Semangat Band Disabilitas ‘Pede’ Menyala di Festival Nala 2025

Kolaborasi Group Band Pede ( Power of Disabilitas ) bersama Shindi ( Shining Disabilitas ) ketika perform di Nala Festival 2025

Band “Power of Disabilitas (Pede)” Warnai Nala Festival 2025 dengan Semangat Inklusivitas

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID  – Semangat inklusi dan kesetaraan bergema di atas panggung Nala Festival 2025. Salah satu momen yang paling menyentuh dan inspiratif datang dari penampilan grup band “Power of Disabilitas” yang akrab disapa Pede. Kelompok ini tidak hanya membawakan musik, tetapi juga menjadi simbol nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkreasi dan berprestasi.

Yang menarik, band ini dibina langsung oleh Thomas Maydo, yang dikenal masyarakat tidak hanya sebagai Camat Bumiaji, Kota Batu, tetapi juga sebagai sosok penggerak di balik komunitas Shining Disabilitas (Shindi) Kecamatan Bumiaji. Kehadirannya di festival ini mempertegas komitmennya yang tidak setengah-setengah dalam membina dan memberdayakan penyandang disabilitas di wilayahnya.

Pembina Shindi dan Pede ketika bersama Dilah menyumbangkan lagu di Nala Festival 2025
Pembina Shindi dan Pede ketika bersama Dilah menyumbangkan lagu di Nala Festival 2025

“Ini adalah wujud nyata bahwa seni dan musik adalah ruang terbuka untuk semua. Semangat mereka, energi mereka, adalah kekuatan yang menginspirasi kita semua,” ujar Thomas Maydo, yang dengan penuh kebanggaan menyaksikan anak binaannya tampil percaya diri.

Band Pede menampilkan formasi yang solid dan penuh harmoni. Di panggung, mereka terdiri atas Dito (Lead Vocal), Bemmo (Gitar 1), Dhani (Gitar 2), Echoz (Bass), E’eng (Drum), Vera (Keyboard), dan Okta (Backing Vocal). Masing-masing anggota menunjukkan kompetensi dan chemistry yang baik, membuktikan bahwa proses latihan yang intens di bawah binaan telah membuahkan hasil yang memukau.

Dito Vokalis Group Band Pede membawakan lagu berjudul "Mangu"
Dito Vokalis Group Band Pede membawakan lagu berjudul “Mangu”

Mereka membuka penampilan dengan menyuguhkan lagu berjudul “Mangu”. Alunan musik yang energik dan vokal yang penuh rasa berhasil menyedot perhatian penonton. Aplikasi mereka pada instrumen dan mikrofone menunjukkan tekad yang luar biasa, mengubah setiap not menjadi cerita tentang kegigihan.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/gor-gajah-mada-jadi-saksi-pelantikan-pengurus-forki-kota-batu-periode-2025-2029/

“Mereka adalah bukti bahwa dengan dukungan dan kesempatan yang tepat, potensi setiap individu bisa bersinar,” tambah Thomas Maydo saat memberikan apresiasi.

Tampak anggota Bandnya yaitu Vera pegang Orgen, Echoz mainkan Gitar Bass
Tampak anggota Bandnya yaitu Vera pegang Orgen, Echoz mainkan Gitar Bass

Usai penampilan band, festival semakin berwarna dengan kehadiran dua penyanyi cilik penyandang disabilitas lainnya, yaitu Kenzi (5 tahun) dan Dillah (9 tahun). Dengan penuh keberanian dan keceriaan, mereka naik ke panggung untuk berkaroke. Suara lugu mereka yang menyanyikan lagu populer berhasil mencairkan suasana dan mengundai decak kagum serta tepuk tangan meriah dari seluruh audien. Momen itu menjadi pengingat haru bahwa semangat inklusi harus ditanamkan sejak dini.

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Penampilan kolaboratif ini di Nala Festival 2025 bukan sekadar pertunjukan biasa. Ia adalah narasi pembelajaran sosial yang powerful. Festival yang biasanya identik dengan hiburan, kali ini berhasil mengangkat dimensi edukasi dan empati yang lebih dalam. Setiap chord musik dan setiap lirik yang dinyanyikan oleh anggota Pede serta kedua anak kecil tadi, adalah seruan untuk melihat kemampuan, bukan keterbatasan.

Tampak Bemmo memainkan Gitar ( 1 )
Tampak Bemmo memainkan Gitar ( 1 )

Thomas Maydo, selaku pembina, menegaskan bahwa dukungan bagi penyandang disabilitas harus bersifat holistik dan berkelanjutan. “Ini baru awal. Melalui seni, kita bisa membangun kepercayaan diri mereka. Pede dan Shindi adalah wadah untuk itu. Target kami selanjutnya adalah tidak hanya tampil di lokal, tetapi bisa go regional bahkan nasional, agar pesan inklusivitas ini semakin meluas,” paparnya dengan penuh optimisme.

Keikutsertaan Band Pede dalam Nala Festival 2025 telah menorehkan makna baru tentang keberagaman dan kekuatan kolaborasi. Mereka tidak hanya ‘mewarnai’, tetapi juga ‘menerangi’ festival dengan cahaya semangat humanis. Acara seperti ini diharapkan dapat memantik kesadaran publik dan pemerintah daerah lainnya untuk lebih membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi penyandang disabilitas di berbagai sektor, karena setiap individu berhak untuk bersinar dan didengar.

 

( Ria ). 

Array
Related posts
Tutup
Tutup