Momen Haru di Haul Gus Dur Anak Autis Kota Batu Serahkan Cendera Mata Langsung ke Wali Kota

Momentum Bersejarah. Penyandang Disabilitas Kota Batu Serahkan Cendera Mata ke Wali Kota pada Haul Gus Dur ke-16

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Sebuah momen mengharukan dan penuh makna tercatat dalam peringatan Haul Gus Dur ke-16 di Gedung Graha Pancasila Among Tani, Kota Batu, Sabtu (7/2/2026) siang. Dalam acara yang penuh khidmat itu, seorang anak penyandang disabilitas, Dwi, yang merupakan penyandang autisme, berhasil mewujudkan cita-citanya untuk secara langsung memberikan cendera mata atau “tali asih” kepada Wali Kota Batu, Nur Rochman.

Kejadian tersebut tidak hanya menjadi sorotan tetapi juga simbol pengakuan atas partisipasi dan keberadaan kaum disabilitas dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Aksi sederhana Dwi disambut hangat oleh Wali Kota dan seluruh hadirin, menciptakan atmosfer inklusivitas yang kuat.

Sugiati IBu dari Dwi ketika mengungkapkan ke awak media.
Sugiati IBu dari Dwi ketika mengungkapkan ke awak media.

Dalam dialog singkat kedua orang tua Dwi dengan awak media usai acara, ibu Sugiati dan bapak Kusrianto mengungkapkan kebanggaan dan rasa syukur yang mendalam. “Alhamdulillah, cita-cita Dwi yang ingin memberikan tali asih kepada Bapak Wali Kota Nur Rochman akhirnya terwujud,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Lebih dari sekadar ungkapan syukur, sang ibu menyampaikan harapan besar bagi masa depan kaum disabilitas di Kota Batu. “Semoga Bapak Nur Rochman untuk selamanya dan seterusnya selalu menyayangi anak-anak disabilitas dan terus menjadi pelindung bagi kaum disabilitas, khususnya di Kota Batu,” tuturnya. Harapan ini merepresentasikan aspirasi banyak keluarga yang memiliki anggota dengan disabilitas, menginginkan komitmen berkelanjutan dari pemangku kebijakan.

Dwi ketika di podium bersama Tokoh Pemuka Agama, Wali Kota Batu
Dwi ketika di podium bersama Tokoh Pemuka Agama, Wali Kota Batu

Momen pemberian cendera mata oleh Dwi kepada Wali Kota Batu,Nur Rochman pada Haul Gus Dur ke-16 ini mengandung nilai simbolis yang dalam. Ia merefleksikan penghargaan atas jasa dan teladan almarhum Gus Dur, figur yang dihormati di masyarakat.  Peristiwa ini menegaskan bahwa ruang publik dan acara kenegaraan atau kemasyarakatan haruslah inklusif, terbuka bagi partisipasi semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali penyandang disabilitas.

Respons positif dari Wali Kota Nur Rochman menjadi sinyal politik yang penting. Penerimaan dan penghormatan yang ditunjukkan oleh kepala daerah dapat ditafsirkan sebagai bentuk pengakuan negara (dalam hal ini pemerintah daerah) atas hak-hak penyandang disabilitas, sebagaimana yang dijamin dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Dwi ketika membawakan lagu dalam acara Haul Gus Dur
Dwi ketika membawakan lagu dalam acara Haul Gus Dur

Peristiwa ini dapat dibaca dalam kerangka disability rights movement dan konsep citizenship yang inklusif. Partisipasi Dwi adalah bentuk nyata dari “agency” atau keagenan penyandang disabilitas, di mana mereka bukan lagi dipandang sebagai objif belas kasihan, melainkan sebagai subjek hukum yang aktif, memiliki keinginan, cita-cita, dan kapasitas untuk terlibat. Harapan sang ibu juga menyentuh konsep duty bearer, di mana negara (dalam hal ini pemerintah kota) diharapkan secara konsisten menjalankan kewajibannya sebagai pelindung dan pemenuh hak bagi warga disabilitas.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/wali-kota-batu-beri-mandat-khusus-kepada-pj-sekda-baru-eko-suhartono/

Bagi media dan masyarakat luas, momentum ini hendaknya menjadi pengingat dan pendorong untuk terus membangun ekosistem sosial yang ramah disabilitas. Mulai dari infrastruktur fisik, aksesibilitas layanan publik, hingga penghapusan stigma dan diskriminasi di tingkat kultural perlu mendapat perhatian serius.

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Haul Gus Dur ke-16 di Kota Batu akan dikenang tidak hanya sebagai acara tradisi keagamaan dan kultural, tetapi juga sebagai titik terang dalam perjalanan menuju kota yang benar-benar inklusif. Cendera mata dari Dwi bukan sekadar benda kenangan, melainkan gentle reminder tentang tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk penyandang disabilitas, yang tertinggal dalam pembangunan. Tindakan Wali Kota Batu, Nur Rochman menerima dengan tangan terbuka patut diapresiasi, namun yang lebih penting adalah tindak lanjut kebijakan yang konkret dan berkelanjutan untuk mewujudkan harapan seorang ibu dan putranya, serta seluruh kaum disabilitas di Kota Batu.

 

( Ria ).

Array
Related posts
Tutup
Tutup