Sinergitas Lintas Sektor dalam Pemberdayaan Komunitas Inklusif. Analisis Kegiatan Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama Rumah Inklusi Kota Batu
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan momentum kebersamaan dan kepedulian sosial yang mendalam. Namun, di tengah maraknya kegiatan berbagi yang bersifat musiman, diperlukan inisiatif yang tidak hanya berdimensi karitatif, tetapi juga transformatif memberdayakan kelompok marjinal untuk menjadi subjek aktif dalam setiap kegiatan sosial. Salah satu inisiatif yang patut diapresiasi adalah kolaborasi antara Rumah Inklusi Kota Batu, Berkah Rangkul Cafe & Resto, dan Bank Mandiri KCP Kota Batu yang menggelar pembagian takjil serta buka puasa bersama pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Kegiatan yang berlangsung di tempat Berkah Rangkul ini menjadi bukti nyata bahwa sinergitas antara komunitas disabilitas, sektor swasta, perbankan, dan pemerintah kewilayahan mampu menciptakan ekosistem sosial yang inklusif dan berkelanjutan.

Kehadiran Bank Mandiri KCP Kota Batu dalam kegiatan ini bukan sekadar seremoni atau pemenuhan kewajiban corporate social responsibility (CSR) semata. Lidya Prastiti, Sebagai Branch Manajer Bank Mandiri KCP Batu, secara eksplisit menyatakan bahwa keterlibatan institusinya merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap pengembangan potensi teman-teman disabilitas dan komunitas inklusif di Kota Batu.
” Bank Mandiri KCP Batu sangat mendukung penuh rangkaian kegiatan dan acara yang diselenggarakan oleh Rumah Inklusi bersama Berkah Rangkul. Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam berkarya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Lidya saat ditemui di sela-sela acara.
Baca Juga :
Cuma 12 Ribu! Warung Berkah Rangkul di Kota Batu Sajikan 32 Menu, Ramai Diserbu Saat Ramadhan
Pernyataan tersebut merefleksikan pergeseran paradigma dalam dunia perbankan, dari sekadar institusi intermediasi keuangan menuju agen perubahan sosial. Keterlibatan sektor perbankan dalam kegiatan semacam ini diharapkan dapat memberikan efek berganda (multiplier effect). Selain dukungan finansial, kehadiran Bank Mandiri juga membuka akses jaringan yang lebih luas bagi Rumah Inklusi untuk mengembangkan program-program pemberdayaan di masa depan.

Selanjutnya sebagai Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos., menunjukkan kepemimpinan visioner dengan hadir langsung dalam acara dan menyampaikan sambutan yang sarat makna. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk komitmen nyata pemerintah kewilayahan dalam mendukung agenda inklusivitas.
Dalam sambutannya, Thomas menggunakan metafora yang menarik untuk menggambarkan pentingnya forum inklusi. “Pohon itu kalau semakin banyak rantingnya, menandakan pohon itu sehat. Begitu juga forum inklusi ini, semakin banyak forum yang terbentuk, maka akan semakin berkembang dan sehat karena kita bisa merangkul lebih banyak saudara kita yang disabilitas,” ujarnya.
Launching Berkah Rangkul di Batu Sajikan Kuliner Lokal Mulai Rp12.000 di Bangunan Klasik Jawa
Dalam teori modal sosial (social capital), keragaman dan jumlah jejaring memang berkorelasi positif dengan kekuatan kolektif suatu komunitas. Semakin banyak simpul yang tercipta, semakin besar potensi untuk mobilisasi sumber daya dan advokasi kepentingan bersama.
Lebih penting lagi, Thomas menegaskan pentingnya reorientasi paradigma dalam memandang penyandang disabilitas. Ia mendorong agar mereka tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, tetapi sebagai individu yang mampu berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Beberapa potensi yang diidentifikasi meliputi bidang kesenian (seni rupa, musik, budaya), kreativitas (puisi, mewarnai, melukis), serta kemandirian ekonomi.
Komitmen paling konkret dari pemerintah kewilayahan adalah pernyataan Thomas bahwa komunitas disabilitas harus dilibatkan dalam setiap kegiatan di Kota Batu. “Harapan saya, ada kegiatan apa pun, disabilitas harus hadir. Dengan hadirnya teman-teman, artinya disabilitas juga ikut mewarnai keberagaman kita. Kita harus terus bergandengan tangan agar program-program disabilitas ke depan semakin tampak nyata,” pungkasnya.

