Bu Nyai Umik Elisa Sebut 3 Golongan Ini Puasanya Tak Diterima Allah

Bu Nyai Umik Elisa ketika memberikan pencerahan rohani dalam halal bihalal 1447 Hijriah keluarga besar Sony Sanca dan Juwita. ( Foto : Tim ).

Halalbihalal Keluarga Besar Sony Sanca di Jombang. Refleksi Maaf dan Bahaya Krisis Moral Generasi

Jombang, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Suasana penuh kehangatan dan makna spiritual menyelimuti acara Halalbihalal 1447 Hijriah/2026 Masehi, yang digelar oleh keluarga besar Bapak Sony Sanca dan Ibu Juwita di Desa Dolok, Kecamatan Tembelang, Jombang, pada Sabtu (29/3/2026) pagi. Kegiatan yang berlangsung sederhana namun khidmat di kediaman mereka yang beralamat di Jalan Raya Ploso tersebut diikuti dengan antusiasme tinggi oleh sanak saudara serta masyarakat sekitar.

Antusiasme peserta semakin meningkat dengan kehadiran tokoh agama sekaligus pengajian ternama, Bu Nyai Umik Elisa, yang datang jauh dari Kota Batu. Kehadirannya tidak hanya menambah khidmat acara, tetapi juga memberikan sentuhan transformasi batin melalui tausiah yang menggetarkan hati para jemaah.

Umik Elisa ketika memberikan tausyiahnya dihadapan para hadirin dalam acara halal bihalal 1447 Hijriah.
Umik Elisa ketika memberikan tausyiahnya dihadapan para hadirin dalam acara halal bihalal 1447 Hijriah.

Tiga Golongan yang Puasa Tanpa Pahala

Dalam ceramahnya yang menjadi inti acara, Bu Nyai Umik Elisa mengangkat tema yang jarang dibahas secara mendalam di ruang-ruang pengajian umum, namun sangat fundamental dalam ajaran Islam. Beliau menyampaikan bahwa di bulan suci Ramadan yang baru saja berlalu, ada tiga golongan manusia yang ibadah puasanya tidak diterima oleh Allah SWT, meskipun secara lahiriah mereka menahan lapar dan haus.

Pertama, orang yang tidak mau meminta maaf kepada orang tuanya. Menurut Bu Nyai, durhaka dalam bentuk kesombongan untuk mengakui kesalahan di hadapan ayah-ibu menjadi penghalang utama diterimanya amal ibadah. “Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua,” tegasnya mengutip hadits Rasulullah.

Kedua, seorang istri yang tidak mau meminta maaf kepada suaminya. Bu Nyai menjelaskan bahwa keharmonisan rumah tangga adalah cerminan ketakwaan. Istri yang enggan mengakui kesalahan dan memohon maaf kepada suami, padahal suami adalah pemimpin dalam keluarga, dapat menjadi penyebab tertolaknya puasa. Bukan berarti suami mutlak benar, tetapi etika meminta maaf dalam Islam diajarkan untuk mendahulukan pihak yang lebih sadar akan kesalahan demi menjaga ukhuwah islamiyah.

Umik Elisa ketika bersama sama sahabat serta keluarga Sony Sanca dan Juwita di Jombang.
Umik Elisa ketika bersama sama sahabat serta keluarga Sony Sanca dan Juwita di Jombang.

Ketiga, saudara kandung yang memutus tali persaudaraan dan tidak mau saling memaafkan, padahal mereka dilahirkan dari rahim ibu yang sama. Bu Nyai menyebut fenomena ini sebagai salah satu dosa besar di era modern, di mana konflik warisan, ego, dan gengsi seringkali lebih diutamakan daripada ikatan darah. “Tidak ada yang lebih menyedihkan di hadapan Allah selain saudara sekandung yang saling membenci dan enggan bermaafan,” ujarnya dengan nada mengharukan.

Rekaman Amal di Hari Akhir

Lebih lanjut, Bu Nyai Umik Elisa mengajak jemaah merenung tentang kehidupan akhirat. Beliau mengingatkan bahwa pada hari kiamat nanti, seluruh perbuatan manusia selama hidup di dunia akan “diputar kembali” bagaikan video rekaman. Setiap ucapan, langkah, dan hati nurani akan disaksikan tanpa bisa dibantah.

