Sumber Mata Air Terancam, Warga Sabrang Bendo Desak Realisasi Janji yang Mandek

Warga Sabrang Bendo Desak Realisasi Janji yang terhenti. ( Foto : ilustrasi ).

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Gelombang kekecewaan memuncak di Dusun Sabrang Bendo, Desa Giripurno, Kota Batu. Puluhan warga turun ke jalan dalam aksi damai menuntut realisasi 14 poin kesepakatan yang sebelumnya telah ditandatangani bersama Wali Kota Batu pada 31 Desember lalu.

Aksi ini bukan tanpa alasan. Hingga lebih dari tiga bulan berlalu, warga menilai belum ada langkah konkret dari pihak terkait, khususnya yayasan yang menjadi bagian dari kesepakatan tersebut. Kondisi ini memicu keresahan, terutama karena menyangkut keberlangsungan sumber mata air yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.

Aksi damai warga Sabrang bendo Desa Giripurno ketika di Depan Kantor Desa Giripurno.
Aksi damai warga Sabrang bendo Desa Giripurno ketika di Depan Kantor Desa Giripurno.

Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, perwakilan warga menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar aksi spontan, melainkan bentuk tuntutan atas komitmen yang belum ditepati.

“Kami datang bukan tanpa dasar. Ada 14 poin kesepakatan yang sudah ditandatangani bersama. Namun hingga hari ini, belum ada realisasi yang jelas,” tegas salah satu orator di tengah massa aksi.( 28/04/2026 ). 

Warga juga menyoroti minimnya komunikasi dari pihak yayasan maupun pemangku kebijakan lainnya. Mereka merasa tidak mendapatkan transparansi terkait perkembangan pelaksanaan kesepakatan tersebut.

Meski demikian, aksi berlangsung tertib. Warga secara sadar memilih tidak mengerahkan massa secara penuh sebagai bentuk penghormatan terhadap stabilitas keamanan di Kota Batu yang dikenal sebagai kota wisata.

“Kami tetap menjaga kondusivitas. Tapi jangan sampai kesabaran ini dianggap sebagai kelemahan,” lanjut orator tersebut.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/konflik-sumber-mata-air-giripurno-warga-desak-penutupan-sumur-bor-ylpi-al-hikmah-batu/

Dukungan terhadap aksi warga juga datang dari tokoh setempat. Bapak Suntoro menyatakan bahwa tuntutan warga adalah hal yang wajar, mengingat batas waktu kesepakatan telah terlampaui tanpa kejelasan.

“Saya mendukung penuh apa yang dilakukan warga hari ini. Ini sesuai dengan berita acara yang telah disepakati sebelumnya. Namun memang hingga saat ini belum ada perkembangan nyata,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pihak Pemerintah Desa masih menunggu komunikasi resmi dari yayasan terkait pelaksanaan 14 tuntutan warga. Hingga kini, belum ada laporan yang disampaikan secara formal.

“Seharusnya ada komunikasi yang jelas kepada pemerintah desa untuk diteruskan kepada masyarakat. Tapi hal itu belum berjalan,” tambahnya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/restorasi-sumber-mata-air-samin-pulihkan-debit-air-dan-ketahanan-pangan-di-giripurno/

Sementara itu, Pemerintah Desa Giripurno turut memberikan apresiasi atas kepedulian warga dalam menjaga sumber daya alam, khususnya sumber mata air di wilayah mereka. Dalam sambutannya, pihak desa menegaskan komitmennya untuk mendampingi warga dalam menyampaikan aspirasi.

“Kami berterima kasih atas partisipasi warga. Ini adalah bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bersama. Kami akan mendampingi warga menuju kantor kecamatan untuk menyampaikan tuntutan secara langsung,” ujar kepala desa.

Aksi ini kemudian berlanjut dengan rencana keberangkatan warga menuju Pendopo Kecamatan Bumiaji. Tujuannya jelas, yakni meminta kejelasan dan mendorong percepatan realisasi seluruh poin kesepakatan yang telah disepakati bersama.

Di sisi lain, dalam orasi yang lebih kritis, sejumlah warga juga menyuarakan kekecewaan terhadap kinerja pemerintah yang dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan yang sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, ada yang menyebut masalah ini telah berlarut hingga bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang konkret.

Meski diwarnai nada kritik, inti tuntutan warga tetap sama, yaitu perlindungan terhadap sumber mata air serta kepastian hukum atas kesepakatan yang telah dibuat.

Bagi warga Sabrang Bendo, sumber mata air bukan sekadar sumber daya alam, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, mereka berharap aksi ini menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih serius dalam menindaklanjuti komitmen yang telah disepakati.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Aksi damai ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kepercayaan masyarakat adalah hal yang harus dijaga. Transparansi, komunikasi, dan realisasi nyata menjadi kunci utama agar tidak terjadi konflik berkepanjangan di tengah masyarakat.

Kini, warga menunggu langkah konkret dari pihak terkait. Apakah 14 poin kesepakatan tersebut akan segera direalisasikan, atau justru kembali menjadi janji yang tertunda?

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup