Dari Kebun Alpukat Kota Batu ke Lahan Lombok.Sebuah Pertukaran Ilmu Budidaya Avokad Mentega
Kota Batu, Jawa Timur, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di antara sejuknya udara dan hamparan hijau lereng Gunung Arjuno, sebuah kegiatan pertukaran ilmu pertanian yang unik dan mendalam berlangsung di Dusun Sabrang Bendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Lahan kebun alpukat seluas kurang lebih setengah hektar milik Robiyan, Ketua Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN), menjadi ruang kelas alam bagi Dave (45), seorang guru Bahasa Inggris asal Australia yang bertekad membawa ilmu budidaya alpukat, khususnya jenis mentega khas Batu, ke Pulau Lombok.
Kegiatan ini bermula dari ketertarikan Robiyan pada dunia buah-buahan sejak kecil, yang kini berkembang menjadi komitmen untuk mendalami dan menyebarkan ilmu budidaya avokad secara tepat guna. “Intinya, sejak kecil saya menyukai buah-buahan. Saat ini, saya ingin terus belajar, mengenal, memahami, dan membagikan cara berbudidaya avokad dari berbagai jenis, terutama jenis mentega yang menjadi unggulan daerah kami,” ujar Robiyan, menyambut Dave dan tim.

Proses pembelajaran yang dilakukan bersifat aplikatif langsung di lapangan. Robiyan memaparkan tahapan budidaya secara sistematis, mulai dari pembibitan melalui teknik stek, persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga indikator panen. Untuk penanaman, dijelaskannya, jarak antarpohon minimal satu meter. Lahan harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan penggemburan tanah, pemberian pupuk dasar, dan pembuatan lubang tanam berkedalaman sekitar 20 cm dengan luas 50 cm persegi.
“Sebelum bibit ditanam, dasar lubang perlu diberikan pupuk kandang setebal kurang lebih 10 cm. Setelah bibit diletakkan, lubang diuruk kembali dengan tanah. Langkah krusial berikutnya adalah pemasangan ajir atau penopang untuk memperkuat tegaknya bibit muda terhadap angin,” jelas Robiyan sambil mempraktikkan. Ia menekankan bahwa dalam tradisi lokal, menanam bukanlah kegiatan sembarangan. “Ada tata cara dan hitungan menurut kearifan Jawa, dengan harapan apa yang ditanam memberikan hasil yang optimal dan berkah,” tambahnya.

Fokus budidaya di kebun seluas sekitar 1.000 meter persegi yang menaungi 60 pohon alpukat mentega ini adalah pada keaslian dan kualitas. Robiyan dengan bangga menyatakan bahwa avokad mentega adalah hasil asli Kota Batu yang banyak diminati tengkulak dari berbagai daerah. “Buah alpukat mentega ini memang hasil asli Kota Batu. Banyak tengkulak dari kota lain yang mengambil buah alpukat itu dari sini,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, Robiyan menerapkan perawatan khusus. Jenis alpukat mentega di kebunnya terdiri dari empat varietas, semuanya dibudidayakan dengan mengutamakan pupuk organik, khususnya kotoran kambing (Kohe) yang dikombinasikan dengan kapur untuk menyeimbangkan pH tanah. Keunikan lainnya adalah teknik pengelolaan lahan di bawah tajuk pohon. “Di area bawah pohon, kami tidak memberikan penutup atau tanaman pelindung. Ini agar akar pohon mendapatkan sirkulasi udara maksimal dan langsung terkena sinar matahari, yang dipercaya mendukung pertumbuhan yang lebih sehat,” terangnya.

Siklus budidaya dimulai dari pembibitan stek yang dipelihara selama satu tahun sebelum akhirnya siap ditanam di lahan permanen. Pemupukan lanjutan, menurut Robiyan, memiliki waktu yang strategis. “Kami memulai pemupukan intensif saat tanah mulai mengering atau memasuki musim kemarau, kurang dari satu bulan sebelum musim kemarau tiba, lahan sudah harus dipersiapkan,” jelasnya. Sementara tanda panen ditandai dengan perubahan warna kulit buah yang menjadi indikator kematangan optimal.
Kedatangan Dave ke kebun Robiyan bukan tanpa alasan. Pria yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah internasional ini memiliki ketertarikan mendalam pada pertanian berkelanjutan. “Saya memiliki istri yang berasal dari Lombok, dan di sana kami mempunyai sebidang lahan. Yang menarik, karakteristik iklim dan ketinggian lahan kami di Lombok ternyata sangat mirip dengan kondisi di Kota Batu ini,” ujar Dave, antusias.

Kesamaan kondisi agro,kalimat inilah yang mendorong Dave untuk mencari ilmu langsung dari sumbernya. “Ini sesuai dengan hobi saya dan istri untuk mengembangkan budidaya tanaman. Saya berharap bisa mendapatkan rekomendasi dan observasi langsung berdasarkan pengalaman Pak Robiyan perihal tata cara budidaya buah alpukat secara lengkap, mulai perawatan sampai panennya,” paparnya.
Dave berharap ilmu yang didapatkannya dapat diadaptasi dan dikembangkan di Pulau Lombok. “Harapan besar saya, pengetahuan ini dapat kami terapkan dan kembangkan di Lombok, sehingga nantinya tidak hanya memuaskan hobi, tetapi juga bisa memberikan manfaat ekonomi dan mungkin bahkan bagi masyarakat sekitar di sana,” tuturnya penuh harap.

Kunjungan dan proses belajar-mengajar lintas negara ini diapresiasi oleh Robiyan sebagai bagian dari upaya melestarikan dan mendiseminasikan kearifan lokal pertanian. “Kami dari PPBN sangat terbuka dengan kegiatan seperti ini. Kedatangan tamu dari Australia ini menunjukkan bahwa ilmu pertanian tradisional kita memiliki nilai yang diakui dan bisa dipertukarkan secara global,” ujarnya.
Interaksi antara Robiyan dan Dave ini merepresentasikan sebuah simbiosis mutualisme dalam dunia pertanian,antara pengetahuan lokal yang teruji dengan kebutuhan pengembangan di lokasi baru dengan karakteristik serupa. Kegiatan ini tidak hanya sekadar transfer teknis budidaya, tetapi juga menjadi jembatan budaya dan pengetahuan dari pegunungan Kota Batu menuju pulau Lombok.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan bekal ilmu dari kebun alpukat mentega Kota Batu, Dave berencana memulai proyek percontohan di lahannya di Lombok. Sementara Robiyan melihat ini sebagai langkah awal untuk menjadikan kebunnya sebagai salah satu pusat pembelajaran budidaya alpukat organik yang dapat dikunjungi oleh siapa saja, baik dari dalam maupun luar negeri, yang tertarik pada pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Kolaborasi sederhana ini diharapkan dapat menumbuhkan jejaring pertanian organik yang lebih luas, meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal, dan melestarikan praktik budidaya yang ramah lingkungan.
( Ria ).


Robiyan Ketika Menunjukan Pohon Alpukat yang masih muda dan sudah berbuah ( Foto : Ria ). 
