Renovasi Rumah Warga Babinsa Sumberjo Selamatkan Masa Depan Keluarga

Babinsa ketika membantu pemasangan Batu Bata rumah warga.( Foto : istimewa ).

Babinsa Sumberjo dan Renovasi RTLH Ketika TNI Hadir untuk Kemanusiaan dan Kemandirian Bangsa

Blitar,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan perkotaan dan gemerlap infrastruktur modern, masih ada denyut kehidupan di pedesaan yang membutuhkan perhatian serius. Salah satunya adalah masalah hunian yang tidak layak. Di Desa Sumberjo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, kepedulian itu hadir bukan dalam bentuk janji, melainkan dalam wujud nyata: seorang Babinsa yang turun langsung membantu merenovasi rumah warga kurang mampu.

Pada Sabtu (4/4/2026), Serka Watenu, Babinsa Desa Sumberjo Koramil 0808/04 Sanankulon, menunjukkan bahwa fungsi TNI tidak hanya terbatas pada pertahanan dan keamanan, tetapi juga sebagai motor penggerak kesejahteraan sosial. Berlokasi di Dusun Kembangan RT. 01 RW. 03, rumah milik Bapak Sutikno menjadi titik fokus kegiatan Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang saat itu berlangsung dengan semangat gotong royong yang membara.

TNI ketika sedang membantu langsung proses bahan bangunan.
TNI ketika sedang membantu langsung proses bahan bangunan.

 

Memahami Makna RTLH Lebih dari Sekadar Fisik Bangunan

Program RTLH bukanlah sekadar proyek perbaikan tembok retak atau atap bocor. Dalam perspektif pembangunan manusia dan sosial ekonomi, rumah yang layak huni merupakan hak dasar setiap warga negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menetapkan bahwa kualitas perumahan berdampak langsung pada kesehatan fisik, mental, dan produktivitas seseorang.

Rumah yang tidak layak,ditandai dengan sirkulasi udara buruk, pencahayaan minim, struktur bangunan rapuh, serta lantai tanah yang lembab sehingga menjadi sarang penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), TBC, hingga malaria atau demam berdarah. Lebih jauh, anak-anak yang tumbuh di lingkungan hunian tidak layak berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, baik kognitif maupun emosional.

Bapak Sutikno, warga yang rumahnya mendapat bantuan renovasi, sebelumnya tinggal dalam kondisi memprihatinkan. Dinding setengah rubuh, atap yang bocor di beberapa titik, serta lantai yang masih tanah becek saat hujan. “Saya tidak punya biaya untuk memperbaiki. Hanya bisa pasrah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Kehadiran Serka Watenu dan warga sekitar bagaikan cahaya di tengah keputusasaan.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/studi-banding-pmr-smkn-2-blitar-belajar-sukses-galaksi-2025-ke-smkn-2-ponorogo/

Babinsa: Lebih dari Sekadar TNI, Adalah Tetangga, Pelindung, dan Motivator

Keunikan program RTLH di Desa Sumberjo terletak pada pendekatannya. Serka Watenu tidak datang sebagai komandan yang memberi instruksi, melainkan sebagai bagian dari warga. Dengan mengenakan pakaian lapangan sederhana, ia ikut mengangkat kayu, mencampur semen, menyusun bata, hingga membersihkan puing-puing bangunan lama.

“Saya Babinsa, tetapi pertama-tama saya adalah bagian dari masyarakat desa ini. Jika warga kesulitan, maka di situlah saya harus berada. Bukan untuk menggantikan peran mereka, tetapi untuk menggerakkan semangat kebersamaan,” tutur Serka Watenu saat ditemui di sela-sela pekerjaan.

Pernyataan ini mencerminkan doktrin kemanunggalan TNI dengan rakyat yang telah menjadi akar budaya pertahanan Indonesia sejak masa perang kemerdekaan. Konsep “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” tidak hanya retorika, tetapi dihidupkan kembali dalam bentuk kerja bakti nyata. Kehadiran Babinsa menjadi simbol bahwa negara tidak pernah absen, sekalipun dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/babinsa-tiga-pilar-dampingi-bantuan-beras-bulog/

Dari perspektif psikologi sosial, aksi seperti ini memiliki efek pemberdayaan (empowerment) yang luar biasa. Masyarakat tidak merasa diintervensi, melainkan diajak berpartisipasi. Rasa memiliki (sense of belonging) terhadap hasil renovasi pun menjadi lebih tinggi. Rumah yang dibangun bersama akan dirawat bersama. Ini jauh lebih berkelanjutan dibandingkan program bantuan yang bersifat karitatif semata.

