Harlah Satu Abad NU di MI Bustanul Ulum, Wali Kota Disambut Gemuruh Sholawat & Drumband Siswa

Dengan dentuman suara Drumband dan gema Sholawat MI Bustanul Ulum iringi pemberangkatan Pataka dan bendera NU

Semarak Satu Abad NU di MI Bustanul Ulum Kota Batu, Ribuan Siswa Sambut Wali Kota dengan Gemuruh Sholawat dan Bendera 1000 Meter

Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Suasana kebanggaan dan kegembiraan menyelimuti lingkungan MI Bustanul Ulum pada Minggu,01 Februari 2026. Ribuan siswa, orang tua, guru, dan masyarakat tumpah ruah di halaman sekolah untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU). Perayaan satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia ini diisi dengan kemeriahan drumband, lantunan sholawat, dan pengibaran bendera NU sepanjang 1.000 meter, menyambut kedatangan Wali Kota Batu beserta jajaran pemerintah daerah.

Acara yang digelar sejak pagi itu bukan sekadar seremoni, melainkan manifestasi nyata dari pendidikan karakter dan penanaman nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sejak dini. Sekitar 900 lebih siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 terlibat aktif, menunjukkan semangat kebersamaan yang kuat di bawah bimbingan para guru dan dukungan penuh wali murid.

Kepala Sekolah MI Bustanul Ulum ketika bersama Wali Kota Batu
Kepala Sekolah MI Bustanul Ulum ketika bersama Wali Kota Batu

Kepala Sekolah MI Bustanul Ulum, Fauji, dalam kesempatan yang menegaskan komitmen lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU ini untuk turut serta mengukuhkan sejarah. “Kami mengerahkan seluruh komponen sekolah, dari siswa, wali murid, hingga dewan guru, untuk ikut memperingati 1 Abad NU. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kami dalam melestarikan warisan perjuangan para ulama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fauji menjelaskan bahwa momentum ini dimanfaatkan sebagai media pembelajaran hidup bagi siswa. “Kegiatan ini memberikan contoh kepada anak sejak usia dini tentang perjuangan para pahlawan Nahdlatul Ulama dalam menegakkan ukhuwah islamiyah, menjaga keutuhan bangsa, dan membangun masyarakat yang berakhlak mulia,” paparnya. Menurutnya, nilai-nilai perjuangan seperti toleransi, keadilan, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan harus ditanamkan sedini mungkin.

Beberapa para Guru MI Bustanul Ulum ketika usai kegiatan
Beberapa para Guru MI Bustanul Ulum ketika usai kegiatan

Puncak acara terasa saat iring-iringan drumband yang dimainkan oleh siswa-siswi membahana, menandai kedatangan Wali Kota Batu. Mereka membawa ‘Pataka’ atau bendera resmi NU dan membentangkan bendera berwarna hijau dengan tulisan Nahdlatul Ulama. Bendera yang dibawa oleh barisan panjang siswa ini menjadi simbol visual yang kuat, merepresentasikan perjalanan panjang 100 tahun NU dalam berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/pemerintah-dukung-penuh-perayaan-satu-abad-nu-kota-batu/

Antusiasme masyarakat pun tak terbendung. Mereka memadati area acara, ikut menyanyikan sholawat, dan menyaksikan dengan haru prosesi penyambutan. Suasana ini menunjukkan akar yang kuat dari NU di tengah masyarakat Kota Batu, di mana agama, budaya, dan pendidikan menyatu dalam harmoni.

Salah satu Guru ketika pendampingan siswa siswinya mengikuti rangkaian kegiatan
Salah satu Guru ketika pendampingan siswa siswinya mengikuti rangkaian kegiatan

Dalam wawancara singkat di sela keramaian, Ibu Nurroh, salah satu guru kelas 5 MI Bustanul Ulum, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Bahagia sekali bisa turut memeriahkan acara ini. Karena kita adalah warga NU, jadi harus berusaha maksimal untuk menyukseskan acara ini,” ungkapnya dengan semangat.

Nurroh, yang mengaku sebagai guru sekaligus warga NU, melihat acara ini sebagai bentuk identitas dan tanggung jawab kolektif. Hal ini diharapkan cukup menggambarkan harapan agar semangat satu abad NU, yang umumnya mengusung tema persatuan, kemandirian, dan kontribusi untuk bangsa dapat diinternalisasi oleh generasi muda

Siswa Siswi MI Bustanul Ulum beserta Guru antusias mengikuti kegiatan 1 Abad NU
Siswa Siswi MI Bustanul Ulum beserta Guru antusias mengikuti kegiatan 1 Abad NU

“Ini bukan hanya acara seremonial. Melihat ratusan siswa terlibat, dari yang kecil membawa bendera kecil hingga yang lebih besar bagian drumband, ini adalah pendidikan praktis tentang kebersamaan, disiplin, dan kecintaan pada organisasi yang telah membesarkan mereka,” tambah Nurroh. Ia juga mengonfirmasi bahwa jumlah peserta siswa yang terlibat mencapai hampir 900  lebih anak, sebuah partisipasi massif yang menunjukkan keberhasilan mobilisasi dan tingginya minat.

Peringatan Harlah ke-100 NU di MI Bustanul Ulum ini memiliki makna strategis. Di tingkat makro, ia menyelaraskan diri dengan peringatan seabad NU di tingkat pusat. Di tingkat mikro, ia berfungsi sebagai ‘sekolah lapangan’ bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar teori tentang NU di kelas, tetapi mengalami langsung semangat besar itu melalui keramaian, musik, simbol, dan kehadiran pemimpin daerah.

Ulama' berserta Tokoh Masyarakat ketika bersama Wali Kota Batu. Kelompok Fatayat ketika bersama Wali kota Batu
Ulama’ berserta Tokoh Masyarakat ketika bersama Wali Kota Batu. Kelompok Fatayat ketika bersama Wali kota Batu

Acara seperti ini juga merefleksikan peran penting lembaga pendidikan Islam berbasis masyarakat (swasta) dalam menjaga tradisi dan membangun narasi kebangsaan. MI Bustanul Ulum, dengan identitas NU-nya, menjadi penjaga nilai-nilai moderasi Islam (wasathiyah) yang diusung NU, sekaligus mendidik generasi penerus yang religius dan nasionalis.

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Dengan diakhiri doa bersama untuk kemaslahatan bangsa dan keberkahan usia NU, peringatan ini menutup sebuah babak penting dalam sejarah sekolah. Namun, ia membuka babak baru, tantangan untuk mentransformasi semangat satu abad itu menjadi energi kreatif dalam mendidik anak-anak di tengah kompleksitas zaman. Sebagaimana bendera 1000 meter yang dibentangkan, perjalanan panjang telah dilalui, tetapi perjalanan untuk tetap relevan dan berkontribusi bagi Indonesia yang maju dan berakhlak masih terus berlanjut. MI Bustanul Ulum, dengan ribuan siswanya, telah mencatatkan diri sebagai bagian dari sejarah panjang itu.

 

( Ria ). 

Array
Related posts
Tutup
Tutup