Malang, PENDIDIKANNASIONAL. ID – Dalam rangka menyambut HUT Kota Malang yang ke-110, anggota PPBI (Pelestari Purbakala Budaya Indonesia) dan LP2BN (Lembaga Perlindung dan Pelestari Budaya Nusantara) menggelar ritual dan doa bersama yang bertempat di situs candi karang Besuki atau yang biasanya di sebut candi wurung pada hari Minggu, ( 31/03/2024 ) malam.
Adapun dalam kegiatan tersebut diikuti oleh Komunitas PPBI Malang Raya, Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang serta Komunitas Sosial Budaya Malang Raya. , acara tersebut juga dihadiri oleh sesepuh Ngoro Jombang dan Pandaan.
Tujuan dari kegiatan ini adalah mendoakan kota Malang yang berusia 110 tahun menjadi aman, damai, sejahtera, indah dan bebas dari segala bencana.
Pada kesempatanya pemangku Sekolah Kebudayaan Tunggul Wulung Kolik Nuriyadi mengatakan, ritual ini khusus dilakukan untuk mendoakan kota Malang yang kini telah berusia 110 tahun. , menjadi kota yang aman, makmur dan indah.
“Bersama PPBI dan para penggiat kebudayaan kita, kegiatan ritual dan doa ini khusus untuk Kota Malang yang berusia 110 tahun agar aman, sejahtera, dan asri sehingga masyarakat Kota Malang dapat hidup tenteram dan tenteram. ” kata Kolik.
Beliau juga menambahkan, mengapa kegiatan ini dilakukan di kawasan Karang Besuki, Kolik menjelaskan bahwa tempat ini merupakan nolnya kerajaan Kanjuruhan, sehingga tempat ini bisa dikatakan sebagai tempat suci, sehingga kita berharap dapat mengulangi kejayaannya. terutama Kita. Malang. “Tempat ini sengaja kami pilih karena merupakan titik nol Kerajaan Kanjuruhana, sehingga kami berharap Kota Malang bisa meraih kejayaan seperti Kerajaan Kanjuruhana saat itu,” Tambah Kolik.

Pada saat yang sama, pengurus LP2BN KI Suryo Aji Yuni Ektanta juga melakukan evaluasi terhadap kegiatan tersebut. Menurut sapaan akrabnya Yun, bahwa acara seperti ini sangat diperlukan karena banyak generasi muda yang banyak meninggalkan tradisi dan budaya nenek moyangnya, sehingga ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat yang telah mengikuti ritual tersebut.
“Saya mengucapkan terimakasih kepada para sesepuh, Tokoh budaya dan seluruh masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini yang masih menjaga tradisi dan budaya nenek moyang dimana dengan khusuk melantunkan tembang macapat untuk dan mendoakan kota Malang tercinta,” kata Yuni.
Dengan di gelarnya kegiatan tersebut membuktikan bahwa budaya itu tidak terkikis oleh jaman sehingga bisa menjadikan salah satu contoh bagi anak anak dan cucu untuk selalu melestarikan adat maupun istiadat yang kita miliki.
Beliau juga menjelaskan bahwa selain itu, falsafah Jawa yang harus kita ikuti adalah ajining diri Soko lathi, ajining rogo Soko Buwono dan ajining negoro Soko luhuring budoyo. ” Pungkasnya. ( Ria ).




