Fasilitas Terbatas, Semangat Tinggi: TPQ Difabel di Kota Batu Butuh Dukungan Serius
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat santri tunanetra untuk belajar Al-Qur’an di Kota Batu justru semakin menyala. Kondisi ini menjadi perhatian serius Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (LPPTKA) Kecamatan Batu yang kini mulai mendorong penguatan program TPQ inklusif bagi difabel.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pertemuan besar yang digelar di Masjid Sultan Agung, Minggu (19/4/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antar pengajar, tetapi juga momentum strategis untuk merumuskan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an yang lebih inklusif dan merata.

Ratusan ustaz dan ustazah dari berbagai lembaga TPQ hadir, membawa semangat yang sama: memastikan setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki akses untuk belajar Al-Qur’an.
Dorong TPQ Inklusif, Fokus pada Santri Tunanetra
Supervisor LPPTKA Kecamatan Batu, Abdul Rojad, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah menjalin sinergi dengan Dinas Pendidikan guna mengembangkan program TPQ khusus difabel, terutama bagi santri tunanetra.

Menurutnya, antusiasme para santri berkebutuhan khusus justru sangat tinggi, meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
“Semangat santri tunanetra luar biasa. Mereka memiliki keinginan kuat untuk belajar Al-Qur’an. Namun, kami masih terkendala fasilitas yang belum memadai,” ujarnya.
Ia menegaskan, dukungan dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan, tidak hanya dalam bentuk moral, tetapi juga bantuan konkret yang bisa langsung dirasakan oleh para santri dan pengajar.
Kebutuhan Mendesak: Dari Guru Hingga Al-Qur’an Braille
Dalam forum tersebut, LPPTKA secara terbuka memaparkan sejumlah kebutuhan mendesak untuk mendukung keberlangsungan TPQ difabel di Kota Batu.
Beberapa di antaranya meliputi:
Tenaga pendidik dengan kompetensi khusus dalam mengajar santri difabel.Pengadaan Al-Qur’an Braille. Buku Iqro’ dan modul tajwid berbasis Braille. Alat tulis khusus untuk penyandang tunanetra.

Keterbatasan fasilitas ini menjadi tantangan nyata di lapangan. Tanpa dukungan yang memadai, proses pembelajaran bagi santri difabel berisiko tidak optimal, meskipun semangat belajar mereka sangat tinggi.
LPPTKA berharap adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menjawab kebutuhan tersebut.
109 Lembaga dan Ratusan Guru, Jadi Kekuatan Besar
Di sisi lain, LPPTKA Kecamatan Batu sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif. Saat ini tercatat ada 109 lembaga TPQ yang berada di bawah naungannya.
Tidak hanya itu, sebanyak 629 ustaz dan ustazah telah menerima insentif dari Pemerintah Kota Batu sebagai bentuk dukungan terhadap peran mereka dalam mendidik generasi Qur’ani.

Namun demikian, masih terdapat sekitar 80 pengajar yang sedang dalam proses pendataan agar dapat memperoleh hak yang sama.
Data ini menunjukkan bahwa ekosistem pendidikan Al-Qur’an di Kota Batu cukup kuat. Tinggal bagaimana potensi tersebut diarahkan untuk menjangkau kelompok yang selama ini belum terlayani secara maksimal, termasuk santri difabel.
Kemenag: Guru TPQ Adalah Pilar Pembentukan Karakter
Perwakilan Kantor Kementerian Agama Kota Batu, Ahmad Jazuli, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para pengajar TPQ.

Ia menegaskan bahwa peran guru TPQ tidak bisa dipandang sebelah mata, karena mereka adalah garda terdepan dalam membentuk karakter generasi muda.
“Mari terus bersemangat dalam menyebarkan syiar. Tujuan kita adalah menciptakan generasi Qur’ani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan spiritual dan akhlak yang kuat,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah kepada seluruh peserta yang hadir, seraya mengajak untuk menjadikan momentum tersebut sebagai titik awal memperkuat pengabdian di bidang pendidikan keagamaan.
Solidaritas Pengajar Jadi Kunci Penguatan Program
Sementara itu, Penasihat LPPTKA Kecamatan Batu yang juga Wakil Direktur LPPTKA Kota Batu, Achmad Karen, menekankan pentingnya kehadiran aktif para pengajar dalam setiap kegiatan organisasi.

Menurutnya, partisipasi bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari strategi membangun kekuatan bersama.
“Kehadiran dalam setiap kegiatan, baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kota, adalah bentuk komitmen kita. Dari sinilah terbangun silaturahmi yang kuat dan koordinasi yang lebih efektif,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan solidaritas yang terjaga, pengembangan program pendidikan Al-Qur’an, termasuk TPQ difabel, dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Harapan Besar: Pendidikan Al-Qur’an Tanpa Batas
Pertemuan ini menjadi bukti bahwa upaya menghadirkan pendidikan yang inklusif bukan sekadar wacana. Ada gerakan nyata yang terus tumbuh dari para pengajar di tingkat akar rumput.
Semangat untuk menghadirkan TPQ ramah difabel menjadi harapan baru, bahwa tidak ada lagi anak yang tertinggal dalam belajar Al-Qur’an hanya karena keterbatasan fisik.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan dukungan yang tepat, Kota Batu berpeluang menjadi salah satu daerah percontohan dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an inklusif di Indonesia.
Kini, yang dibutuhkan adalah sinergi berkelanjutan antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat, agar semangat para santri tunanetra tidak berjalan sendirian.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.


Salah satu Kiai dari. Pujon ketika memberikan pencerahan pencerahanya. ( Foto : Tim ). 
