Okupansi Hotel Kota Batu Tembus 90 Persen Saat Liburan Sekolah 2026, PHRI Optimistis Pariwisata Terus Bertumbuh
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Sektor pariwisata Kota Batu kembali menunjukkan performa positif pada momentum liburan sekolah 2026. Di tengah tantangan perlambatan daya beli masyarakat, tingkat okupansi hotel Kota Batu berhasil mencapai sekitar 90 persen pada puncak musim liburan awal Juli. Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa Kota Batu masih menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur yang mampu menarik minat wisatawan dari berbagai daerah.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI Kota Batu), Sujud Hariadi, S.E., mengatakan tingkat hunian hotel mencapai puncaknya pada malam Minggu, 5 Juli 2026. Angka tersebut bahkan sedikit lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus memberikan optimisme bagi pelaku usaha hotel di Kota Batu untuk menghadapi musim wisata berikutnya.

“Okupansi pada malam Minggu kemarin rata-rata mencapai 90 persen. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik sekaligus menjadi tantangan bagi kami untuk mempertahankan tingkat hunian di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih,” ujar Sujud.
Menurutnya, tingginya tingkat okupansi menunjukkan bahwa daya tarik wisata Kota Batu masih sangat kuat. Beragam destinasi wisata alam, taman rekreasi, wisata edukasi, hingga kuliner menjadi alasan utama wisatawan memilih Kota Batu sebagai tujuan berlibur bersama keluarga selama musim liburan sekolah.
Meski demikian, Sujud mengakui bahwa industri perhotelan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah melalui APBN maupun APBD yang berdampak pada menurunnya kegiatan pemerintahan di hotel.
Selama ini, berbagai agenda seperti rapat koordinasi, pelatihan, seminar, hingga kegiatan berbasis Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi industri perhotelan. Ketika belanja pemerintah mengalami penyesuaian, otomatis permintaan terhadap ruang pertemuan dan akomodasi hotel ikut menurun.
Tidak hanya itu, berkurangnya proyek pembangunan pemerintah juga memberikan efek lanjutan terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Menurunnya aktivitas pembangunan berdampak pada berkurangnya lapangan pekerjaan di sejumlah sektor, sehingga daya beli masyarakat ikut terkoreksi, termasuk untuk kebutuhan perjalanan wisata.
“Ketika belanja pemerintah menurun, otomatis belanja masyarakat juga ikut menurun karena aktivitas ekonomi di sektor pembangunan berkurang. Hal tersebut tentu berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat untuk berwisata,” jelasnya.
Menghadapi situasi tersebut, pelaku hotel di Kota Batu melakukan berbagai penyesuaian strategi bisnis. Jika sebelumnya pasar korporasi dan instansi pemerintah menjadi salah satu penyumbang utama tingkat hunian hotel, kini fokus pemasaran lebih diarahkan kepada wisatawan keluarga atau leisure traveler yang datang secara mandiri.
Strategi tersebut dinilai cukup efektif mengingat karakteristik pariwisata Kota Batu memang didominasi wisata keluarga. Kota Batu memiliki berbagai destinasi unggulan yang mampu menarik wisatawan sepanjang tahun, mulai dari wisata alam, taman hiburan, wisata edukasi, hingga sentra kuliner dan agrowisata.
Untuk meningkatkan daya tarik kunjungan, PHRI Kota Batu bersama pelaku industri pariwisata menghadirkan berbagai program promosi yang memberikan nilai tambah bagi wisatawan. Salah satu inovasi yang mendapat respons positif adalah program bundling, yaitu paket menginap di hotel yang dipadukan dengan tiket masuk objek wisata.
Program tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan Jatim Park Group sehingga wisatawan dapat menikmati harga yang lebih ekonomis dibandingkan membeli hotel dan tiket wisata secara terpisah. Selain memberikan keuntungan bagi wisatawan, skema tersebut juga terbukti membantu meningkatkan okupansi hotel Kota Batu selama musim liburan.
Selain menghadirkan paket bundling, PHRI juga memperluas promosi melalui berbagai saluran pemasaran, baik secara digital maupun tatap muka. Berbagai kegiatan seperti table top, pameran pariwisata, serta promosi langsung ke sejumlah kota potensial, seperti Medan dan Yogyakarta, terus dilakukan guna memperluas pangsa pasar wisatawan domestik.
Menurut Sujud, hotel-hotel berbintang, khususnya kategori bintang empat dan lima, juga semakin aktif melakukan pemasaran langsung kepada calon pelanggan maupun mitra usaha agar tingkat hunian tetap terjaga sepanjang tahun, tidak hanya bergantung pada musim liburan.
“Kami terus melakukan promosi secara daring maupun luring. Harapannya, wisatawan tidak hanya datang saat musim liburan sekolah, tetapi juga pada akhir pekan maupun musim liburan lainnya,” katanya.
Sebagai upaya menjaga momentum pertumbuhan pariwisata Kota Batu, PHRI juga tengah mempersiapkan penyelenggaraan Batu Street Food Festival (BSFF) yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan September 2026. Festival tersebut diharapkan menjadi magnet baru yang mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperkuat citra Kota Batu sebagai destinasi wisata kuliner.
Sujud berharap Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata terus memperkuat strategi promosi dan pemasaran destinasi secara berkelanjutan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, pengelola destinasi wisata, serta masyarakat menjadi kunci penting untuk menjaga daya saing pariwisata Kota Batu di tengah persaingan antardaerah yang semakin kompetitif.
Ia juga menilai bahwa wisatawan yang menginap memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan wisatawan yang hanya melakukan kunjungan singkat atau one day trip. Semakin lama wisatawan berada di Kota Batu, semakin besar pula peluang mereka membelanjakan uangnya untuk kuliner, oleh-oleh, transportasi lokal, hingga produk UMKM yang pada akhirnya akan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Saat ini terdapat sekitar 80 hotel di Kota Batu, dengan 66 hotel di antaranya tercatat sebagai anggota resmi PHRI Kota Batu. Secara keseluruhan, organisasi tersebut menaungi lebih dari 100 anggota yang terdiri atas hotel, restoran, destinasi wisata, jasa katering, hingga institusi pendidikan pariwisata. Dengan kolaborasi yang terus diperkuat antara pemerintah dan pelaku industri, prospek pariwisata Kota Batu diyakini tetap menjanjikan dan mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




