Takoyaki by Oriza Warnai Nala Festival, Bukti Kreativitas UMKM yang Bertahan Sejak 2015
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Aroma harum menggoda langsung menyambut pengunjung yang mendekati salah satu stan paling ramai di Nala Festival. Di sana, bola-bola kecil kecokelatan sedang dengan lincah dibalik dalam cetakan khusus, diisi, diberi topping, dan disajikan hangat. Itulah Takoyaki by Oriza, salah satu produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berhasil menyita perhatian.( 29/12/2025 )
Takoyaki, jajanan klasik asal Jepang yang berarti “gurita panggang”, memang telah beradaptasi dengan selera lokal. Novi Hidayana, pemilik brand tersebut, dengan cermat menjelaskan keunikan produknya. “Adonannya dari tepung terigu, telur, dashi (kaldu ikan Jepang), dan air. Untuk isian, kami menawarkan variasi seperti sosis, crabstick, chikuwa, atau keju sesuai permintaan customer, meski aslinya menggunakan potongan gurita rebus atau tako,” ujarnya sambil menunjuk topping yang melengkapi sajian: saus takoyaki spesial, mayones, dan taburan katsuobushi (serutan ikan cakalang) yang menari-nari karena panas.


Kisah Takoyaki by Oriza bukan sekadar tentang satu event. Ini adalah cerita tentang ketahanan dan adaptasi. Novi mengungkapkan, bisnis ini telah berproduksi sejak tahun 2015, mengawali perjalanannya di Kota Depok. “Kemudian, sejak tahun 2020, kami berlanjut dan berkembang di Kota Batu,” tuturnya. Kepindahan ini menandakan babak baru sekaligus strategi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Di stan festival, Takoyaki by Oriza tidak sendirian. Novi memperkenalkan beragam varian produk lain yang turut disuguhkan, menunjukkan diversifikasi yang matang. “Produk yang kami hadirkan antara lain Bite MiE (mie nyemek) setengah basah, donat krispi, kkaebaegi (donat khas Korea), tiramisu, aneka bakery, dan kue kering seperti Nastar gulung,” paparnya. Diversifikasi ini bukan tanpa alasan. “Hampir semua produk ini adalah produk unggulan kami karena paling sering dipesan oleh pelanggan,” tambah Novi.

Kehadiran di festival seperti Nala Festival adalah bagian dari strategi pemasaran langsung yang efektif. Ini menjadi ajang promosi, uji coba pasar, dan interaksi langsung dengan konsumen. Pengunjung tidak hanya mencicipi tetapi juga mendengar cerita di balik setiap gigitan.
Novi menyadari bahwa kunci UMKM bertahan bukan hanya pada rasa, tetapi juga pada inovasi dan pengelolaan yang baik. Meski telah memiliki produk-produk andalan, ia tidak berpuas diri. Harapannya untuk ke depan jelas dan terarah. “Kami berharap semoga lebih berkembang, meningkatkan pangsa pasar, membuka lokasi baru, memaksimalkan keuntungan, dan yang terpenting, bertahan untuk jangka panjang,” ucapnya penuh semangat.

Bagi pengunjung festival, sajian Takoyaki by Oriza juga membawa nilai edukasi. Banyak yang mungkin hanya mengenal takoyaki sebagai “bola-bola tepung”, tetapi melalui interaksi di stan, mereka belajar tentang elemen-elemannya: peran dashi yang memberikan rasa umami, tekstur unik dari adonan yang setengah cair, hingga fungsi cetakan besi khusus untuk mendapatkan bentuk bulat sempurna. Adaptasi isian juga menunjukkan bagaimana kuliner global berakulturasi, menyesuaikan ketersediaan bahan dan selera tanpa menghilangkan esensi hidangannya.
Dukungan masyarakat dengan membeli produk UMKM seperti Takoyaki by Oriza memiliki dampak berantai yang positif. Selain mendapatkan hidangan lezat, konsumen turut serta dalam menggerakkan ekonomi lokal, mendukung ketahanan bisnis kecil, dan melestarikan kreativitas kuliner.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Keberhasilan stan ini di Nala Festival adalah potret kecil dari semangat wirausaha di tanah air. Ia membuktikan bahwa dengan resep yang tepat kombinasi rasa autentik, inovasi, ketekunan, dan strategi pemasaran yang adaptif sebuah brand makanan bisa tidak hanya bertahan hampir satu dekade, tetapi juga terus berkembang, siap menghadiri festival-festival berikutnya dan merebut hati lebih banyak penggemar baru.
( Ria ).




