
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Menyulam Kenangan Gus Dur dalam 12 Jam Puisi Festival Sastra Kota Batu Menghidupkan Kembali Warisan Sang Guru Bangsa
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Kota Apel kembali menjadi episentrum sastra dan refleksi kebangsaan yang hangat. Rangkaian ketiga peringatan Haul ke-16 Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), digelar meriah melalui Festival Sastra bertajuk “Sastra Masyarakat dan Memasyarakatkan Sastra”. Acara kolaboratif ini merupakan hasil sinergi antara komunitas Puisi Esai Jawa Timur, Satu Pena Jawa Timur, dan Perguruan Taman Siswa Batu, menegaskan bahwa warisan pemikiran Gus Dur tak pernah lekang oleh waktu.
Bertempat di Aula Mbah Hasyim Asy’ari, Gedung PCNU Kota Batu, suasana khidmat namun penuh keakraban menyelimuti acara sejak pembukaan. Festival ini tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi sebuah ikhtiar kolektif untuk merawat ingatan akan nilai-nilai pluralisme, humanisme, dan keberpihakan pada kaum marginal yang menjadi napas perjuangan Gus Dur.

Dalam prakata pembuka, Ketua Panitia, Yuli Efendi Mas’ud (Yem), menekankan peran sastra sebagai medium efektif untuk mentransmisikan gagasan besar. “Sastra yang lahir dari hati masyarakat dan kembali pada mereka adalah jembatan terkuat untuk menginternalisasi ajaran Gus Dur. Kita tidak hanya mengenang, tetapi menghidupkannya dalam setiap baris puisi dan cerita,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Sarbumusi, Gus Idur (Rudianto). Ia menegaskan bahwa semangat Gus Dur dalam membela keadilan dan kebinekaan harus terus digaungkan, dan sastra adalah suara yang mampu menjangkau semua kalangan.

Sementara itu, Ketua Satu Pena Jawa Timur, Drs. Akaha Taufan Aminudin, menyoroti dimensi historis dari kegiatan ini. “Setiap karya yang dilahirkan malam ini adalah dokumen hidup, catatan perjalanan bangsa tentang seorang tokoh yang mengajarkan kita cara mencintai Indonesia tanpa syarat,” tuturnya.


Keunikan acara ini ditambah dengan kehadiran dan pernyataan Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos., yang hadir tidak hanya sebagai pejabat, tetapi juga pencinta seni dan budaya. “Gus Dur mengajarkan bahwa kepemimpinan yang manusiawi harus berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Festival seperti ini adalah oksigen bagi jiwa bangsa,” ucap Thomas Maydo, yang juga turut membawakan puisi pada sesi inti acara.
Puncak acara adalah “Pembacaan Puisi 12 Jam Nonstop”, sebuah format yang ambisius dan berhasil menyedot perhatian. Puluhan pembaca dari beragam profesi, agama, usia, dan daerah bergantian mengisi panggung, membuktikan bahwa pesona Gus Dur menyatukan perbedaan.

Eko Windarto membuka dengan trilogi “Jejak Gus Dur, Demokrasi Kenegaraan, dan Pluralisme”, diikuti Inggit dengan puisinya yang lembut namun mendalam. Sorotan khusus datang dari Pendeta GPIB Margo Mulyo Batu, Mareks Joseph, yang membawakan “Gus Dur Jembatan Cinta Negeri”. Pembacaannya yang khidmat menegaskan bahwa teladan Gus Dur sebagai perekat bangsa melampaui sekat-sekat agama.

Penampilan penuh ekspresi dan emosional disuguhkan Mad Berlin melalui “Aku Diteras Rumahmu Gus”, membawa audiens pada sebuah perenungan intim tentang kediaman pikiran Gus Dur yang selalu terbuka. Ki Sutopo, yang sebelumnya memandu alunan Mocopat bernuansa Jawa, kembali membawakan “Gus Dur Idolaku” dengan penghayatan yang kental.

Keragaman penyaji menjadi ciri khas acara ini. Zainul Mutakin hadir dari Lamongan, Ahmad Jazuli dengan “Gus Dur Milik Kita Semua”, Ali Surakhman dari Lumajang membawakan “KH. Abdurrahman Wahid di Mataku dan di Mata Hatiku”, serta Ririn dari Kasembon dengan “Doaku Untukmu Gus Dur”. Panca Rakhmad Pamungkas mengangkat tema kepahlawanan melalui “Sang Teladan, Sang Pemberani”.

Seperti yang dijanjikan dalam kesempatanya Camat Bumiaji Thomas Maydo turun ke panggung dan membacakan puisi berjudul “Gus Dur Cinta Kasih Yang Tak Pernah Mati”, sebuah refleksi dari sisi birokrat yang menghayati nilai-nilai pelayanan publik yang humanis. Acara kemudian ditutup dengan penampilan menggugah dari Husmiati, S.Pd., berjudul “Pahlawan Kebenaran”, mengingatkan semua tentang keteguhan Gus Dur dalam membela kebenaran meski kerap tidak populer.

Lebih dari sekadar seremonial, Haul Gus Dur ke-16 di Kota Batu ini telah berhasil mentransformasikan diri menjadi sebuah gerakan kebudayaan yang hidup. Kolaborasi antara komunitas sastra, organisasi masyarakat (NU/Sarbumusi), dan dunia pendidikan (Taman Siswa) menunjukkan praktik nyata dari semangat gotong royong yang selalu didengungkan Gus Dur.

Melalui Mocopat, pembacaan puisi esai, cerpen, dan maraton puisi 12 jam, nilai-nilai Gus Dur disampaikan tidak dalam bahasa doktriner, tetapi dalam bahasa rasa, imajinasi, dan keindahan yang langsung menyentuh hati. Festival ini membuktikan bahwa “memasyarakatkan sastra” dan “mensastarakan masyarakat” adalah dua sisi mata uang yang sama untuk menjaga ingatan kolektif bangsa agar tetap jernih dan humanis.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan suksesnya rangkaian ketiga ini, warisan Gus Dur tidak hanya dikenang, tetapi dirawat, dihidupi, dan dirayakan dalam bentuk yang paling demokratis,melalui kata-kata yang bebas, beragam, dan penuh cinta, tepat sebagaimana cara dia menjalani hidup dan memimpin bangsa.
( Ria ).



