Power of Disability Tampil di Biara, Camat Bumiaji:Kita Sama di Hadapan Tuhan

Tampak Band Power of Disability berkolaborasi bersama Sanduk Mbatu Aji ketika memainkan alat musiknya. ( Foto : Tim ).

Merajut Kebhinnekaan di Bulan Suci.Haul Gus Dur dan Buka Bersama Lintas Iman sebagai Manifestasi Dialog Antarbudaya di Novisiat Karmel Batu

Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah hiruk-pikuk dinamika sosial kebangsaan yang kerap diuji oleh isu sektarianisme, Kota Batu kembali menorehkan tinta emas dalam kanvas toleransi Indonesia. Rangkaian peringatan Haul Gus Dur ke-16 tahun 2026 tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan untuk mengenang jasa Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata yang merefleksikan nilai-nilai pluralisme yang selama hidupnya ia perjuangkan. Acara puncak peringatan tersebut digelar di lokasi yang sarat akan nilai spiritualitas dan sejarah, yaitu Novisiat Karmel, Batu, pada Rabu, 25 Februari 2026, dengan agenda utama buka puasa bersama lintas iman.

Fenomena sosial keagamaan ini menjadi sebuah laboratorium hidup bagi praktik demokrasi dan kebhinnekaan. Pemilihan Novisiat Karmel, sebuah biara Katolik yang menjadi pusat pembinaan calon biarawan Ordo Karmel,sebagai tuan rumah acara buka puasa bersama yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dari latar belakang agama, suku, dan kondisi fisik yang berbeda, merupakan simbol diplomasi kultural yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa ruang sakral tidak selalu menjadi pemisah, melainkan dapat berfungsi sebagai jembatan penghubung antarkomunitas.

Kelompok Band Power of Disability hadir dalam acara buka bersama di Novisiat Carmel
Kelompok Band Power of Disability hadir dalam acara buka bersama di Novisiat Carmel

Kehadiran acara ini di tengah bulan Ramadan, bulan suci umat Islam, memberikan perspektif baru tentang bagaimana ibadah dan sosialisasi dapat berjalan beriringan tanpa kehilangan esensi masing-masing. Gus Dur, atau yang akrab disapa dengan panggilan “Guru Bangsa”, dikenal sebagai tokoh yang selalu menjembatani perbedaan. Spirit inilah yang coba dihidupkan kembali oleh panitia penyelenggara dengan menggandeng komunitas lintas iman dan kelompok marjinal untuk duduk bersama dalam satu meja perjamuan.

Baca Juga : 

Power of Disability Guncang Musrenbang Bumiaji, Bukti Disabilitas Mampu Berkreasi Tanpa Batas

Acara buka bersama ini bukan sekadar kegiatan seremonial berbagi takjil, melainkan sebuah forum dialog antarbudaya (intercultural dialogue) yang mempertemukan teks-teks suci dari berbagai agama dengan konteks sosial masa kini. Para peserta tidak hanya datang untuk menyantap hidangan, tetapi juga untuk menyaksikan secara langsung bagaimana harmoni sosial dapat tercipta ketika ego kelompok dikesampingkan demi kepentingan bersama yang lebih besar, yaitu persaudaraan sejati (ukhuwah basyariyah).

Kelompok Paduan Suara Lintas Iman dengan semangat bersama sama Sanduk Mbatu Aji melakukan gerakan ciri khas Sanduk Modern Kota Batu
Kelompok Paduan Suara Lintas Iman dengan semangat bersama sama Sanduk Mbatu Aji melakukan gerakan ciri khas Sanduk Modern Kota Batu

Dimensi penting lainnya yang membuat acara ini istimewa adalah partisipasi aktif dari kelompok disabilitas. Band “Power of Disability” (PD) turut meramaikan suasana buka bersama, membuktikan bahwa seni dan musik adalah bahasa universal yang mampu menembus segala batasan fisik dan sosial. Kehadiran mereka tidak hanya sekadar mengisi acara, tetapi menjadi elemen utama yang menambah nuansa teduh, hidup, dan damai dalam perjumpaan lintas iman tersebut.

Gatot, yang akrab disapa “Bemo”, anggota Power of Disability, dengan berkolaborasi bersama Sanduk Mbatu Aji menyampaikan testimoninya dengan penuh haru. 

