Tradisi 17 Tahun di Kampung Halaman Wali Kota Batu. Gema Takbir & Festival Lampion Desa Sumberjo Meriahkan 1 Syawal 1447 H

Salah satu penampilan dalam Gema Takbir dan Festival Lampion 2026 di Desa Sumberjo.( Foto : Tim )

Tradisi 17 Tahun Gema Takbir dan Festival Lampion Desa Sumberjo Menjadi Ikon Kebudayaan dan Syiar Islam di Kota Batu

Desa Sumberjo, Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Gemuruh takbir bergema seirama dengan pancaran lampion warna-warni yang menghiasi malam. Pada Jumat, 20 Maret 2026, atau bertepatan dengan puncak suasana menjelang 1 Syawal 1447 Hijriah, Desa Sumberjo, Kecamatan Batu, Kota Batu, kembali mengukuhkan diri sebagai lokus pelestarian tradisi bernuansa religius dan kultural melalui penyelenggaraan Gema Takbir dan Festival Lampion.

Kegiatan tahunan ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi telah berkembang menjadi agenda strategis desa yang merefleksikan kontinuitas sejarah, kohesi sosial, serta ruang ekspresi kreatif bagi masyarakat. Tahun ini mencatatkan nilai istimewa tersendiri mengingat lokasi kegiatan yang merupakan kampung halaman dari Wali Kota Batu, Nurochman, turut hadir langsung membaur dengan warganya.

Ketua Panitia memberikan sebuah bingkisan kepada Wali Kota Batu
Ketua Panitia memberikan sebuah bingkisan kepada Wali Kota Batu

Berdasarkan data yang dihimpun panitia, tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 2004/2005, dengan sistem kepengurusan yang bergilir antar lingkungan. Setelah vakum dua tahun akibat pandemi COVID-19, kegiatan ini bangkit kembali dan kini telah menjadi agenda resmi desa dengan dukungan subsidi penuh dari pemerintah desa. Bahwa eksistensi acara ini selama kurang lebih 17 tahun (terhitung sejak 2009) merupakan bukti ketahanan budaya masyarakat dalam menjaga syiar Islam.

Secara filosofis, kegiatan ini memiliki tiga pilar utama yaitu Siar Agama, sebagai ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Kreativitas Pemuda, yang difungsikan sebagai wadah inovasi bagi generasi muda, serta Semangat Gotong Royong yang menjadi instrumen penguatan modal sosial antar warga lintas generasi.

Ketua Panitia Gema Takbir dan Festival Lampion 2026,ketika menyampaikan laporanya.
Ketua Panitia Gema Takbir dan Festival Lampion 2026,ketika menyampaikan laporanya.

Dalam pelaksanaannya, panitia yang diketuai oleh Rojad ( Bapak Rojad ) menginisiasi sistem lomba dengan tiga kategori penilaian. Pertama, Gema Takbir, yang menilai harmoni antara lantunan takbir, penggunaan alat musik patrol, serta keselarasan aransemen musik. Kedua, Kreasi Lampion, yang berfokus pada aspek estetika, inovasi bentuk, dan nilai seni. Ketiga, Busana, yang mengapresiasi keragaman, keunikan, dan konsep kostum peserta.

” Antusiasme wujud nyata dari partisipasi kolektif. Sebanyak 12 kelompok peserta terlibat, yang merupakan representasi dari struktur kewilayahan tiga dusun utama. Dusun Sumberjo mengirimkan perwakilan dari setiap gang, di mana satu gang mencakup dua Rukun Tetangga (RT). Dusun Sumbersari berkontribusi melalui satu perwakilan pedukuhan, sementara Dusun Santrean mengirimkan dua perwakilan Rukun Warga (RW). Kehadiran Keluarga Besar FARRA sebagai kontingen pertama turut menyemarakkan jalannya kirab.” Jelasnya Ketua Panitia. 

Wali Kota Batu, ketika memberikan buah buahan kepada warga masyarakat dan di sambutnya dengan bersuka cita.
Wali Kota Batu, ketika memberikan buah buahan kepada warga masyarakat dan di sambutnya dengan bersuka cita.

Sementara itu sebagai Sekretaris Desa, mewakili Kepala Desa Sumberjo, Herman Sulaiman mengatakan bahwa, untuk kegiatan Gema Takbir dan Festival Lampion ini menjadi agenda tahunan di Desa Sumberjo dan terus dilestarikan puluhan tahun. Dan alhamdulillah pada malam hari ini Gema Takbir dan Festival Lampion yang dipandegani oleh warga para pemuda ini sangat luar biasa meriah.

” Harapan kami di tahun berikutnya Pemerintah Desa Sumberjo akan memberikan lagi gelontoran dana yang sama untuk panitia yang baru kembali. Dan semoga ini bisa dilestarikan oleh warga kami, menjadikan Desa Sumberjo lebih hidup lagi untuk Festival Lampion dan Gema Takbir tahun berikutnya.” Kata Herman ke awak media.

