Kolaborasi Ormas dan Pemerintah Sukseskan Haul Gus Dur ke-16 di Batu Lewat Pengobatan Tradisional

https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia

Antusiasme Masyarakat Batu Dalam Haul Gus Dur ke-16, Wujudkan Harmoni Melalui Pengobatan Tradisional dan Kolaborasi

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Rangkaian peringatan Haul ke-16 Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Kota Batu dibuka dengan kegiatan unik yang mengedepankan kesehatan, pelestarian budaya, dan kebersamaan. Lembaga Ketabiban PW Pagar Nusa Jawa Timur menggelar Pengobatan Tradisional dan Gemblengan Ilmu Kanuragan, dengan berkolaborasi bersama SARBUMUSI kota Batu yang mendapat sambutan antusias warga.

Kegiatan ini mengakar kuat pada sejarah Kota Batu, mengingat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu ditandatangani oleh Gus Dur sendiri. Hal ini menambah makna khusus peringatan Haul bagi masyarakat setempat.

Suasana ramai dan penuh semangat dalam acara Pengobatan Tradisional dan Gemblengan Ilmu Kanuragan untuk memperingati Haul Gus Dur di Batu
Suasana ramai dan penuh semangat dalam acara Pengobatan Tradisional dan Gemblengan Ilmu Kanuragan untuk memperingati Haul Gus Dur di Batu

Acara yang berlangsung di Pendopo Panotogomo, Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kota Batu ini, secara tidak terduga dihadiri oleh sejumlah pejabat dan perwakilan organisasi, menunjukkan dukungan lintas sektor. Hadir antara lain Camat Bumiaji Kota Batu, perwakilan Kemenag Kota Batu, Ketua Satu Pena Jawa Timur, PW Pagar Nusa Jatim, serta perwakilan cabang Pagar Nusa dari Kabupaten Malang-Batu, Bojonegoro, Pasuruan, Mojokerto, Nganjuk, Rumah Terapi Tradisional Wongsonegoro, dan Gusdurian Kota Batu.

Ahmad Jazuli, Kasi Binmas Islam Kemenag Batu
Ahmad Jazuli, Kasi Binmas Islam Kemenag Batu Ketika mengikuti proses pengobatan tradisional

Dalam kesempatanya Ahmad Jazuli, S.Kom., MAP (Kasi Binmas Islam Kemenag Kota Batu sekaligus aktivis Gusdurian), memberikan apresiasi tinggi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan semangat Gus Dur dalam merawat keberagaman dan keharmonisan sosial.

“Selain pengobatan tradisional, rangkaian Haul Gus Dur juga diisi dengan tasyakuran, kirab Gus Dur Pahlawan Nasional, festival sastra, pembacaan puisi, dialog budaya, hingga stand up comedy ‘Guyon Waton’ ala Gus Dur, dengan puncak acara pada 7 Februari 2026,” jelas Jazuli kepada media.

Ia berharap kegiatan ini dapat menginspirasi seluruh masyarakat Kota Batu untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme dan menciptakan harmonisasi di tengah perbedaan keyakinan. “Semoga semua yang terlibat mendapatkan rahmat dan balasan berlimpah dari Allah SWT,” tambahnya.

Camat Bumiaji Thomas Maydo
Camat Bumiaji Thomas Maydo ketika mengikuti pengobatan tradisional terapi Jari Petir

Thomas Maydo, S.Sos., Camat Bumiaji, menyatakan kegiatan ini sangat positif karena menggabungkan aspek keagamaan, kesehatan tradisional, dan kolaborasi dengan organisasi masyarakat. Ia melihat pelayanan pengobatan gratis ini sebagai bentuk konkret bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan alternatif penyembuhan non-medis.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/fasilitas-rusak-pungutan-air-misterius-ganggu-pedagang-pasar-rakyat-ranai/

“Kegiatan ini sangat membantu masyarakat yang betul-betul membutuhkan pengobatan secara non-medis. Acara ini merupakan embrio untuk ke depannya sebagai kegiatan keagamaan yang berkolaborasi bersama ormas-ormas di Kota Batu,” papar Maydo.

Salah satu peserta Milati mengikuti pengobatan tradisional
Salah satu peserta Milati mengikuti pengobatan tradisional, mengeluhkan sakit kepala dan punggung

Antusiasme masyarakat terlihat langsung dari partisipasi mereka. Salah seorang peserta, Milati dari Songgokerto, mengaku mengikuti pengobatan tradisional untuk mengatasi keluhan sakit kepala dan bahu atau daerah punggungnya. 

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

” Setelah terapi pijat badan lebih segar, sakit kepala dan sakit di punggung langsung enteng, dan sama terapisnya di ajari untuk pijat terapi setiap hari untuk mengatasi sakit saya. Berharap setelah ikut pengobatan ini, sakit yang saya keluhkan bisa sembuh dan tidak kambuh lagi,” ujarnya penuh harap.

Kegiatan pembuka Haul Gus Dur ke-16 di Kota Batu ini tidak hanya menjadi sarana pengobatan, tetapi juga simbol perekat sosial, pelestarian kearifan lokal, dan refleksi atas nilai-nilai pluralisme, toleransi, dan kepedulian sosial yang diwariskan oleh Gus Dur. Melalui kolaborasi berbagai pihak, acara ini berhasil menciptakan ruang edukatif yang memperkuat harmoni dalam keberagaman.

 

( Ria ). 

Array
Related posts
Tutup
Tutup