Warisan Budaya Kota Batu Hidup di Nala Festival 2026, Paguyuban Sanduk Mbatu Aji Tampil Memukau

https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia

Paguyuban Seni Sanduk Mbatu Aji Pukau Penonton di Nala Festival 2026, Usung Semangat Gotong Royong

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat pelestarian budaya dan kebersamaan menyala dalam gelaran Nala Festival 2026. Pada hari ketujuh festival, penampilan memukau datang dari Paguyuban Seni Sanduk Mbatu Aji Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Dengan motto “Guyub-Rukun-Sae”, paguyuban yang telah berdiri sejak 2002 ini membuktikan bahwa kesenian tradisi bukan hanya tentang masa lalu, melainkan daya hidup yang energik dan relevan.

Paguyuban yang dikomandani Sukadi ini menyajikan sebuah pertunjukan kolosal yang kompak dan penuh vitalitas. Mereka tidak hanya menampilkan Sanduk Kabudayan, kesenian khas Batu yang merupakan perpaduan tari, musik, dan nyanyian dengan properti alat-alat tradisional dan modern, tetapi juga menghadirkan Banteng Monel. Kesenian Banteng Monel sendiri memiliki prestasi internasional, pernah ditampilkan di Jepang, dan menjadi simbol kearifan lokal Batu yang kuat. Keunikan lain terletak pada komposisi anggotanya yang lintas generasi, mulai dari usia dini hingga manula, mencerminkan keberlangsungan warisan budaya.

Ketua dan Pembina ketika bersama sama di pentas
Ketua dan Pembina ketika bersama sama di pentas

“Pada saat ini kami menampilkan beberapa kesenian yang kami miliki antara lain sanduk kabudayan, campursari, banteng monel, karawitan. Semoga Paguyuban Seni Sanduk Mbatu Aji yang dibina oleh Bapak Thomas Maydo ini semakin berkembang dan maju,” ujar Sukadi, sang pimpinan paguyuban, usai tampil. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada panitia festival yang telah memberikan ruang bagi ekspresi budaya mereka.

Sukadi mengungkapkan bahwa total anggota paguyuban mencapai lebih dari 200 orang, dengan sekitar 60 orang yang tampil pada festival kali ini. “Semoga dengan sarana ini bisa mengembangkan dan melestarikan budaya-budaya yang ada di Kota Batu,” tambahnya, menegaskan misi edukasi dan pelestarian yang diusung kelompoknya.

Camat Bumiaji Thomas Maydo turut bergoyang bersama anggota Paguyuban Sanduk Mbatu Aji dan masyarakat di Nala Festival
   · Istri Camat Bumiaji menyanyikan lagu "Gugur Gunung" dengan vokal apik di tengah penampilan Paguyuban Seni Sanduk Mbatu Aji
Camat Bumiaji Thomas Maydo turut bergoyang bersama anggota Paguyuban Sanduk Mbatu Aji dan masyarakat di Nala Festival. Istri Camat Bumiaji menyanyikan lagu “Gugur Gunung” dengan vokal apik di tengah penampilan Paguyuban Seni Sanduk Mbatu Aji

Penampilan paguyuban semakin meriah dengan kehadiran dan partisipasi aktif Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos., yang juga merupakan pembina paguyuban. Thomas tidak hanya menyaksikan, tetapi turut bergoyang mengikuti irama musik bersama anggota dan masyarakat, menyatu dalam euforia kebersamaan. Kemeriahan berlanjut ketika istri Camat Bumiaji menyumbangkan suara, menyanyikan lagu “Gugur Gunung” yang bertema gotong royong dengan olah vokal yang apik. Diketahui, beliau juga merupakan seorang pesinden berbakat. Keikutsertaan mereka menjadi magnet tersendiri, mengajak lebih banyak penonton untuk berjoget bersama, mengubah area pertunjukan menjadi panggung kebhinekaan yang hangat dan egaliter.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/sinergi-tni-polri-di-natuna-160-personel-diterjunkan-untuk-pengamanan-malam-tahun-baru/

Thomas Maydo, dalam kapasitasnya sebagai pembina dan camat, menyatakan kebanggaan dan kebahagiaannya atas pertunjukan tersebut. “Hal ini merupakan kesenian budaya yang harus dilestarikan keberadaannya. Budaya merupakan suatu aset ciri khas yang dimiliki suatu wilayah atau daerah sehingga sangat perlu kita jaga serta kita rawat,” tegas Thomas.

Camat Bumiaji bersama istri ketika bersama lembaga adat, tokoh masyarakat, dan pemilik Kopi Gandon
Camat Bumiaji bersama istri ketika bersama lembaga adat, tokoh masyarakat, dan pemilik Kopi Gandon

Ia menekankan dimensi edukatif dari kegiatan semacam ini. “Kesemuanya ini sebagai sarana memberikan edukasi yang positif untuk generasi penerus untuk lebih semangat lagi melestarikannya,” ungkapnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa di balik kemeriahan pertunjukan, ada misi strategis untuk menanamkan kesadaran budaya pada generasi muda, menjadikan tradisi sebagai fondasi identitas di tengah arus modernisasi.

Paguyuban Seni Sanduk Mbatu Aji, dengan performanya di Nala Festival 2026, telah menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang hidup, inklusif, dan menyenangkan. Mereka bukan sekadar menghidupkan kembali tradisi, tetapi mengembangkannya dalam kemasan yang atraktif sehingga mampu menarik minat semua kalangan. Kolaborasi antara komunitas seni, pemerintah kecamatan, dan masyarakat dalam acara ini adalah contoh nyata dari “gugur gunung” atau gotong royong untuk memajukan kebudayaan.

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Keberhasilan paguyuban ini menjadi inspirasi bahwa aset budaya lokal, seperti Sanduk dan Banteng Monel, memiliki potensi besar tidak hanya sebagai pemertahan identitas, tetapi juga sebagai daya tarik sosial dan bahkan pariwisata. Dengan semangat “Guyub-Rukun-Sae”, Paguyuban Seni Sanduk Mbatu Aji terus berkomitmen untuk membahana, membawa nama dan kearifan Kota Batu semakin dikenal, baik di dalam maupun luar daerah.

 

( Ria ). 

Array
Related posts
Tutup
Tutup