
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Satu Abad NU, Bendera 1000 Meter di Lereng Panderman dan Refleksi Kiprah Sosial Keagamaan
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Dalam rangkaian peringatan satu abad (1926-2026) Nahdlatul Ulama (NU), Kota Batu, Jawa Timur, menggelar sebuah ritual simbolik yang menggabungkan dimensi spiritual, kebangsaan, dan kelestarian lingkungan. Acara Kenduri NU disertai pembentangan bendera organisasi sepanjang 1.000 meter di lereng Gunung Panderman menjadi puncak peringatan yang sarat makna. Kehadiran dan partisipasi langsung Wali Kota Batu, Nurochman, yang turun membawa serta mengawal bendera sejauh lebih dari 500 meter, menambah kesan khidmat dan menusuk kalbu bagi masyarakat, para siswa, dan wali murid yang hadir.

Kegiatan ini dapat dianalisis sebagai sebuah public ritual atau ritual publik yang berfungsi memperkuat solidaritas kolektif, mengonfirmasi identitas keagamaan, dan mentransmisikan nilai-nilai secara massal. Pembentangan bendera raksasa bukan sekadar pertunjukan visual, melainkan sebuah textile symbolism (simbolisme tekstil) yang hidup. Kain putih dan berwarna hijau dengan lambang bola dunia dan tali bersimpul itu, ketika membentang mengikuti kontur alam, menjadi metafora visual tentang penyebaran, ketahanan, dan harmoni NU dengan lingkungan nusantara.

Dalam wawancara singkat disela sela acara ke Pendidikannasional.id., Wali Kota Batu, Nurochman menyampaikan pernyataan syukur yang merangkum tiga pesan inti. “Pertama, syukur historis dan sosiologis atas satu abad kiprah NU dalam membangun bangsa dan negara. Kedua, ekspresi kecintaan pada tanah air, di mana bendera NU yang membentang dibaca sebagai simbol paralel dari komitmen kebangsaan (hubbul wathan) yang menjadi pilar ajaran NU. Ketiga, komitmen ekologis, dengan menegaskan bahwa kegiatan ini juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian Gunung Panderman sebagai anugerah jagat raya bagi masyarakat Batu.” Ungkap Wali Kota Batu, ( 01/02/2026 ).


Partisipasi aktif Wali Kota Nurochman juga patut dicermati sebagai sebuah political symbolism. Dalam konteks tata kelola pemerintahan di Indonesia, di mana hubungan antara negara dan ormas keagamaan kerap kompleks, keikutsertaan figur negara dalam ritual ormas menunjukkan model relasi yang simbiotik dan saling mendukung. Langkahnya berjalan ratusan meter membawa bendera merupakan performa politik yang efektif, menyampaikan pesan “keberpihakan” dan “kebersamaan” tanpa banyak kata.

Lokasi pemasangan bendera di lereng Gunung Panderman juga bukan pilihan biasa. Gunung, dalam banyak kebudayaan, sering dimaknai sebagai tempat yang sakral, tinggi, dan mendekatkan pada Yang Ilahi. Memilih lereng gunung, bukan lapangan datar, mengkomunikasikan usaha untuk “mengukir” komitmen pada alam, sekaligus menantang logistik untuk menunjukkan keseriusan dan kekompakan. Ini sejalan dengan semakin mengemukanya wacana eco-theology atau teologi lingkungan dalam diskursus NU kontemporer, yang menekankan kewajiban merawat alam (ri’ayatul bi’ah) sebagai bagian dari iman.
Acara Kenduri NU sendiri, sebagai tradisi makan bersama dan doa kolektif, meneguhkan akar kultural NU yang berbasis pada tradisi (urf) dan praktik lokal (al-‘adah muhakkamah). Kombinasi antara kenduri (tradisi lokal), pembentangan bendera (simbol modern organisasi), dan lokasi gunung (simbol alam universal) menciptakan sebuah narasi yang utuh tentang NU yang berakar pada tradisi, terorganisir secara modern, dan berdialog dengan konteks alam serta kebangsaan.


Bagi generasi muda dan para siswa yang hadir, pengalaman visual dan partisipatif dalam acara semacam ini berpotensi menjadi memori kolektif yang membentuk identitas keagamaan dan kebangsaan mereka. Mereka tidak hanya mendengar cerita tentang NU, tetapi menyaksikan, merasakan, dan mungkin ikut menarik bendera raksasa tersebut. Proses pembelajaran nilai melalui pengalaman langsung (experiential learning) ini sangat efektif dalam menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab.

Dari sisi lingkungan, penyelenggara tentu dihadapkan pada tanggung jawab untuk memastikan acara yang melibatkan massa dan bendera sepanjang kilometer itu tidak meninggalkan jejak ekologis yang merusak. Pernyataan Wali Kota tentang “kepedulian lingkungan” perlu dibaca juga sebagai komitmen untuk event sustainability, yang harus dibuktikan dengan tata kelola sampah dan perlindungan vegetasi lereng yang ketat pasca-acara.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/pemerintah-dukung-penuh-perayaan-satu-abad-nu-kota-batu/
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Secara keseluruhan, peringatan 1 Abad NU di Kota Batu melalui pembentangan bendera 1000 meter ini telah berhasil mentransformasi perayaan menjadi sebuah statement multidimensi. Ia adalah pernyataan syukur atas sejarah panjang, deklarasi kecintaan pada tanah air, komitmen pada kelestarian alam, dan sekaligus pertunjukan soliditas organisasi serta dukungan negara. Ritual di lereng Panderman ini mengukirkan pesan bahwa memasuki abad kedua, NU bukan hanya terus merawat khittah-nya di tengah masyarakat, tetapi juga aktif membingkai kontribusinya dalam bahasa simbol yang kuat, massal, dan relevan dengan isu-isu kekinian kebangsaan dan lingkungan hidup.
( Ria ).



Wali kota Batu ketika memimpin langsung dengan memanggul bendera NU yang akan di bentangkan di lereng Gunung Panderman ( Foto : Ria ). 
