Sarbumusi PCNU Batu Gelar Kirab Haul Gus Dur, Ajak Warga Jaga Pluralisme

https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia

Kirab Haul Gus Dur ke-16 di Batu Ribuan Warga Sambut Warisan Pluralisme dan Humanisme

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Memancarkan semangat persatuan dalam keragaman pada Jumat (2/1/2026). Ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang tumpah ruah, menyambut serangkaian kegiatan peringatan Haul Gus Dur ke-16 yang dipusatkan di Nala Ecopoint. Ratusan jama’ah terbang jidor (rebana) dan Fatayat NU Kota Batu menambah semarak suasana dengan iringan musik yang syahdu dan penuh khidmat.

Rangkaian acara dimulai dengan kirab budaya yang digelar oleh Sarbumusi PCNU Kota Batu, berkolaborasi erat dengan komunitas Rehwongso Negoro. Prosesi yang penuh makna ini berawal dari Kantor PCNU Kota Batu, bergerak khidmat menuju Taman Makam Pahlawan (TMP), sebelum akhirnya berakhir di Nala Ecopoint sebagai lokasi puncak acara. Kirab ini tidak hanya diikuti oleh unsur NU, tetapi juga menjadi magnet penyatu berbagai elemen masyarakat. Tampak hadir dalam barisan, perwakilan dari FKPPI, BRANTAS, KNPI, Banser, dan tentu saja, Rehwongso Negoro, menggambarkan betapa luasnya daya panggil sosok yang dikenang.

Ketua Saburmusi didampingi dari Wongso negoro ketika di Taman Makam Pahlawan
Ketua Saburmusi didampingi dari Wongso negoro ketika di Taman Makam Pahlawan

Di Taman Makam Pahlawan, momentum peringatan ini mencapai salah satu klimaksnya. Rudianto, Ketua Sarbumusi PCNU Kota Batu, mengajak seluruh peserta untuk sejenak merenung dan menghadirkan kembali dalam ingatan, segala jasa besar KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 Republik Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Sebelumnya, beliau juga dikenal sebagai tokoh humanisme dan pluralisme sejati. Beliau adalah pejuang bagi orang-orang yang teraniaya.Kita sangat bangga, pada hari ini seluruh elemen masyarakat hadir dan menyatu. Ini adalah pertanda nyata bahwa sosok Gus Dur bukan hanya milik nahdliyin, tetapi milik seluruh bangsa, menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuatan nyata Bhinneka Tunggal Ika.” ungkapnya Rudianto. 

Wongso negoro, FKPPI, BRANTAS, ketika di depan Taman Makam Pahlawan
Wongso negoro, FKPPI, BRANTAS, ketika di depan Taman Makam Pahlawan

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Kehadiran massa yang begitu beragam, dari kelompok pemuda hingga veteran, dari unsur budaya hingga organisasi kemasyarakatan, menjadi bukti visual yang hidup. Mereka semua bersatu untuk menghormati seorang guru bangsa yang meletakkan dasar-dasar toleransi, membela kaum minoritas, dan mencurahkan hidupnya untuk keadilan.

Usai penyampaian renungan, dilakukan deklarasi simbolis Gus Dur sebagai pahlawan nasional di areal TMP yang penuh khidmat. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Padamu Negeri” dengan penuh penghayatan, diikuti doa bersama yang dipanjatkan untuk seluruh arwah para pahlawan bangsa. Momen hening itu menyadarkan semua yang hadir tentang mata rantai perjuangan yang tidak terputus, dari para pahlawan pendahulu hingga Gus Dur yang melanjutkan estafet membela kemanusiaan.

Ketika Wali Kota Batu bersama Forkopimda serta seluruh jamaah dan ormas
Ketika Wali Kota Batu bersama Forkopimda serta seluruh jamaah dan ormas

Puncak acara kemudian berpindah ke Nala Ecopoint, yang disulap menjadi pusat kegembiraan dan refleksi. Ribuan warga yang telah menunggu menyambut dengan meriah. Suara terbang jidor yang energik bersaut-sautan, mengiringi diskusi santai, pertunjukan budaya, dan silaturahmi akbar. Acara ini berhasil mentransformasi nilai-nilai Gus Dur pluralisme, humanisme, dan kecintaan pada budaya dari konsep abstrak menjadi suatu perayaan bersama yang hidup, nyata, dan menyentuh hati.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/kapolda-kepri-salurkan-tali-asih-di-pos-pam-nagoya-hill-batam-jaga-kamtibmas-nataru/

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Kegiatan Haul Gus Dur ke-16 di Batu ini lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia adalah reaktualisasi nilai-nilai luhur di tengah tantangan zaman. Ia membuktikan bahwa warisan Gus Dur tetap relevan menjadi pemersatu, pengingat untuk terus membela yang lemah, dan peneguh komitmen bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi semua. Kota Batu, dengan keindahan alam dan keramahan warganya, hari itu menjadi miniatur Indonesia yang dicita-citakan Gus Dur: beragam, bersaudara, dan penuh senyuman.

 

( Ria ).

Array
Related posts
Tutup
Tutup