Ariyati, S.Pd., Ketua Rumah Inklusi Kota Batu, mengungkapkan bahwa organisasinya saat ini menaungi 150 hingga 200 anggota. Jumlah yang signifikan ini menunjukkan bahwa Rumah Inklusi telah menjadi rujukan utama bagi penyandang disabilitas dan keluarganya di Kota Batu.
Menurut Ariyati, keberadaan wadah seperti Rumah Inklusi sangat krusial untuk memberikan dukungan moral dan ruang bagi penyandang disabilitas agar tetap produktif. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang diselenggarakan, termasuk pembagian takjil dan silaturahmi, bukan sekadar acara seremonial, melainkan bentuk nyata eksistensi mereka di tengah masyarakat.

Pernyataan ini merefleksikan kesadaran kritis bahwa kehadiran fisik di ruang publik adalah bentuk advokasi yang paling efektif. Dengan tampil dan berpartisipasi aktif, penyandang disabilitas secara perlahan mengikis stigma dan membangun kesadaran masyarakat bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari keberagaman bangsa.
Hariyati juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara komunitas, sektor swasta, dan pemerintah. Ia menyebutkan bahwa dukungan dari berbagai pihak sangat membantu anggota Rumah Inklusi untuk terus berkreasi dan berkarya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tiga pilar utama yang ia tekankan adalah dukungan komunitas sebagai motor penggerak, eksplorasi potensi melalui ruang publik, dan sinergi berkelanjutan dengan berbagai pihak.
“Kami ingin teman-teman inklusi ini terus berjalan beriringan, sukses bersama, dan yang terpenting adalah mereka memiliki ruang untuk terus berkarya,” Ungkanya Ariyati, menegaskan visi jangka panjang Rumah Inklusi.

Diwaktu yang berbeda, Afet, Manager Berkah Rangkul, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan ruang bagi teman-teman Rumah Inklusi untuk berkarya dan berkreasi.
Dalam kegiatan pembagian takjil kali ini, sebanyak 500 paket takjil dibagikan kepada pengendara dan warga sekitar yang melintas. Acara yang telah dipersiapkan sejak satu minggu sebelumnya ini melibatkan sekitar 150 hingga 200 orang dari komunitas Rumah Inklusi dan tim Berkah Rangkul.

“Harapan kami untuk Rumah Inklusi adalah agar kami bisa terus membantu teman-teman di sana supaya mereka tetap bisa berkreasi dan berkarya. Intinya, Berkah Rangkul dan Rumah Inklusi bisa berjalan beriringan untuk mencapai kesuksesan bersama,” ujar Afet.
Keterlibatan anggota Rumah Inklusi dalam pembagian takjil menunjukkan bahwa Berkah Rangkul tidak hanya menjadi donatur, tetapi juga platform pemberdayaan yang melibatkan penyandang disabilitas secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, pengalaman terlibat dalam event berskala besar memberikan pembelajaran berharga tentang koordinasi, kerja tim, dan komunikasi publik kompetensi yang sulit diperoleh dalam ruang pelatihan konvensional.

Dari sisi bisnis, Berkah Rangkul juga menerapkan strategi yang menarik dengan menyajikan “Menu Nusantara” dengan harga merakyat mulai dari Rp12.000. Positioning sebagai resto yang ramah di kantong dan menyasar segmen menengah ke bawah menunjukkan kesadaran bahwa inklusivitas tidak hanya soal disabilitas, tetapi juga aksesibilitas ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Beberapa menu andalan yang menjadi favorit pelanggan antara lain Nasi Empok yang autentik, aneka sayuran dan urap-urap, sambal gurami dan sambal kemangi mujair bagi pecinta pedas, serta gurami sambal kemangi yang menjadi menu spesial paling direkomendasikan. Dengan mengangkat cita rasa nusantara, Berkah Rangkul juga berkontribusi pada pelestarian kuliner lokal sekaligus menciptakan diferensiasi di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat.

