Usaha Halal Tanpa Korupsi,Kisah Inspiratif Sergio dan 180 Donat Pengantar Ngopi Pagi
Di tengah maraknya berita tentang korupsi yang menggerogoti negeri, seorang lelaki paruh baya asal Garut membuktikan bahwa rezeki yang halal dan menenteramkan hati bisa diraih dengan ketekunan dan kejujuran. Sergio, 52 tahun, dengan setia menjajakan 180 donat setiap pagi, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menghidupi keluarganya secara terhormat.
Brebes, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Pagi masih cerah di sebuah lokasi di Jawa Tengah, Sabtu (4/10) lalu. Sergio sudah sibuk menjajakan 10 kotak plastik berisi donat-donat menggiurkan. Dengan semangat, ia mempromosikan dagangannya, “Ada rasa coklat, kacang, stroberi, blueberry yang bisa menjadi teman anda ngopi dengan santai setiap paginya.”
Aroma manis menggoda itu berasal dari 180 donat yang ia bawa setiap harinya. Dengan harga Rp 8.000 per donat, jika ludes terjual, Sergio akan membawa pulang uang sebesar Rp 1.440.000. Angka yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi sangat bermakna baginya.
Uang hasil jerih payahnya itu tidak serta merta ia nikmati sendiri. Dengan penuh perhitungan, ia mengalokasikannya kembali untuk membeli bahan baku dan memberi upah asisten yang membantunya memproduksi donat-donat itu di rumahnya. Ini adalah siklus usaha yang sederhana namun penuh makna, mencari keuntungan yang halal untuk kemudian diinvestasikan kembali demi kelangsungan usahanya.
Lelaki 52 tahun asal Garut, Jawa Barat ini mengaku baru tiga tahun belakangan fokus menggeluti usaha donatnya. Ia memilih untuk memasarkan produknya langsung ke konsumen, sebuah model yang mungkin lebih melelahkan tetapi memberinya kendali penuh.
Meski menyadari peluang pengembangan usaha, seperti menitipkan produknya (konsinyasi) di warung-warung atau kedai kopi yang menjamur di Jateng. Sergio dengan rendah hati mengakui keterbatasannya. “Saya tahu bahwa dengan mengembangkan usaha melakukan konsinyasi di berbagai tempat jauh lebih efektif. Namun, modal saya belum cukup saat ini. Kebutuhan modal masih saya tabung,” ujarnya.
Namun, mimpi itu tidak pernah padam. Ia sudah memiliki visi ke depan dengan membangun merek SERGIO DONAT. “Sudah terpikir untuk membuat BRAND SERGIO DONAT. Suatu kali ke arah sana,” tutur Sergio, menanggapi usulan untuk melakukan konsinyasi donat di berbagai titik usaha.
Apa yang dilakukan Sergio tidak luput dari perhatian pengamat usaha mikro. Menurut Sekretaris Jenderal Masyarakat Peduli Usaha Mikro Indonesia (MASPUMI), perjuangan Sergio dinilai jauh lebih mulia dibandingkan para koruptor yang mengumpulkan harta dengan cara tidak halal.
“Pak Sergio adalah contoh teladan yang baik untuk generasi milenial saat ini agar bekerja dengan cara yang halal. Ia membangun usahanya dari nol, dengan modal kemauan keras dan kejujuran. Setiap rupiah yang ia peroleh adalah rupiah yang bersih, tidak merugikan orang lain apalagi merugikan negara,” tegasnya Suta Widya.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/sukses-gelar-festival-tabebuya-2025-kota-batu-padukan-keindahan-bunga-dan-kekuatan-alutsista-tni/
Nilai “halal” yang dipegang tegus Sergio tidak hanya pada produknya, tetapi juga pada proses usahanya. Ia memilih untuk tidak mencari jalan pintas yang mungkin bisa menguntungkan secara materi tetapi melanggar hukum dan etika.
Bukti keteguhan Sergio juga terlihat dalam kesehariannya. Ia tidak peduli dengan risiko dirazia oleh Satpol PP karena dianggap mengganggu lalu lintas pejalan kaki di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) maupun halte-halte bus di Jateng. Meski diusir, semangatnya tidak patah. Baginya, ini adalah bagian dari perjuangan untuk menyambung hidup dan menghidupi keluarga dengan cara yang benar.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kisah Sergio adalah potret nyata entrepreneur sejati, gigih, jujur, dan pantang menyerah. Dalam kesederhanaan gerobak donatnya, tersimpan pelajaran besar tentang martabat, kejujuran, dan arti rezeki yang halal. Ia tidak hanya menjual donat, tetapi juga menyajikan inspirasi bahwa kebahagiaan dan kecukupan bisa diraih tanpa harus mengorbankan integritas.
Di era di banyak orang terobsesi pada kekayaan instan, Sergio mengajak kita untuk merenung, bahwa uang hasil korupsi miliaran rupiah sekalipun, takkan pernah sebanding dengan ketenteraman hati yang didapat dari uang ribuan rupiah yang dihasilkan dari keringat sendiri.
( Ria ).


Sergio Asal Garut ketika menjajakan Kue Donatnya dengan membawa Sepuluh Kotak Kuenya ( Foto : Tim ). 
