Kisah Inspiratif Kusmini Dari Sampah Menjadi Jamu Probiotik yang Menyehatkan dan Ramah Lingkungan
PENDIDIKANNASIONAL.ID., Kota Batu, Kusmini ( 56 ) seorang relawan Eco Enzim Malang Raya, membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan bisa melahirkan inovasi luar biasa. Berawal dari keinginan mempelajari fermentasi, ia kini menciptakan Jamu Probiotik Rimpang olahan tradisional yang tak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga berkontribusi pada pengelolaan sampah organik.
Awal ketertarikan Kusmini pada fermentasi dimulai saat mengikuti seminar dan kelas khusus tentang pengolahan bahan pangan. Di antara 20 peserta dengan beragam fokus seperti fermentasi tempe atau buah,ia memilih jamu sebagai jalannya. Alasannya? “80% jamu masuk ke tubuh melalui fermentasi, sehingga lebih mudah diserap,” ujarnya.

Dibimbing oleh peneliti LIPI, Kusmini belajar membuat starter (biang fermentasi) dari buah nanas segar yang difermentasi selama 7 hari dalam wadah kedap udara. Ia menemukan bahwa gula atau madu menjadi kunci kualitas bakteri baik. “Takaran tepatnya 50 gram gula per liter air, atau madu untuk hasil lebih optimal,” jelasnya.
Dengan keberanian mencoba, Kusmini memproduksi dalam skala kecil dan menguji jamu probiotiknya pada keluarganya. Hasilnya? Pencernaan lebih lancar, badan terasa segar, dan daya tahan tubuh meningkat. Dari mulut ke mulut, jamu racikannya pun menjadi favorit banyak orang.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/dispertan-dan-kp-kota-batu-inovasi-bioflok-dukung-ketahanan-pangan/
Bahan dasarnya adalah rimpang-rimpangan seperti kunyit dan lengkuas, diperkaya daun kelor yang kaya antioksidan. Proses pembuatannya pun dipelajari dari berbagai sumber, termasuk salah satu ahli di Kota Batu. “Setelah direbus, jamu ditambahkan starter fermentasi nanas. Satu liter jamu cukup diberi 100 cc biang,” paparnya.

Jamu probiotik ini terbukti membantu mengatasi masalah pencernaan, lambung (maag), sirkulasi darah, hingga kelenjar tiroid. Bahkan, beberapa konsumennya berhasil menghindari operasi berkat konsumsi rutin secara berkala. “Probiotik menyeimbangkan bakteri baik dan jahat dalam tubuh,” tegas Kusmini.
Tak hanya untuk kesehatan, starter fermentasi nanas ini juga mengurangi bau sampah organik. “Jika disiram ke tumpukan sampah, baunya hilang. Lingkungan kami kini bebas aroma tak sedap,” ceritanya bangga. Produk ini bahkan setara dengan Promix (probiotik komersial) namun lebih ekonomis, sehingga dinamai Bio Kompon.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kusmini menekankan bahwa ilmu pembuatan probiotik ini ia dapatkan secara cuma-cuma dari ahli yang pernah meraih medali emas di Amerika. Kini, ia pun membagikan pengetahuan tersebut tanpa memungut biaya. “Saya tidak memaksa orang lain mengikuti saya, tapi jika ada yang tertarik, saya siap berbagi,”ucapnya.

Ia juga berpesan, “Gunakan nanas segar, air matang (bukan air kemasan/kran), dan simpan probiotik di kulkas agar khasiatnya tetap terjaga.”
Awal mula perjalanan Kusmini berawal dari keprihatinan akan sampah organik. Melalui pelatihan daring dan kolaborasi dengan komunitas, ia mengembangkan produk ramah lingkungan sekaligus menyehatkan. “Ini bukti bahwa sampah bisa jadi berkah jika diolah dengan benar,” tandasnya.
Kini, Jamu Probiotik Rimpang karya Kusmini tidak hanya menjadi solusi kesehatan, tetapi juga inspirasi bagi masyarakat untuk hidup lebih hijau dan mandiri. Siapa sangka, dari fermentasi nanas sederhana, lahir dampak besar bagi tubuh dan bumi!
( Ria ).


Kisah Inspiratif Kusmini Dari Sampah Menjadi Jamu Probiotik yang Menyehatkan dan Ramah Lingkungan ( Foto : istimewa ). 