Di tengah hiruk-pikuk kegiatan, kisah Andrea Gaetano La Martina menjadi bukti nyata keberhasilan pendekatan inklusif. Sebagai pemuda tuna rungu, Andre menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berpartisipasi aktif dan memberi manfaat bagi sesama.
Melalui bahasa isyarat dan bantuan penerjemah, Andrea mengungkapkan rasa syukurnya dapat bergabung dalam komunitas yang merangkul keberagaman. Bagi Andre, kegiatan seperti pembagian takjil dan kumpul bersama bukan sekadar mengisi waktu, melainkan bentuk pembuktian bahwa disabilitas mampu berinteraksi dan memberi manfaat bagi sesama.

Kehadiran penerjemah bahasa isyarat dalam acara ini menunjukkan bahwa panitia memiliki pemahaman tentang pentingnya penyediaan akomodasi yang layak (reasonable accommodation) bagi penyandang disabilitas. Dalam perspektif hak asasi manusia, penyediaan akomodasi yang layak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi untuk memastikan partisipasi penuh dan setara penyandang disabilitas.
Dalam kesempatan tersebut, Andre menyampaikan beberapa poin menyentuh, rasa bangga bisa terlibat langsung dalam kegiatan sosial, harapan agar masyarakat luas semakin terbuka untuk belajar berkomunikasi dengan teman-teman tuna rungu, serta pesan kepada sesama rekan disabilitas untuk tidak menyerah dan terus berusaha mandiri.

Manajemen Berkah Rangkul dan Rumah Inklusi menyatakan bahwa peserta seperti Andre adalah nyawa dari gerakan ini. “Andre adalah contoh nyata bahwa semangat tidak bisa didengar, tapi bisa dirasakan melalui tindakan,” ujar salah satu panitia di lokasi.
Pernyataan ini merefleksikan pemahaman bahwa komunikasi tidak selalu bersifat verbal; bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan tindakan nyata juga merupakan bentuk komunikasi yang powerful. Melalui keberanian Andre untuk tampil di ruang publik, diharapkan stigma terhadap disabilitas semakin terkikis dan berganti dengan dukungan serta apresiasi atas karya-karya nyata yang mereka hasilkan.

Kegiatan ini memiliki dampak signifikan dalam penguatan modal sosial, baik bagi penyandang disabilitas maupun masyarakat luas. Bagi penyandang disabilitas, keterlibatan dalam kegiatan publik memberikan pengakuan eksistensi dan penguatan harga diri. Mereka tidak lagi merasa sebagai “warga kelas dua” yang hanya layak menerima belas kasihan, tetapi sebagai bagian integral dari masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Bagi masyarakat luas, interaksi langsung dengan penyandang disabilitas dalam kegiatan positif seperti berbagi takjil secara perlahan mengikis stigma dan prasangka negatif. Masyarakat belajar bahwa disabilitas bukanlah hambatan untuk berkontribusi dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Keterlibatan Berkah Rangkul menunjukkan bahwa pemberdayaan disabilitas juga memiliki dimensi ekonomi. Dengan memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan berkreasi, Berkah Rangkul tidak hanya membantu mereka secara sosial, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Menu-menu khas nusantara yang disajikan dengan harga terjangkau menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan dengan melibatkan penyandang disabilitas memiliki daya saing di pasar.
Penulis : Ria.
Editor : Tim Pendidikannasional.id.


Rumah inklusi berkolaborasi bersama Berkah Rangkul dan Bank Mandiri berbagi takjil dan buka puasa bersama sama pada Ramadhan 2026.( Foto : istimewa ). 
