Inklusivitas dalam Aksi. Shindi Mewarnai Peringatan Haul Gus Dur ke-16, Wujudkan “Everyone Can Fly”
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat inklusivitas dan penghormatan terhadap keragaman yang menjadi warisan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), diwujudkan dalam bentuk partisipasi nyata. Kelompok Shindi (Shining Disabilitas), sebuah inovasi dari Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, turut serta memeriahkan puncak peringatan haul Gus Dur ke-16 di Gedung Graha Pancasila Among Tani, Sabtu (7/2/2026) siang. Kehadiran mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan simbol konkret dari prinsip pluralisme dan perlindungan bagi kaum mustadh’afin (tertindas) yang kerap diperjuangkan Gus Dur.
Thomas Maydo, S.Sos., selaku Pembina Shindi, dalam wawancara di lokasi acara menegaskan filosofi di balik keterlibatan tersebut. “Ya, kami sangat senang sekali. Pada kegiatan Haul Gus Dur ini, semua elemen masyarakat terlibat, baik itu lintas agama, lintas budaya, seni, termasuk rekan-rekan disabilitas,” ujarnya. Pernyataan ini menekankan bahwa peringatan tersebut dipahami sebagai ruang bersama yang mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Maydo lebih lanjut menjelaskan bahwa partisipasi Shindi merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan. “Kami dari inovasi Kecamatan Bumiaji, yaitu Shindi (Shining Disabilitas), selalu melibatkan mereka setiap kali ada acara. Salah satunya pada hari ini, teman-teman disabilitas juga ikut berpartisipasi dalam rangkaian acara.” Pendekatan ini menunjukkan bahwa inklusi disabilitas telah diintegrasikan ke dalam kebijakan program kemasyarakatan tingkat kecamatan, bergerak melampaui sekadar retorika menuju praktik sistematis.
Komitmen tersebut, menurut Maydo, akan terus berlanjut dalam agenda-agenda mendatang. “Selanjutnya, pada tanggal 10 nanti, Shindi juga akan berkolaborasi dengan Labuni untuk tampil di ATV. Kemudian pada tanggal 14, saat Musrenbang Kecamatan, akan ada lagi kolaborasi antara Labuni, Shindi, dan lingkungan.” Jadwal ini mengindikasikan dua strategi penting. pertama, peningkatan visibilitas publik melalui media lokal (ATV), dan kedua, yang lebih krusial, adalah penetrasi ke dalam ranah perencanaan pembangunan formal melalui Musrenbang. Keikutsertaan dalam forum perencanaan tersebut merupakan langkah strategis untuk memastikan perspektif dan kebutuhan penyandang disabilitas terdengar dan terakomodasi dalam kebijakan publik.

Ketika ditanya apakah Shindi memang diharapkan untuk terus aktif mewarnai berbagai kegiatan, Maydo merujuk pada moto yang mendasari gerakan mereka. “Ya, jadi moto dari Shindi adalah ‘Everyone Can Fly’ atau ‘Semua Orang Bisa Terbang’. Jadi, kami hadir untuk mewarnai.” Moto ini berfungsi sebagai landasan filosofis sekaligus kerangka aksi. Konsep “terbang” merepresentasikan potensi, kemandirian, dan aspirasi setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, untuk berkontribusi dan bersinar dalam masyarakat. Sementara “mewarnai” menegaskan peran mereka sebagai agen aktif yang memperkaya khazanah sosial-budaya, bukan sebagai objek pasif belas kasihan.

Salah satu anggota Shindi, Eko dan Gatot, yang akrab disapa Bemo, juga membagikan pengalamannya. Meski kutipan lengkapnya tidak disertakan dalam laporan ini, kehadiran suara langsung dari anggota menunjukkan upaya pemberitaan yang tidak hanya menyoroti kebijakan dari “atas”, tetapi juga menyertakan narasi dan agensi dari para pelaku utama. Hal ini sejalan dengan prinsip jurnalisme inklusif yang memberikan ruang bagi kelompok yang sering terpinggirkan dalam pemberitaan.
Secara analitis, partisipasi Shindi dalam Haul Gus Dur dan agenda-agenda berikutnya merepresentasikan beberapa kemajuan signifikan. Pertama, terjadi pergeseran dari paradigma charity (amal) menuju empowerment (pemberdayaan). Penyandang disabilitas diposisikan sebagai subjek yang berkarya dan menyuarakan aspirasi. Kedua, adanya sinergi antara elemen masyarakat (Shindi, Labuni, lingkungan) yang dibangun secara kolaboratif, memperkuat jejaring sosial inklusif. Ketiga, pendekatan multi-platform mulai dari acara keagamaan-budaya, media televisi, hingga forum perencanaan menunjukkan strategi komunikasi dan advokasi yang komprehensif.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan demikian, kehadiran Shindi tidak lagi bersifat insidental, melainkan telah membentuk sebuah model inklusi sosial berbasis komunitas. Mereka adalah representasi hidup dari nilai-nilai Gus Dur yang terus berdenyut di tingkat akar rumput, membuktikan bahwa dalam semangat kebinekaan yang sejati, benar bahwa setiap orang bisa terbang.
( Ria ).


Pembina Shindi, Thomas Maydo ketika bersama anggota anggotanya ( Foto : Tim ). 