Kelompok Band Power of Disability berkolaborasi Sanduk Mbatu Aji di ikuti anggota Biara Karmel ketika memainkan alat musiknya.
Kelompok Band Power of Disability berkolaborasi Sanduk Mbatu Aji di ikuti anggota Biara Karmel ketika memainkan alat musiknya.

“Kami sangat merasa bangga bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan buka bersama lintas iman yang bertempat di biara Karmel. Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi kami, sehingga eksistensi kami bisa diketahui oleh saudara-saudari kami dari agama Kristiani dan umat lainnya. Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkarya dan bersinergi dengan siapa pun,” ujarnya di sela-sela acara.

Baca Juga : 

Shindi, Inovasi Disabilitas Bumiaji, Buktikan “Everyone Can Fly” di Haul Gus Dur

Pernyataan Gatot ini menggarisbawahi pentingnya akomodasi yang layak (reasonable accommodation) bagi penyandang disabilitas dalam ruang-ruang publik, termasuk ruang ritual keagamaan. Partisipasi mereka di biara, sebuah tempat yang mungkin secara historis terkesan eksklusif, justru membuka mata publik bahwa inklusivitas adalah keniscayaan dalam masyarakat modern.

Dito Vokalis Band Power of Disability ketika tampil dengan menyumbangkan sebuah lagu lagunya.
Dito Vokalis Band Power of Disability ketika tampil dengan menyumbangkan sebuah lagu lagunya.

Di balik suksesnya acara ini, hadir sosok fasilitator yang konsisten mendorong inklusivitas. Thomas Maydo, S.Sos., yang menjabat sebagai Camat Bumiaji sekaligus Pembina kelompok Band Power of Disability, menegaskan bahwa perhatian terhadap kelompok disabilitas adalah sebuah kewajiban moral dan sosial. 

“Hakekatnya kita semua sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada perbedaan yang dapat mengurangi martabat kemanusiaan kita. Saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas ini sudah selayaknya mendapatkan perhatian dan ruang yang sama untuk berekspresi. Kelompok ini akan selalu ada untuk mewarnai di dalam segala acara apapun, karena mereka adalah bagian tak terpisahkan dari warna-warni masyarakat Bumiaji,” tegas Thomas Maydo.

Tampak anggota Band Power of Disability sedang menikmati menu berbuka puasa bersama sama
Tampak anggota Band Power of Disability sedang menikmati menu berbuka puasa bersama sama

Pernyataan Thomas ini merefleksikan teori pengakuan (recognition) dalam filsafat sosial, di mana identitas individu atau kelompok diakui dan dihargai dalam ruang publik. Dengan membawa kelompok disabilitas ke acara lintas iman, Thomas secara tidak langsung sedang membangun sebuah ekosistem sosial yang tidak hanya toleran, tetapi juga apresiatif terhadap perbedaan.

Di tengah ancaman disintegrasi yang kerap muncul akibat perbedaan keyakinan, aksi nyata seperti ini menjadi model resolusi konflik berbasis kearifan lokal. Para peserta diajak untuk mengalami sendiri bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan rahmat yang harus dirajut.

Sesi foto bersama-sama, Camat Bumiaji beserta Istri, Paduan Suara Lintas Iman, Sanduk Mbatu Aji dan Band Power of Disability
Sesi foto bersama-sama, Camat Bumiaji beserta Istri, Paduan Suara Lintas Iman, Sanduk Mbatu Aji dan Band Power of Disability

Serangkaian Haul Gus Dur di Kota Batu yang berpusat di Novisiat Karmel telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman yang ramah, toleran, dan inklusif dapat diimplementasikan dalam bingkai kebangsaan. Kolaborasi antara komunitas lintas iman, kelompok disabilitas, dan pemerintah kecamatan ini menjadi cermin bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang layak dihuni oleh siapa pun.

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Ketika lonceng biara berpadu dengan lantunan doa umat Islam yang berbuka puasa, dan ketika musik dari Power of Disability mengalun merdu di pelataran Novisiat Karmel, di situlah kita menyaksikan wajah asli Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika. Acara ini bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah lokal Batu, melainkan sebuah babak baru dalam narasi besar kerukunan umat beragama di Indonesia yang patut ditiru oleh daerah-daerah lain.

Dengan semangat Gus Dur, mari kita lanjutkan merawat Kebhinnekaan, bukan hanya di bulan suci, tetapi setiap hari, di setiap sudut negeri.

 

( Ria ).

Array
Related posts
Tutup
Tutup