Di tengah peringatan yang menegangkan itu, Bu Nyai memanjatkan doa kunci bagi orang-orang beriman: “Allahumma innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna.” Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah dosa-dosa kami.” Doa ini menjadi penutup tausiah yang membuat suasana berubah menjadi haru dan penuh kesadaran spiritual.

Baca Juga : 

Momen Kebersamaan Band Power of Disability Pada Halal bihalal Bumiaji

Harapan untuk Generasi di Era Globalisasi

Bu Nyai Umik Elisa tidak berhenti pada peringatan personal. Beliau menyoroti tantangan umat Islam saat ini, khususnya di era globalisasi yang ditandai dengan krisis moral akut pada anak-anak generasi penerus bangsa. Menurutnya, degradasi etika, hilangnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, serta menjamurnya perilaku menyimpang di kalangan remaja adalah alarm bahaya yang harus segera direspons dengan pendidikan berbasis akhlak Rasulullah.

“Kita tidak cukup hanya menggugurkan kewajiban puasa dan shalat. Kita harus meneladani suri teladan Nabi Muhammad SAW. dalam setiap aspek kehidupan,” pesan Bu Nyai. 

Keluarga besar Sony Sanca dan Juwita tampak suasana bersuka cita bersama-sama dalam moment halal bihalal 1447 H
Keluarga besar Sony Sanca dan Juwita tampak suasana bersuka cita bersama-sama dalam moment halal bihalal 1447 H

Beliau mengajak seluruh hadirin untuk mengkaji ulang sirah nabawiyah dan meniru perilaku mulia Rasulullah, mulai dari kejujuran, kesabaran, hingga kasih sayang kepada sesama. Harapan besar Bu Nyai adalah agar nilai-nilai ini terus disiarkan ke masyarakat luas, tidak hanya menjadi konsumsi musiman saat Lebaran, tetapi menjadi panduan hidup sehari-hari.

Tangis Haru Ibu Juwita

Sebagai tuan rumah, keluarga besar Bapak Sony Sanca dan Ibu Juwita mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Bu Nyai Umik Elisa. Ibu Juwita, dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar, menyampaikan bahwa tausiah yang diberikan telah membuka pintu kesadaran bagi seluruh keluarga.

Santunan Anak Yatim dan Halal Bihalal Oleh Pelaku Usaha Villa Serta Homestay Kota Batu

“Selama ini kami mungkin melaksanakan ibadah secara rutin, tapi belum tentu memahami hakikat maaf dan penerimaan amal. Dengan apa yang disampaikan Bu Nyai, kami yang sebelumnya tidak mengetahui menjadi paham dan mengerti. Kami sangat terharu,” ungkap Ibu Juwita sambil sesekali menyeka air mata.

Keluarga besar Sony Sanca berharap kegiatan Halalbihalal seperti ini dapat terus dilestarikan, tidak hanya sebagai tradisi tahunan tetapi sebagai momentum introspeksi kolektif. Acara kemudian ditutup dengan prosesi sungkeman dan saling bermaaf-maafan di antara seluruh hadirin, menciptakan suasana haru sekaligus lega karena beban dosa antar sesama telah dilepaskan.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/sosial/hut-ke-27-dan-halal-bihalal-psht-cabang-batu-digelar-dengan-sukses/

https://pendidikannasional.id/pendidikan/psht-komisariat-dan-ranting-ngantang-gelar-halal-bihalal-siji-wadah-ojo-sampek-pecah/

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Dengan terselenggaranya acara yang sarat makna ini, Desa Dolok, Kecamatan Tembelang, menjadi saksi bahwa ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin dapat disampaikan dengan cara yang menyentuh, intelektual, dan tetap kontekstual dengan tantangan zaman. Pesan utama dari Bu Nyai Umik Elisa: maaf adalah kunci diterimanya amal, dan meneladani akhlak Nabi adalah satu-satunya benteng di tengah krisis moral global. 

 

Penulis : Ria. 

Editor : Tim Redaksi. 

Array
Related posts
Tutup
Tutup