Membangun Rumah Kumpul Generasi Papua Kota Batu Satukan Visi di Tengah Keberagaman
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Sore itu, suasana kekeluargaan begitu kental terasa di kediaman Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos, yang berlokasi di Jalan Hasanudin Gg. IV No. 24, Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu. Puluhan pemuda dan pemudi asal Papua yang menempuh pendidikan di Kota Batu berkumpul dalam satu tekad, membangun persaudaraan yang lebih kokoh.( 29/03/2026 ).
Pertemuan yang berlangsung ini bukan sekadar ajang silaturahmi biasa. Lebih dari itu, kegiatan yang dihadiri oleh siswa-siswi dari SMK Yos Sudarso Batu, SMA Immanuel Batu, hingga mahasiswa Poltekad ini menandai lahirnya wadah pemersatu yang diberi nama Rumah Kumpul Generasi Papua Kota Batu.

Menghilangkan Sekat, Menyatukan Visi
Hadir dalam kegiatan tersebut, Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos, menyampaikan bahwa inisiasi pertemuan ini didasari oleh keprihatinan melihat para pemuda pemudi Papua yang selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri, terkotak-kotak berdasarkan ikatan kedaerahan asal masing-masing.
“Kita ingin menghilangkan sekat-sekat perbedaan daerah asal. Seluruh pemuda Papua di Kota Batu harus merasa sebagai satu kesatuan. Kita tidak hanya ingin mereka eksis, tetapi juga memiliki legalitas formal agar bisa diakui pemerintah,” ujar Thomas ke awak media.
Baca Juga :
Dampingi Wapres Gibran, Wamendagri Ribka Tinjau Pendidikan hingga Pasar di Papua
Ia menekankan bahwa wadah ini tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial, tetapi juga pembangunan karakter. “Kita siapkan mental dan kedisiplinan mereka. Bukan hanya sukses di sini, tetapi juga nanti saat kembali ke daerah asal,” imbuhnya.

Rumah Kumpul, Lebih dari Sekadar Organisasi
Pembina lain yang turut menginisiasi, Muhammad Jamil, turut menyampaikan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab moral untuk merangkul adik-adik dari tanah kelahirannya. Lahir di Papua dan besar di Maluku, Jamil melihat perlunya sebuah ‘Rumah Kumpul’ bagi mereka.
“Kita sepakat namanya Rumah Kumpul Generasi Muda Papua Kota Batu. Istilah ‘rumah’ ini sangat dekat dengan budaya kita di Papua. Di dalam rumah, tidak ada sekat; jika satu sakit, semua merasakan,” jelas Jamil.
Peduli Kesehatan Personel TNI di Perbatasan Papua Barat Lakukan Pengobatan Gratis
Menurutnya, selama ini ada kesan bahwa pemuda Papua kerap termarginalkan atau memiliki sekat sosial. Melalui rumah kumpul ini, diharapkan stigma negatif dapat terhapus, digantikan oleh pengenalan adat dan budaya yang positif. “Kita ingin hidupkan kembali nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan mengarahkan seluruh perbedaan suku ini ke dalam satu rumah besar, yaitu NKRI,” tegasnya.

Program Nyata untuk Citra Positif
Sersan Kepala Yelin Roki Timotius Depondoye, mahasiswa Prodi Rekayasa Keamanan Siber Poltekad yang turut hadir, memaparkan bahwa organisasi ini akan bergerak dalam program-program konkret. Ia mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 100 pemuda Papua yang tersebar di berbagai SMA dan perguruan tinggi di Kota Batu.
“Kami tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu. Sebagai pendatang, kita harus menjadi tamu yang baik,” ujar Yelin.
Beberapa rencana agenda yang telah disusun antara lain pertemuan rutin bulanan, pelestarian budaya melalui tarian daerah, hingga kegiatan lintas agama. “Contohnya, saat Idulfitri nanti, kami berencana membantu pengamanan dan mengatur lalu lintas. Ini bentuk toleransi nyata. Kami ingin menunjukkan sisi lain Papua yang kaya budaya dan memiliki toleransi tinggi,” tambahnya.

Dukungan Penuh dari Pembina dan Guru
Pembina Asrama Putri SMK Yos Sudarso, Suster Yustina, CP, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, keberadaan wadah ini sangat penting untuk menjadi tempat komunikasi dan penyelesaian masalah, terutama bagi anak-anak asrama.
“Selama ini tanggung jawab pembinaan ada di pundak suster. Dengan adanya ‘Rumah Kumpul’, kakak-kakak senior bisa ikut membimbing adik-adiknya. Ini juga menjadi sarana edukasi etika merantau di tanah Jawa,” tutur Suster Yustina.

Senada dengan itu, Guru Sosiologi SMA Katolik Yos Sudarso, Ibu Monika, menekankan pentingnya bimbingan karakter bagi para siswa yang berusia 15-17 tahun.
“Perbedaan budaya antara Papua dan Jawa cukup signifikan. Masyarakat Jawa dikenal dengan tutur kata yang halus dan adab tinggi. Kegiatan ini menjadi jembatan agar siswa bisa lebih menghargai budaya setempat dan mengubah stigma negatif yang mungkin muncul,” ungkapnya.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/dandani-kuyawagetni-gelar-bakti-sosial-dan-salurkan-bantuan-presiden/
Komitmen Bersama dan Harapan Masa Depan
Mengakhiri pertemuan, para tokoh dan pembina menegaskan komitmen terhadap aturan yang berlaku. Setiap anggota diwajibkan menjauhi pelanggaran hukum dan menjaga kedisiplinan. Pembina berjanji akan memberikan sanksi tegas bagi siapa pun yang menyimpang, demi menjaga nama baik keluarga, daerah asal, dan institusi pendidikan.
“Wadah ini diharapkan tidak hanya seremonial. Ini harus menjadi warisan berkelanjutan bagi generasi pelajar Papua berikutnya di Kota Batu. Kami, para tokoh, akan pasang badan untuk membimbing adik-adik selama mereka berada di jalan yang positif,” pungkas Thomas Maydo.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan semangat kebersamaan dan rencana program yang matang, Generasi Papua Kota Batu siap menunjukkan kontribusi nyata, merekatkan kebhinekaan, dan menjadi bukti bahwa persaudaraan sejati mampu melampaui batas wilayah dan budaya.
Penulis : Ria.
Editor : Tim Redaksi.


Camat Bumiaji, Pembina dan Guru, serta Siswa Siswi dari berbagai sekolah di Kota Batu dan dari POLTEKAD ketika menyatukan visi dan misinya. ( Foto : Tim ). 
