Murak Tumpeng Hasil Bumi Harmoni Syukur dan Warisan Leluhur Desa Bumiaji
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Ribuan masyarakat memadati halaman Gelora Arjuno Desa Bumiaji dalam gelaran tahunan Murak Tumpeng Hasil Bumi, sebuah tradisi sakral yang menjadi magnet budaya sekaligus simbol syukur atas kelimpahan alam. Kegiatan yang merupakan puncak rangkaian Selamatan Desa ini mengusung tema “Hametri Bumi Kang Aji”, yang bermakna menjaga, merawat, dan melestarikan Bumiaji sebagai warisan luhur bagi generasi mendatang .
Sebanyak 12 gunungan tumpeng raksasa yang dihias dengan aneka sayuran, buah-buahan, pala pendem, hingga jajanan pasar diarak dari Tlogorejo menuju Lapangan Gelora Arjuno . Setiap RW di Desa Bumiaji berpartisipasi dengan penuh kreativitas, bahkan RW 09 menampilkan tumpeng berbentuk naga raksasa, dalam kepercayaan Jawa, naga dipercaya sebagai simbol pelindung bumi .

Kepala Desa Bumiaji, Edy Suyanto, menjelaskan bahwa istilah “Murak Berkat” mengandung makna filosofis yang mendalam. Nilai berbagi, memberi, dan memiliki antar sesama makhluk sosial. Berkat yang dibagikan diyakini sebagai berkah dari Allah SWT melalui hasil pertanian yang dapat dirasakan oleh seluruh warga .
Desa Bumiaji memiliki posisi istimewa sebagai cikal bakal Kota Batu. Berusia hampir dua abad, desa ini memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Songgoriti dan tokoh-tokoh penyebar ajaran spiritual masa lalu . Identitas sejarah ini terus dijaga melalui pelestarian busana khas berupa udeng dan pakaian tradisional yang merujuk pada foto-foto kepala desa zaman sebelum kemerdekaan .

Kesenian tradisional seperti Tayub, Jaran Kepang, dan Gembung terus dihidupkan untuk menjaga warisan leluhur. Tradisi yang telah berjalan rutin selama lima tahun terakhir ini berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang mendatangkan wisatawan sekaligus menggairahkan sektor UMKM lokal .

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya acara ini. “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan hari ini, masyarakat Bumiaji menjadi masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, tata tentram, rezekinya berkah dan barokah, hasil tanamannya bagus, harga jualnya mahal,” ujarnya . Dengan nada ringan, ia menambahkan harapan agar “utang-utangnya lunas semua,” sebuah doa yang mencerminkan aspirasi sederhana namun mendalam bagi kesejahteraan petani .


Kemeriahan kirab hasil bumi menjadi awal dari rangkaian ritual sakral. Malam puncak selamatan desa dilanjutkan dengan prosesi “Ider Dunga”, berupa jalan kaki mengelilingi batas desa dan ziarah ke makam-makam leluhur penemu wilayah Desa Bumiaji, mulai dari makam Mbah Batu hingga Dusun Mberu untuk menyambangi makam Mbah Karyo dan Mbah Rondo Kuning .
Para peserta ritual ini menjalani “Puasa Bisu” sebagai upaya menyelaraskan pikiran, ucapan, dan perilaku—sebuah laku spiritual yang mencerminkan kesadaran manusia Jawa akan hubungan harmonis antara jagad cilik (dunia manusia) dan jagad gedhe (alam semesta) .


Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cerminan kearifan lokal yang mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan akar budaya sebuah pesan yang relevan di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




