Jaming Line Dance IKELDA 2025.Harmoni Tarian Global dan Budaya Jawa di Kota Batu
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Langkah-langkah kaki yang kompak mengikuti irama musik memadati area Jatim Park 3, Jumat (29/8/2025). Namun, yang mengalun bukanlah musik country khas Amerika, melainkan gemericik musik gamelan dan alunan langgam Jawa yang syahdu di padu dengan musik dance. Inilah pemandangan unik dalam gelaran Jaming Line Dance yang digelar oleh Ikatan Keluarga Line Dance (IKELDA) Malang, sebuah perhelatan yang berhasil menyatukan puluhan sanggar dalam semangat kebersamaan dan kecintaan akan budaya lokal.
Acara yang mengusung tema “Merawat Budaya, Merajut Kebersamaan” ini bukan sekadar perlombaan atau pertunjukan biasa. Lebih dari itu, Jaming Line Dance adalah sebuah deklarasi bahwa seni line dance yang berakar dari budaya Barat dapat beradaptasi dan menjadi medium yang powerful untuk melestarikan kearifan lokal Nusantara, khususnya Jawa.

Ketua Panitia sekaligus perwakilan owner IKELDA, Susi, menegaskan bahwa, esensi dari acara ini adalah persaudaraan. “Line dance sejatinya adalah tentang komunitas. IKELDA hadir untuk menjembatani semua sanggar, tanpa memandang latar belakang, status, maupun usia. Di sini, yang kami lihat adalah semangat sama untuk menari, bersosialisasi, dan menjaga kesehatan bersama. Keberagaman justru menjadi kekuatan kami,” ujarnya penuh semangat.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/umum/ikelda-sukses-gelar-jamming-line-dance-rangkul-beragam-budaya/
Suasana kekeluargaan yang erat benar-benar terasa. Peserta dari berbagai sanggar saling menyapa, bertukar cerita, dan bahkan saling mengajarkan koreografi dengan penuh keakraban. Acara ini berhasil menjadi ruang inklusif dimana perbedaan bukanlah pemisah, melainkan benang-benang yang memperindah tenun kebersamaan.
Yang menjadi daya tarik utama acara ini adalah pergeseran konsep line dance itu sendiri. Jika selama ini identik dengan musik country dan Barat, IKELDA justru mendorong anggotanya untuk berkreasi dengan musik tradisional.

Salah satu pionirnya adalah sanggar Lintang Of Stage (LOS) Malang. Fatkur Rahman, perwakilan LOS, menjelaskan komitmen mereka. “Sejak awal, LOS memang konsisten mengusung konsep Jawa dan Nusantara. Setiap latihan, kami menggunakan lagu-lagu langgam Jawa, campursari, hingga lagu daerah lainnya. Bagi kami, ini adalah cara untuk tetap uri-uri (merawat) budaya sekaligus membuat line dance lebih mudah diterima oleh semua kalangan.”
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Koreografi yang ditampilkan LOS dan sanggar lainnya pun tidak kalah menarik. Gerakan-gerakan line dance yang dinamis dipadukan dengan sentuhan gerak tari tradisional Jawa, menciptakan sebuah hibrida budaya yang segar dan memukau. Hal ini membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan, saling mengisi, bukan saling menggantikan.
Dalam paparannya, Fatkur juga menyampaikan pesan kepada generasi muda. “Kepada generasi Gen Z, line dance ini adalah aktivitas yang sempurna. Selain menyehatkan badan, kalian juga bisa bersosialisasi langsung, bukan melalui layar gawai. Yang terpenting, ini adalah cara yang menyenangkan untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya kita. Kami berharap mereka mau meneruskan jejak ini.”

Data dari LOS menunjukkan antusiasme yang menjanjikan. Dengan jadwal latihan dua kali seminggu (Rabu dan Jumat) selama sekitar tiga jam, sanggar mereka mampu menarik minat hingga 35 anggota tetap dari berbagai generasi, termasuk kaum muda.
Penyelenggaraan acara di Jatim Park 3 juga memiliki nilai strategis. Selain sebagai tempat rekreasi, lokasi ini menjadi titik temu yang ideal antara dunia seni, edukasi budaya, dan pariwisata. Pengunjung wisata tidak hanya menikmati wahana tetapi juga mendapat suguhan pertunjukan budaya yang dikemas secara kreatif dan modern.

Gelaran Jaming Line Dance oleh IKELDA Malang adalah contoh nyata bagaimana seni dapat menjadi bahasa universal yang mempersatukan. Melalui terobosan memadukan line dance dengan budaya Jawa, mereka tidak hanya sekadar melestarikan tradisi tetapi juga menghidupkannya kembali dengan wajah yang baru dan relevan untuk zaman now.
Acara ini adalah sebuah statement untuk merawat budaya bukan berarti menutup diri dari globalisasi, tetapi dengan percaya diri merangkulnya dan menciptakan sesuatu yang baru yang tetap mengandung jiwa keindonesiaan. Sebuah langkah kecil para penari yang meninggalkan jejak besar bagi kelestarian budaya bangsa.
( Ria ).


Sanggar Lintang Of Stage ( LOS ) saat Perfom di Wisata Party Dance Jatim park 3 ( Foto : istimewa ). 