Gotong Royong sebagai Modal Sosial yang Terlupakan

Di era digital dan individualisme, nilai gotong royong perlahan tergerus. Namun, di Dusun Kembangan pada hari itu, nilai luhur bangsa kembali hidup. Warga dari berbagai usia, mulai dari remaja hingga orang tua, bahu-membahu mengangkut material, mengecat dinding, dan membersihkan lingkungan sekitar.

Serka Watenu dengan cermat memanfaatkan momen ini untuk memberikan edukasi singkat tentang pentingnya menjaga kualitas rumah, seperti membuat saluran air kecil untuk mencegah genangan, serta memasang ventilasi udara yang cukup. Edukasi ini disampaikan dengan bahasa sederhana namun ilmiah, sehingga mudah dipahami warga.

“Kami tidak hanya memperbaiki rumah, tetapi juga membangun kesadaran. Sebab rumah yang sehat adalah investasi jangka panjang untuk keluarga,” tambahnya.

Semangat Tahun Baru Menuju Kabupaten Blitar Berdaya dan Berjaya

Dalam satu hari, pekerjaan yang jika dilakukan sendiri oleh Pak Sutikno mungkin memakan waktu berbulan-bulan, dapat diselesaikan secara signifikan. Program RTLH seperti ini juga mengurangi beban psikologis warga miskin yang sering merasa malu atau tidak berdaya. Dengan pendekatan kolektif, martabat mereka tetap terjaga.

Dampak Berantai: Ekonomi, Pendidikan, dan Kesehatan

Perbaikan RTLH yang difasilitasi Babinsa ini memberikan efek domino. Pertama, dari sisi kesehatan: rumah yang kering, berventilasi baik, dan dinding kokoh menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Kedua, dari sisi pendidikan: anak-anak Pak Sutikno kini memiliki ruang belajar yang layak, tidak lagi di pojok ruangan temaram dengan atap bocor.

Ketiga, dari sisi ekonomi: rumah yang layak meningkatkan rasa aman dan percaya diri, yang secara tidak langsung memengaruhi produktivitas kerja. Pak Sutikno, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, kini bisa beristirahat dengan cukup tanpa khawatir hujan atau angin kencang. Istirahat berkualitas berdampak pada performa kerja keesokan harinya.

Babinsa dan Warga Bumiayu Gotong Royong Bersihkan Jalan

Lebih jauh lagi, kehadiran program RTLH ini menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kecamatan Sanankulon. Koramil 0808/04 Sanankulon berencana untuk memperluas program ke dusun-dusun lain, tentu dengan koordinasi bersama pemerintah desa dan dukungan dari berbagai pihak.

Harapan dan Keberlanjutan

Bapak Sutikno, penerima manfaat, mengaku tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Dinding sudah tembok, atap sudah bagus, lantai juga sudah saya cor berkat bantuan. Saya tidak tahu harus membalas apa selain doa. Semoga Bapak Babinsa sehat selalu dan program seperti ini terus ada untuk warga lain,” ucapnya dengan suara bergetar.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Serka Watenu menutup kegiatan dengan pesan penuh makna: “Program RTLH ini bukan akhir. Ini adalah awal dari kesadaran kolektif bahwa kita semua, TNI, pemerintah, dan masyarakat, adalah satu keluarga besar. Mari kita jaga apa yang sudah dibangun.”

Di tengah gempuran berita politik dan kriminal, aksi kecil namun monumental seperti renovasi rumah oleh Babinsa Sumberjo ini adalah pengingat bahwa denyut kemanusiaan masih kuat berdetak di desa-desa Indonesia. Bahwa kesejahteraan tidak selalu dimulai dari proyek raksasa, tetapi dari tangan yang bersedia kotor, hati yang mau peduli, dan semangat kebersamaan yang tak pernah padam.

Penulis : Dim0808

Editor : Tim Redaksi. 

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup