Kirab Tumpeng dan Budaya Refleksi Gotong Royong dan Harmoni Sosial di Desa Sumber Brantas
Batu, Sumber Brantas, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Dalam sebuah manifestasi kearifan lokal yang sarat makna, Pemerintah Desa Sumber Brantas baru-baru ini menyelenggarakan gelaran Kirab Tumpeng sekaligus Kirab Budaya. Acara yang berlangsung dengan khidmat dan meriah ini bukan sekadar pesta rakyat semata, melainkan cerminan dari upaya kolektif untuk memperkuat kohesi sosial serta melestarikan nilai-nilai adiluhung di tengah arus modernisasi.
Selaku Ketua Panitia Pelaksana, H. Misto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa agenda tahunan ini merupakan wujud syukur masyarakat atas berkah dan keselamatan yang telah dilimpahkan. Meskipun secara tematik tidak dirancang dengan tajuk khusus, H. Misto menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah “selamatan desa” sebuah tradisi turun-temurun yang merepresentasikan ikatan batin warga terhadap alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Sementara itu, Kepala Desa Sumber Brantas, Saniman, turut memberikan pandangannya mengenai signifikansi acara tersebut. Dalam sesi tanya jawab dengan awak media, ketika ditanya tentang harapan ke depan bagi warga desa, Saniman dengan lugas menyampaikan aspirasi kolektif masyarakat.
“Harapannya supaya warga selalu guyub rukun, dan desa ini dijauhkan dari segala macam musibah atau bala,” ujarnya. Ia pun mengutip falsafah Jawa yang agung, berharap agar desa ini senantiasa “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja”sebuah idealitas yang bermakna makmur, subur, aman, damai, dan sejahtera lahir batin.

Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi aktif berbagai elemen warga. Ketika ditanya mengenai jumlah peserta, Saniman menjelaskan bahwa Kirab Tumpeng dan Kirab Budaya ini diikuti oleh seluruh Rukun Warga (RW) yang ada di wilayah administratif desa. “Total ada 6 RW yang berpartisipasi, ditambah dengan berbagai kesenian lokal. Untuk kelompok seni budayanya sendiri, total ada 11 kelompok yang terlibat,” ungkapnya.
Partisipasi lintas RW ini menandakan bahwa semangat kebersamaan masih tertanam kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, di mana setiap lapisan warga berkolaborasi untuk mempersembahkan karya budaya terbaik mereka.

Lebih lanjut, Kepala Desa memaparkan bahwa secara geografis dan administratif, Desa Sumber Brantas terbagi menjadi tiga wilayah dusun, yaitu Dusun Lemah Putih, Dusun Krajan, dan Dusun Jurang Kwali. Keberagaman yang tersebar di tiga kawasan tersebut justru menjadi modal sosial yang berharga dalam menciptakan simfoni budaya yang harmonis, sebagaimana yang tersaji dalam panggung kirab kali ini.
Kehadiran berbagai kelompok kesenian lokal mulai dari seni karawitan, reog, jaran kepang, hingga tari-tarian tradisional menjadi daya tarik tersendiri yang tidak hanya menghibur, namun juga mendidik generasi muda akan kekayaan budaya Nusantara. Kirab Tumpeng sendiri, yang menjadi pusat prosesi, memiliki filosofi mendalam sebagai simbol harapan akan kemakmuran dan rasa syukur. Tumpeng yang menjulang tinggi diibaratkan sebagai cita-cita luhur, sementara lauk-pauk yang mengelilinginya melambangkan keragaman dan saling melengkapi antar elemen masyarakat.
Acara seperti ini memiliki nilai strategis dalam membangun karakter bangsa. Pertama, ia berfungsi sebagai media pendidikan non-formal tentang gotong royong. Proses persiapan yang melibatkan berbagai komponen masyarakat mengajarkan nilai kerja sama tanpa memandang latar belakang sosial.

Kedua, tradisi ini menjadi penjaga ingatan kolektif (collective memory) bahwa kebudayaan bukanlah artefak mati, melainkan entitas hidup yang terus berkembang seirama dengan zaman, namun tetap berpegang pada akar etik dan estetiknya. Ketiga, perayaan serupa mampu menjadi katarsis sosial, yaitu pelepasan ketegangan psikologis kolektif melalui ritual dan hiburan, yang pada gilirannya memperkokoh ketahanan mental masyarakat terhadap tekanan kehidupan modern.
Harapan yang disampaikan oleh Kepala Desa Saniman agar desa terhindar dari “segala macam musibah” juga mencerminkan kearifan lokal dalam mengelola risiko. Dalam konteks kehidupan agraria dan pedesaan, ritual selamatan berfungsi sebagai bentuk adaptasi terhadap ketidakpastian alam.
Di era kontemporer, pemaknaan ini dapat diperluas tidak hanya pada bencana alam, tetapi juga pada ancaman disintegrasi sosial dan degradasi moral. Oleh karena itu, penyelenggaraan Kirab Budaya memiliki relevansi yang tinggi sebagai alat pemersatu yang efektif.

Dengan demikian, Kirab Tumpeng dan Kirab Budaya di Desa Sumber Brantas bukanlah sekadar seremonial tahunan. Ia adalah pernyataan tegas bahwa di tengah derasnya informasi global dan individualisme, masyarakat Indonesia khususnya di pedesaan masih memegang teguh prinsip “srawung” (kebersamaan) dan “rukun”.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Jika nilai-nilai ini dirawat dengan baik, bukan hal mustahil bahwa cita-cita “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja” akan menjadi realitas yang terwujud, bukan hanya sebagai untaian kata dalam pepatah, melainkan sebagai pengalaman hidup sehari-hari bagi seluruh lapisan masyarakat Desa Sumber Brantas dan Indonesia pada umumnya.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




