Pentas Seni “Trenggana Sumapala” di Mikutopia Harmoni antara Hiburan dan Pelestarian Budaya
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Liburan sekolah tahun 2026 menjadi momen istimewa bagi pengunjung Mikutopia, destinasi wisata edukasi dan rekreasi di Kota Batu, Jawa Timur. Pada tanggal 27 Juni serta 2 dan 3 Juli, Amphitheater Outdoor Mikutopia bergema dengan sajian seni budaya yang memukau melalui paket wisata budaya bertajuk “Trenggana Sumapala” yang digagas oleh Karsa Budaya Nuswantara Padepokan Gunung Ukir.
Agus, selaku ketua Karsa Budaya Nuswantara, menjelaskan bahwa pertunjukan ini tidak sekadar menghibur, melainkan mengemban misi pelestarian budaya.

“Pada tampilan kali ini kami mengusung tema ‘Trenggana Sumapala’ dengan konsep journey of wonderland yang memadukan keajaiban budaya Nusantara,” ungkapnya. Konsep ini menjadi jembatan antara dunia fantasi khas Mikutopia dengan kekayaan warisan budaya Indonesia.
Yang membanggakan, pertunjukan ini tetap mempertahankan akar budaya Kota Batu. Tiga kesenian khas yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia—yaitu jaran kepang, bantengan, dan sandukan—tampil dengan megah. Hal ini menjadi upaya nyata untuk memperkenalkan identitas budaya Kota Batu kepada wisatawan yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.

Mikutopia menggandeng sanggar Karsa Budaya sebagai mitra pengisi pementasan reguler. Kolaborasi ini menghadirkan pertunjukan yang tidak sekadar tontonan, melainkan pengalaman interaktif yang melibatkan penonton secara langsung. Ciri khas inilah yang menjadi pembeda utama dan magnet tersendiri bagi pengunjung.
Tiga sesi penampilan disuguhkan dengan komposisi yang apik. Sesi pertama mengangkat tema Bali dengan tari Kecak, Leak, dan Janger. Sesi kedua memadukan Reog Ponorogo dengan kesenian lokal seperti jaran kepang dan bantengan. Sesi puncak menjadi grand final dengan menampilkan seluruh unsur kesenian—dari Topeng Malangan, Reog, jaran kepang, hingga atraksi Barong Sembur Geni yang menjadi daya tarik utama.

Tribun penonton berkapasitas 800 orang selalu terisi penuh dalam setiap sesi dari total tiga penampilan yang disajikan. Sebelum acara inti dimulai pukul 14.00 WIB, suasana sudah digebrak sejak pukul 13.45 WIB dengan permainan gamelan minimalis dan simulasi atraksi sembur geni.

Efa, wisatawan asal Jakarta, memberikan apresiasi terhadap pertunjukan tersebut. “Melihat budaya yang ditampilkan sangat menarik dan bagus, tetapi kalau bisa untuk lebih dikreasikan dengan sentuhan milenial,” sarannya, membuka ruang dialog tentang inovasi budaya di tengah arus modernisasi.

Adi Kurniawan sekeluarga dari Gresik mengungkapkan kegembiraannya. “Kami baru pertama kali melihat pertunjukan seperti ini, apalagi melihat leak menyemburkan api secara langsung. Sangat menyenangkan sekali,” ujarnya dengan riang. Ia berharap kesenian budaya seperti ini tetap lestari agar anak-anak mendapatkan edukasi kebudayaan yang berharga.

Sementara itu, Aji Trimanto sekeluarga dari Kota Blitar yang baru pertama kali berkunjung ke Mikutopia mengaku terpesona dengan corak warna-warni dan ikon bangunan jamur khas destinasi ini. “Setelah menikmati wahana, saya terhibur dengan penampilan seni budaya di Amphitheater, sehingga ingin berlama-lama melihatnya. Kalau bisa waktunya diperpanjang,” harapnya.
Briyan, selaku perwakilan manajemen Mikutopia, menyampaikan apresiasi dan komitmennya. “Kesenian budaya yang kami sajikan masih penuh dengan kekurangan. Tahun depan atau pada event-event mendatang, kami berkomitmen untuk lebih menyempurnakan kembali,” ujarnya.


Ia juga menyampaikan terima kasih atas respons positif wisatawan. “Harapan kami Mikutopia bisa berkomitmen lebih jauh tentang kearifan lokal dan budaya yang dapat berkolaborasi dengan pariwisata. Pada even kali ini ada banyak koreksi dan evaluasi, dan ke depannya kami akan berusaha lebih baik lagi,” tambahnya.
Karsa Budaya Nuswantara Padepokan Gunung Ukir juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Mikutopia atas kesempatan yang diberikan kepada seniman Kota Batu untuk tampil di tempat wisata sekelas Mikutopia yang pengunjungnya berasal dari berbagai daerah se-Indonesia.


Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Pertunjukan “Trenggana Sumapala” menjadi bukti bahwa pariwisata dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Melalui pengemasan yang atraktif dan edukatif, warisan budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran bagi generasi muda. Semoga kolaborasi ini menjadi tonggak awal kebangkitan kesenian tradisional di tengah industri pariwisata modern, melestarikan identitas bangsa untuk masa depan yang lebih cerah.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




