Batu, Pendidikannasional.id – Dalam bertepatan dengan Hari Raya Waisak 2568 GUSDURian telah berkunjung ke Vihara untuk bersilaturahmi guna mempererat jalinan tali persaudaraan antar sesama umat beragama, kegiatan tersebut bertempat di Vihara Jl. Raya Ir. Soekarno pada hari Kamis, ( 23/05/2024 ).

Adapun dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua LDII Kota Batu atau yang mewakili beserta jajaran pengurus, Ketua dari agama Kristiani beserta seluruh jajaran, perwakilan dari Penghayat, perwakilan dari Khonghucu, perwakilan dari agama Budha dan Hindu, FKUB Kota Batu dan seluruh peserta yang hadir.
Pada kesempatanya selaku Bante Jae Maedo menyambut kedatangan GUSDURian Kota Batu dengan suka cita sekaligus menerangkan sedikit sejarah terkait berdirinya Vihara tersebut.

” Bahwasanya Vihara ini berdiri sejak sekitar tahun 1970 yang pendirinya berdua yaitu Kanti Daro dan Jae Medo. Patung Budha sendiri sebelumnya tidak ada yang ada hanya stupa, itu dikarenakan sang budha sendiri mengatakan “, kalau sang budha sendiri meninggal dunia abunya dikemanakan ? lalu beliau menjawab, taruh dalam stupa”. Nah Stupa itu apa ? ini loh jubahnya di letakan abunya di bungkus dan dilipat lalu atasnya ada mangkok tempat kita Trimadana Makana kemudian di atas itu ada tongkatnya nah itulah model stupa.” Jelas Bante Jae Maedo.
Jadi patung Budha sendiri jika dilihat itu mencermikan ciri ciri Budha yaitu mulai bentuk matanya, hidung lalu tidak punya tulang selangka atau dan lain lainya. Kemudian dilihat dari ciri ciri bangsanya dari patung kita sudah bisa melihat misalnya ini daerah Thailand, Miyanmar, Japan dll. Sehingga juga ada yang di tetapkan secara nasional.
” Yang kita hormati pada saat ini yaitu Budha Gautama ini historis yang bersejarah dan sudah di akui dunia, histori dimana lahirnya kemudian beliau bertapa mendapat pencerahan agung itu historiskel budha. Tetapi di percaya oleh kaum mahayana agama budha itu ada Tiga cabang utama yang paling tua itu Terawada ini.

Pada waktu yang berbeda Haris El Mahdi selaku koordinator GUSDURian mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian dari silaturahmi lintas iman, pertama kali kegiatan dalam perayaan Nyepi, hari Paskah kemudian Idul Fitri lalu Waisak.
” Kemudian nanti dalam bulan Muharam kita silaturahmi ke Penghayat yaitu 1 ( Satu ) Suro, ini merupakan rangkaian Satu tahun GUSDURian sebagai ritual untuk merawat toleransi antar umat beragama lintas iman di Kota Batu, untuk kegiatan ini di hadiri dari Muslim, umat Kristiani dari Paroki Gembala Baik,GKI, Gereja Jago, Penghayat , Pangestu Sapto Darmo dan ini semua masuk dalam program GUSDURian.” Ungkap Haris.
El Mahdi juga menambahkan bahwa”,kita berharap dengan adanya kegiatan silaturahmi lintas iman ini semoga di Kota Batu tidak ada intoleransi, dikarenakan banyak kita lihat banyak kasus jema’ah gereja di bubarkan kemudian gereja dirusak dan lain sebagainya dan kegiatan ini untuk menghapus atas prasangka prasangka buruk lintas iman di Kota Batu.” Harapnya.

Ditempat yang sama dari Universitas Wisnuwardhana Malang Fakultas Psikologi Putri dan Aini mengatakan merasa bersyukur dan senang bisa melihat dan mengikuti rangkaian hari raya waisak tersebut.
” Selama mengikuti hari raya waisak ini sangat senang dan bahagia bisa mengikuti rangkaian kegiatan tersebut, sehingga bisa menjadi pengalaman baru dan bertemu dengan orang orang penting di hari waisak ini.”Pungkasnya. ( Adi ).




