Kisah Kenzi dan Berkah Rangkul, Merajut Inklusivitas di Bulan Ramadan Kota Batu
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Suasana kekeluargaan yang erat dan harmonis mewarnai kegiatan berbagi takjil serta berbuka puasa bersama yang digelar oleh Rumah Inklusi Kota Batu, berkolaborasi dengan Berkah Rangkul Resto & Cafe pada Sabtu, 14 Maret 2026. Acara yang berlangsung di kawasan Kota Batu ini bukan sekadar agenda rutin bulan suci, melainkan sebuah simpul penguat tali silaturahmi antar elemen masyarakat, khususnya komunitas disabilitas. Momentum ini menjadi wadah bagi terciptanya ruang publik yang setara, di mana perbedaan latar belakang dan kondisi fisik tidak lagi menjadi sekat dalam berinteraksi.
Kemeriahan acara kian terasa ketika seorang bocah penyandang tunanetra berusia lima tahun, Kenzi, naik ke area kecil yang disulap menjadi panggung. Dengan suara khasnya yang merdu, Kenzi melantunkan beberapa lagu, berhasil memukau setiap pengunjung yang hadir. Riuh gemuruh tepuk tangan pun menggema di seluruh penjuru resto, menjadi apresiasi atas keberanian dan bakat natural yang ditunjukkan oleh putra dari Ibu Achiana ( Ana ) tersebut. Momen ini menjadi bukti bahwa inklusivitas tidak hanya tentang akses fisik, tetapi juga tentang pemberian ruang berekspresi yang setara bagi setiap individu.

Ibu Kenzi, atau yang akrab disapa Ibu Ana, tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bahagianya. Saat ditemui pewawancara, ia mengungkapkan kesannya secara mendalam. Menurutnya, esensi dari kegiatan ini adalah penghapusan sekat-sekat sosial yang kerap membatasi interaksi.
“Saya sangat senang sekali. Di sini kita tidak memandang status siapa pun. Jadi, kita semua makan bersama, semuanya sama rata di satu meja dan duduk di kursi yang sama,” ujar Ibu Ana dengan nada penuh syukur.
Baca Juga :
Pernyataan ini mencerminkan kebutuhan fundamental akan kesetaraan yang selama ini menjadi dambaan para keluarga dengan anggota disabilitas. Dengan adanya ruang publik yang ramah dan inklusif, mereka dapat merasakan pengalaman sosial yang autentik tanpa dibayangi stigma atau perlakuan berbeda.
Menyoal keberlanjutan, Ibu Ana menaruh harapan besar agar kegiatan serupa tidak hanya berhenti pada momen Ramadan. “Harapan saya untuk ke depannya, karena saat ini bertepatan dengan bulan puasa jadi kita makan bersama. Jika memungkinkan, setiap beberapa bulan sekali kita bisa berkumpul kembali dengan acara atau kegiatan yang lain. Tujuannya agar silaturahmi di antara kita tetap terjalin dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Harapan ini menyiratkan pentingnya kontinuitas interaksi sosial bagi kelompok disabilitas. Bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah ekosistem pertemuan yang berkesinambungan untuk menjaga kesehatan mental dan memperkuat jaringan dukungan sosial di antara mereka.

Senada dengan Ibu Ana, Camat Bumiaji selaku pendamping komunitas disabilitas turut memberikan apresiasi tinggi. Ia menyoroti nilai strategis dari acara tersebut dalam konteks pembangunan sosial yang berkeadilan.
“Ya, alhamdulillah. Hari ini adalah hari yang sangat baik, di mana semua forum disabilitas bisa berkumpul menjadi satu untuk buka puasa bersama. Kita bisa saling berbagi, bersilaturahmi, dan mereka juga bisa mengeksplorasi kemampuan olah vokal mereka. Saya kira ini adalah kegiatan yang sangat positif di bulan suci Ramadan, sehingga mereka bisa saling menguatkan satu sama lain melalui berbagi banyak hal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Camat menegaskan bahwa inklusivitas harus diwujudkan dalam kebijakan publik yang nyata. Forum-forum seperti ini, menurutnya, adalah momentum untuk menegaskan bahwa teman-teman disabilitas adalah subjek pembangunan, bukan sekadar objek.
“Saya berharap pertemuan seperti ini sering dilakukan. Teman-teman disabilitas harus tampil di setiap acara untuk menunjukkan bahwa forum disabilitas ini eksis dan mampu memberikan yang terbaik. Mereka harus hadir dan mewarnai,” tegasnya.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/dari-kediaman-camat-bumiaji-suara-jiwa-menyala-dalam-gelap/

Ia juga menyoroti perlunya keterlibatan aktif dalam perencanaan pembangunan. “Selain itu, mereka juga harus dilibatkan dalam setiap perencanaan pembangunan karena disabilitas membutuhkan sentuhan dan perhatian dari pemerintah. Campur tangan pemerintah dan dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar mereka bisa bangkit dan memiliki semangat untuk terus berkarya.”
Di luar aspek seremonial, Camat juga memaparkan capaian nyata dari komunitas disabilitas di Kota Batu. Menurutnya, rasa kebersamaan dan kesetaraan yang terus dipupuk telah berbuah pada kemandirian ekonomi.
Haru! Kenzi, Disabilitas Pukau Ribuan Umat dengan Lagu ‘Ayah’ di Natal BKSG Kota Batu 2026

“Intinya adalah rasa kebersamaan dan kesetaraan. Dengan sering berkumpul dengan seluruh kelompok masyarakat, semangat mereka akan bangkit karena merasa setara. Mereka tidak akan merasa minder dan terbukti mereka bisa berkarya untuk membangun Kota Batu. Sudah banyak contohnya, ada teman-teman disabilitas yang memiliki usaha kuliner, budidaya bonsai, hingga musik. Bahkan, sudah banyak dari mereka yang bekerja di instansi Pemerintah Kota Batu maupun di sektor swasta,” paparnya.
Fakta ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat dan lingkungan yang inklusif, penyandang disabilitas mampu mandiri dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah. Mereka tidak lagi bergantung pada belas kasihan, melainkan berdaya sebagai pelaku usaha dan tenaga profesional.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kegiatan yang digagas oleh Rumah Inklusi dan Berkah Rangkul Resto & Cafe ini diharapkan menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah. Dengan semangat kebersamaan yang dijaga, diharapkan tidak ada lagi warga yang merasa termarginalkan, dan Kota Batu dapat terus bertransformasi menjadi kota yang benar-benar ramah bagi semua kalangan.
Penulis : Ria.
Editor : Tim Pendidikannasional.id


IBu Achiana ( Ana ) ketika mendampingi putranya ( Kenzi ) tampil di Berkah Rangkul dengan membawakan lagu lagunya. ( Foto : Tim ). 
