Restorasi Sumber Mata Air Samin Dimulai, Pulihkan Debit Air dan Ketahanan Pangan di Giripurno
Giripurno, Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Sebuah aksi nyata kolaboratif untuk memulihkan keseimbangan alam dan menjamin keberlanjutan sumber daya air akhirnya bergulir di Desa Giripurno. Berangkat dari kesepakatan dalam rapat koordinasi pada 8 Oktober 2025, restorasi Sumber Mata Air Samin resmi dimulai pada Kamis, 9 Oktober 2025. Lokasi sumber air yang berada di area Yayasan Ponpes Al-Hikmah ini menjadi fokus pemulihan untuk mengembalikan fungsi ekologis dan sosialnya.
Kegiatan simbolis ini dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat, mencerminkan semangat gotong royong yang kuat. Tampak hadir Kepala Desa Giripurno Suntoro, Pengurus Yayasan Al-Hikmah (Pak Yus), Ketua RW 08 Muslikin Handoko, perangkat keamanan (Babinsa dan Bhabinkamtibmas), serta perwakilan dari BPD dan Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN).

Kepala Desa Giripurno, Suntoro, menegaskan bahwa ini adalah implementasi dari kesepakatan bersama. “Keinginan Masyarakat Dusun Sabrang Bendo adalah agar kelancaran air Sumber Mata Air Samin dikembalikan seperti semula,” ujarnya. Langkah ini merupakan antisipasi terhadap penurunan debit air yang diduga akibat eksploitasi air tanah berlebihan, termasuk adanya sumur bor di area tersebut.
Langkah konkret pertama adalah membongkar pembatas atau cor yang menghalangi aliran. Tujuannya jelas untuk mengaktifkan kembali saluran irigasi yang menjadi nadi bagi persawahan dan permukiman warga.

Perwakilan Yayasan Al-Hikmah, Pak Yus, menyatakan komitmen penuh untuk kolaborasi berkelanjutan. “Ini baru tahap awal. Akan ada tahap selanjutnya yang tentu didasarkan pada kesepakatan kembali dengan warga masyarakat,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan akan berlanjut dengan perencanaan yang lebih komprehensif.
Senada dengan itu, Ketua RW 08, Muslikin Handoko, menekankan pentingnya fondasi awal. “Pembersihan area sumber air dari dinding cor adalah langkah pertama yang terpenting,” jelas Muslikin.

Restorasi ini tidak hanya dipandang sebagai proyek fisik. Robiyan dari PPBN memberikan perspektif filosofis yang dalam. Ia menyebut menyusutnya Sumber Samin sebagai “alarm” atau peringatan keras dari alam.
“Dalam filosofi leluhur, mata air yang mati adalah pertanda bahwa keseimbangan alam di sekitarnya telah terganggu,” ujar Robiyan. Pandangan ini mengingatkan semua pihak bahwa masalahnya lebih luas, bisa berupa perubahan tata guna lahan, berkurangnya daerah resapan, atau eksploitasi air tanah yang berlebihan.

Aksi restorasi ini memiliki relevansi kuat dengan program pemerintah. Robiyan menambahkan, “Menghidupkan kembali sumber mata air ini sejalan dengan program Asta Cita Presiden dan Nawa Cita Wali Kota Batu, khususnya pada poin Ketahanan Pangan dan Pertanian.”
Air adalah tulang punggung ketahanan pangan. Dengan memulihkan Sumber Mata Air Samin, Desa Giripurno tidak hanya menjaga kearifan lokal tetapi juga langsung mendukung upaya pemerintah dalam menjamin ketersediaan air untuk pertanian.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Restorasi tahap awal Sumber Mata Air Samin menjadi bukti nyata bahwa dialog dan kolaborasi multipihak dapat melahirkan solusi. Inisiatif ini mengajarkan pendekatan holistik, yang melihat air sebagai elemen vital penghubung ekologi, sosial, budaya, dan ekonomi.
Keberhasilan tahap pertama ini diharapkan menjadi pemantik semangat untuk tahap pemulihan berikutnya, menjadikan Sumber Mata Air Samin kembali sebagai simbol kehidupan dan keseimbangan bagi seluruh warga Giripurno.
( Ria ).


Warga Desa Giripurno dan perwakilan Yayasan Al-Hikmah bersama-sama membongkar dinding cor pembatas di area Sumber Mata Air Samin ( Foto.: istimewa ). 
