki inovasi dan kesiapan operasional yang tinggi. “Kita tahu bahwa saat ini banyak sekali terjadi perubahan. Konsep peperangan saat ini sudah sangat berbeda dengan peperangan zaman dulu. Sekarang, peperangan lebih banyak menggunakan teknik, dan ancamannya pun bukan lagi ancaman konvensional,” ujarnya dengan tegas.
Komandan Poltekad memaparkan bahwa ancaman kontemporer lebih banyak berupa proxy war, dan kalaupun menggunakan senjata, pihak lawan telah menggunakan drone, roket, serta instrumen-instrumen yang bersifat digital. Oleh karena itu, ilmu-ilmu dasar yang telah dikuasai oleh para mahasiswa sesuai dengan program studi masing-masing diharapkan dapat dikembangkan dan diaktualisasikan di satuan tempat mereka bertugas. Kelulusan ini, menurutnya, barulah langkah awal bagi mereka untuk membuka jendela dunia. Jalannya tugas dan karier yang sesungguhnya akan ditentukan di satuan masing-masing, di mana inovasi dan dedikasi akan diuji secara langsung.

Terkait jenjang karier, Komandan Poltekad menjelaskan bahwa dalam struktur militer dikenal tingkatan Bintara, Tamtama, dan Perwira. Para mahasiswa Poltekad pada dasarnya adalah Bintara-Bintara pilihan yang disaring dari ribuan kandidat untuk menempuh pendidikan di institusi ini. Harapannya, mereka terus berusaha menambah ilmu dan meningkatkan profesionalisme, terutama di bidang yang dikuasai. Di sisi lain, harus ada timbal balik dari institusi berupa jenjang karier yang memadai. Dengan menyandang gelar sarjana dan kualifikasi setara perwira, kualitas ilmu mereka sudah tidak perlu diragukan lagi setelah melalui berbagai macam penempaan akademik dan fisik.
Keunggulan kompetitif pendidikan di Poltekad juga terletak pada kolaborasi akademiknya. Komandan Poltekad mengungkapkan bahwa dosen pengajar di sini bukan hanya berasal dari internal institusi, melainkan hasil kolaborasi strategis dengan berbagai universitas teknik terkemuka di tanah air, seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Institut Teknologi Bandung. Sinergi ini memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan tetap mutakhir, berbasis riset, dan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global.


Pemerintah Kota Batu, melalui perwakilannya, menutup rangkaian acara dengan menyampaikan terima kasih atas sinergi yang selama ini terjalin bersama Poltekad. Hubungan baik ini diharapkan terus terpelihara dan semakin kuat dalam mendukung pembangunan daerah sekaligus memperkokoh semangat kebangsaan. Kepada seluruh mahasiswa Diploma 4 Angkatan VII, disampaikan ucapan selamat menempuh pengabdian. Semoga langkah yang diawali dari Kota Batu menjadi awal perjalanan yang membangun bagi TNI Angkatan Darat, bangsa, dan negara.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kirab Pamitan kali ini bukanlah sekadar penutup rangkaian pendidikan, melainkan penegasan bahwa Poltekad telah menjelma menjadi institusi yang adaptif, visioner, dan relevan dengan dinamika strategis abad ke-21. Dengan terus membuka program studi baru yang berbasis teknologi mutakhir dan memperkuat kolaborasi dengan dunia akademik sipil, Poltekad menunjukkan komitmennya untuk tidak sekadar mencetak prajurit, tetapi melahirkan intelektual militer yang mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah lanskap ancaman yang semakin cair dan kompleks.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.



