Sore Penuh Makna Halal Bihalal Jamaah Tahlil Nurus Soubah di Masjid Walisongo, Temas
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Suasana sore yang teduh menyelimuti kawasan Kelurahan Temas pada Jumat (3/4/2026). Bukan sekadar pertemuan biasa, puluhan warga dari enam Rukun Tetangga (RT) memadati Masjid Walisongo untuk menggelar acara Halal Bihalal yang digagas oleh Jamaah Tahlil Nurus Soubah. Dengan total 60 jamaah yang hadir, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat silaturahmi pasca-Ramadan masih terasa hangat di tengah masyarakat.
Acara yang berlangsung khidmat itu tidak hanya dihadiri oleh warga setempat, tetapi juga jajaran pengurus PKK dari tingkat kelurahan hingga RW. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua TP PKK Kelurahan Temas, Tim Pokja 1 Kelurahan Temas, Ketua TP PKK RW 06 Temas, serta Pokja 1 RW 06 Temas. Kehadiran mereka menambah semarak kegiatan yang memang dirancang sebagai wadah penguatan ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan antarwarga.

Tinah, selaku perwakilan panitia penyelenggara, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Dalam kesempatanya, Tinah mengungkapkan tiga harapan besar ke depan.
“Pertama, kami berharap kerja sama yang baik serta dukungan dari berbagai pihak agar kegiatan keagamaan seperti ini semakin semarak dan berkelanjutan. Kedua, dengan adanya Halal Bihalal ini bisa mempererat tali silaturahmi antar warga, terutama lintas RT di lingkungan kami. Ketiga, semoga tercipta suasana yang harmonis antar RT, sehingga ketentraman dan kedamaian bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat,” ujar Tinah dengan penuh semangat.

Masjid Walisongo: Berdiri di Tengah Sawah dengan Riyadhoh
Salah satu momen yang paling menyentuh dalam acara tersebut adalah tausiyah singkat yang disampaikan oleh Umik Elisa. Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan perjuangan luar biasa di balik berdirinya Masjid Walisongo.
“Masjid yang kita banggakan ini didirikan di tengah sawah. Bukan perkara mudah. Butuh riyadhoh dan tirakat dari warga sekitar. Ini mengingatkan kita pada riyadhohnya para alim ulama dan sunan-sunan terdahulu. Mereka bukan raja, bukan pula prajurit, namun mereka berhasil menyiarkan agama Islam dengan cara yang santun, baik melalui jalur pendidikan maupun seni,” tutur Umik Elisa dengan nada haru.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kemakmuran masjid tidak cukup hanya dengan kehadiran fisik, tetapi juga membutuhkan pengorbanan hati dan konsistensi perjuangan, sebagaimana perjuangan para wali dalam menanamkan nilai-nilai Islam di tanah Jawa.

Perempuan Hebat: Ibu-Ibu PKK adalah Wonder Woman
Lebih lanjut, Umik Elisa menyoroti peran sentral para jamaah yang mayoritas adalah ibu-ibu PKK. Ia menegaskan bahwa perempuan masa kini harus menjelma menjadi “wonder woman”,perempuan terkuat yang mampu menjalankan berbagai peran sekaligus dengan seimbang.
“Seorang ibu harus menjadi ibu yang baik, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan keteladanan. Sebagai istri, ia harus sabar, ikhlas dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga, dan berbakti kepada suami. Namun, bukan berarti perempuan tidak bisa berkarier. Perempuan berkarir pun harus bisa menjadi contoh di masyarakat, menjadi panutan, dan mengelola organisasi dengan baik dalam ruang lingkup lingkungannya,” tegas Umik Elisa.
Pernyataan ini disambut antusias dan senyum para ibu yang hadir. Mereka menyadari bahwa beban moral yang dipikul memang besar, namun dengan kebersamaan dan saling mendukung, semuanya dapat dijalani dengan ringan.

Meneladani Perempuan Pejuang Nusantara
Umik Elisa kemudian mengajak seluruh hadirin untuk meneladani semangat para perempuan pejuang Nusantara seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika, dan Ibu Kita Kartini.
“Mereka adalah perempuan pemberani, jujur, dan kuat di dalam agama Islam. Walaupun kita bukan Sayyidah Fatimah, Khadijah, atau Aisyah, setidaknya kita bisa mencontoh hati mereka yang lembut, sabar, pemaaf, dan tidak mudah marah atau emosi, baik dalam rumah tangga maupun saat menjadi seorang ibu. Karena ibu adalah ummi madrasah, sekolahan pertama bagi anak-anak kita,” pesannya dengan penuh haru.

Pola Asuh Menentukan Karakter Anak
Bagian paling mengena dalam tausiyah tersebut adalah ketika Umik Elisa mengingatkan tentang dampak pola asuh terhadap karakter anak. Dengan analogi yang gamblang, ia menjelaskan bahwa setiap ucapan dan perilaku orang tua akan membentuk kepribadian generasi penerus.
“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia akan suka berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan caci maki dan kata-kata kasar, maka ia akan menjadi anak yang suka mencaci teman. Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang dengki. Jika anak dibesarkan dengan kesombongan, maka ia akan menjadi anak yang riak, congkak, dan takabur. Sebaliknya, jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menghargai orang lain. Jika anak dibesarkan dengan kedermawanan, maka ia akan suka berbagi dan senang bersedekah,” paparnya.
Dari Ngaji Pagi hingga Lomba Menulis, Isra’ Miraj di SDN Songgokerto 01 Penuh Makna
Pesan ini menjadi penutup yang sempurna dari rangkaian Halal Bihalal sore itu. Para jamaah pulang dengan hati yang lebih lapang, tekad yang lebih kuat untuk memperbaiki diri, serta komitmen untuk terus menjaga keharmonisan lingkungan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan berakhirnya acara yang penuh makna ini, diharapkan semangat silaturahmi dan kepedulian sosial yang telah terjalin dapat terus dipelihara, tidak hanya di bulan Syawal, tetapi sepanjang masa. Kegiatan seperti inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya.
Penulis : Ria.
Editor : Tim Redaksi.


Salah satu Jamaah Tahlil Nurus Soubah di Masjid Walisongo, Temas. ( Foto : istimewa ). 