Wali Kota Batu, Nurochman ketika memberikan sambutanya dihadapan masyarakat di tanah kelahirannya.
Wali Kota Batu, Nurochman ketika memberikan sambutanya dihadapan masyarakat di tanah kelahirannya.

Kehadiran Wali Kota Batu, Nurochman, bersama Ketua TP PKK Kota Batu, Siti Fauziah, memberikan dimensi politis sekaligus emosional pada acara tersebut. Dalam sambutannya, Nurochman menyoroti fenomena sosial yang menarik, acara ini tidak hanya dihadiri oleh warga lokal, tetapi juga menarik wisatawan religius dari luar daerah seperti Ngantang, Nglegok, hingga Blitar.

“Saya melihat banyak tamu dari luar daerah. Terima kasih Pak Jumadi Samuel beserta keluarga yang sudah jauh-jauh datang ke kampung halaman. Ini membuktikan bahwa tradisi kita memiliki daya tarik yang luar biasa,” ujar Nurochman di hadapan ratusan warga masyarakat. 

Penyalaan obor bersama sama sebagai tanda secara resmi dibukanya Gema Takbir dan Festival Lampion 2026 Desa Sumberjo
Penyalaan obor bersama sama sebagai tanda secara resmi dibukanya Gema Takbir dan Festival Lampion 2026 Desa Sumberjo
Penampilan pertama dari Keluarga Besar FARRA sebagai Panitia, dengan menyuguhkan hal yang menarik, beberapa Piala .
Penampilan pertama dari Keluarga Besar FARRA sebagai Panitia, dengan menyuguhkan hal yang menarik, beberapa Piala .

Lebih lanjut, dalam perspektif kepemimpinan dan pembangunan, Nurochman menekankan bahwa keberlangsungan tradisi ini selama 17 tahun merupakan aset non-fisik yang tak ternilai. Ia membandingkan bahwa tidak banyak desa atau kelurahan di Kota Batu yang mampu mempertahankan kegiatan serupa dengan tingkat kreativitas dan partisipasi sekuat di Desa Sumberjo.

“Kreativitas warga Sumberjo dalam mempertahankan tradisi ini sangat membanggakan. Malam ini kita buktikan kepada masyarakat Kota Batu bahwa semangat kita tidak pernah padam,” tegasnya.

Suatu antraksi mayoret dengan lincahnya oleh IBu Wali Kota Batu, Siti Fauziah yang membuat semakin gemuruhnya masyarakat dan pengunjung di acara Gema Takbir dan Festival Lampion.
Suatu antraksi mayoret dengan lincahnya oleh IBu Wali Kota Batu, Siti Fauziah yang membuat semakin gemuruhnya masyarakat dan pengunjung di acara Gema Takbir dan Festival Lampion.

Kegiatan ini dapat dipandang sebagai model community based cultural preservation yang efektif. Dengan melibatkan struktur pemerintahan desa mulai dari tingkat RT/RW, kepala dusun, hingga jajaran aparatur seperti Babinkamtibmas Aipda Ivan Haryono, serta tokoh agama dari Masjid Jami’ Nurul Huda yang diwakili oleh H. Deni Mulyanto dan H. Mulyono, acara ini menciptakan ekosistem kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan institusi keagamaan.

Tradisi ini juga menjawab tantangan pendidikan karakter di era digital. Dengan melibatkan anak muda dalam pembuatan lampion dan patrol keliling, terjadi proses transmisi nilai dari generasi tua kepada generasi muda secara organik. Nilai-nilai seperti kesabaran (menahan hawa nafsu pasca Ramadan), kebersamaan, dan estetika Islami diinternalisasi melalui praktik budaya yang menyenangkan.

Salah satu penampilan peserta Gema Takbir dan Festival Lampion 2026.
Salah satu penampilan peserta Gema Takbir dan Festival Lampion 2026.

Pemerintah Desa Sumberjo berharap agar Gema Takbir dan Festival Lampion tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga ditetapkan sebagai Ikon Budaya Desa. Harapan ini disampaikan seiring dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Batu yang melihat potensi kegiatan ini sebagai daya tarik wisata budaya berbasis masyarakat.

Di penghujung acara, Wali Kota Batu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memupuk sikap saling berbagi dan menolong. Ia menutup sambutannya dengan doa dan permohonan maaf lahir batin, sebuah tradisi khas masyarakat Jawa yang memperkuat nilai silaturahmi pasca Ramadan.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Dengan semaraknya malam tersebut, Desa Sumberjo berhasil mendemonstrasikan bagaimana sebuah komunitas dapat menjaga denyut kehidupan sosialnya melalui tradisi yang inklusif, kreatif, dan sarat makna keagamaan. Gema Takbir dan Festival Lampion bukan sekadar perayaan, melainkan cerminan dari ketahanan budaya masyarakat perkotaan yang tetap mengakar pada nilai-nilai luhur pedesaan.

 

Penulis : Ria. 

Editor : Tim Pendidikannasional.id.

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup