Kapolres Batu Dorong Penguatan Destana Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Kapolres Batu Dorong Penguatan Destana, Antisipasi Ancaman Bencana Hidrometeorologi

BATU, Pendidikannasional.id – Menghadapi meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi pada masa peralihan menuju musim penghujan, penguatan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat hingga tingkat desa menjadi perhatian penting Pemerintah Kota Batu bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Salah satu langkah strategis yang ditekankan adalah mengoptimalkan kembali peran Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan dalam membangun kesadaran, kesiapan, dan kemampuan masyarakat menghadapi risiko bencana.

Tampak Wali Kota Batu bersama Forkopimda ketika cek ke siap sigaan petugas.
Tampak Wali Kota Batu bersama Forkopimda ketika cek ke siap sigaan petugas.

Penegasan tersebut disampaikan Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026 di Lapangan Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Rabu (4/11/2026).

Apel yang dimulai pukul 07.30 WIB itu melibatkan sekitar 150 personel gabungan dari unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, lembaga terkait, serta organisasi dan relawan kebencanaan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., Wakil Wali Kota Batu Heli Sutanto, S.H., M.H., Dandim 0818 Malang-Batu Letkol Czi. Bayu Nugroho, S.Hub.Int., M.I.P., serta jajaran pejabat utama Polres Batu dan pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Batu.

Sejumlah unsur pendukung lainnya turut berpartisipasi, di antaranya Perhutani KPH Malang, BPBD Kota Batu, Dinas Perhubungan, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Satpol PP, ORARI, RAPI, Senkom, dan Tagana.

Kapolres Batu ketika memberikan amanatnya didalam Apel Siaga Tanggal Darurat.
Kapolres Batu ketika memberikan amanatnya didalam Apel Siaga Tanggal Darurat.

Dalam amanatnya, Kapolres Batu mengingatkan bahwa perubahan kondisi iklim dari musim kemarau menuju musim penghujan berpotensi meningkatkan ancaman bencana alam. Kota Batu, dengan karakteristik geografis dan kondisi wilayahnya, perlu memberikan perhatian khusus terhadap risiko banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang.

Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan personel dan peralatan. Diperlukan sistem mitigasi yang terencana, pemetaan risiko yang akurat, serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian integral dari upaya perlindungan bersama.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/operasi-sikat-semeru-2026-polres-batu-curanmor/

Kapolres Batu menggarisbawahi lima langkah strategis yang perlu menjadi pedoman seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Pertama, melakukan pemetaan ulang wilayah rawan bencana secara terperinci hingga tingkat desa dan kelurahan. Pemetaan tersebut mencakup titik rawan banjir, tanah longsor, serta kawasan yang berpotensi mengalami pohon tumbang. Dalam konteks ini, optimalisasi kembali Destana dinilai penting untuk memperkuat kesiapan masyarakat di tingkat lokal.

Kedua, meningkatkan mitigasi risiko melalui langkah-langkah preventif sejak dini, terutama di kawasan permukiman, infrastruktur publik, dan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Ketiga, memastikan kesiapan personel serta seluruh sarana dan prasarana penanggulangan bencana agar dapat segera dioperasikan ketika kondisi darurat terjadi.

Keempat, memperkuat sosialisasi jalur evakuasi, termasuk memastikan ketersediaan lokasi penampungan pengungsi yang aman, layak, dan terkoordinasi.

Kelima, membangun sinergi lintas sektoral melalui standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, pembagian tanggung jawab antarlembaga, serta rantai komando yang efektif dalam setiap tahapan penanganan bencana.

Tampak Kapolres bersama pejabat yang lainya cek alat yang akan dipergunakan pada Apel Siaga Tanggap Darurat.
Tampak Kapolres bersama pejabat yang lainya cek alat yang akan dipergunakan pada Apel Siaga Tanggap Darurat.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Batu juga memaparkan data kejadian bencana di wilayah hukum Polres Batu yang menunjukkan peningkatan pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 73 kejadian bencana. Rinciannya meliputi 52 kejadian tanah longsor, sembilan kejadian banjir, serta 12 kejadian angin kencang dan pohon tumbang.

Sementara itu, sepanjang 2026 hingga pelaksanaan apel tersebut, jumlah kejadian meningkat menjadi 122 peristiwa. Angka tersebut terdiri atas 20 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 52 kejadian tanah longsor, 11 kejadian banjir, serta 39 kejadian angin kencang atau puting beliung.

Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangan kebencanaan membutuhkan perhatian yang semakin serius, khususnya dalam membangun sistem pencegahan, kesiapan respons, dan koordinasi penanganan yang terintegrasi.

Kapolres Batu menegaskan bahwa peningkatan kejadian bencana tidak semata-mata harus dipandang sebagai persoalan statistik, melainkan menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan partisipasi masyarakat.

“Saya berharap melalui apel kesiapsiagaan ini, kita semua tidak hanya siap secara fisik dan peralatan, tetapi juga memiliki kesamaan persepsi, kecepatan bertindak, serta kepedulian yang tinggi. Mari kita niatkan tugas kemanusiaan ini sebagai pengabdian terbaik bagi masyarakat Kota Batu,” pungkasnya.

Apel kesiapsiagaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem penanggulangan bencana menjelang periode puncak musim hujan 2026–2027.

Koordinasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, perangkat daerah, relawan, dan masyarakat diharapkan mampu membangun pola penanganan bencana yang lebih responsif, terukur, serta tepat sasaran.

Selain memperkuat koordinasi antarlembaga, kesiapan lintas wilayah dengan Pemerintah Kabupaten Malang dan BPBD juga menjadi perhatian. Penyiagaan petugas dan alat berat pada jalur-jalur yang memiliki tingkat kerawanan tinggi diperlukan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionalcom?si=UjXPUpkON2ZP7j8f

https://instagram.com/pendidikannasional.id?obrf=MW5nZXZzYnBldWF6Ng==

https://www.facebook.com/share/1GUDtH83hq

Pada akhirnya, keberhasilan mitigasi bencana tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pemerintah dan aparat, tetapi juga oleh kesadaran kolektif masyarakat. Penguatan Destana menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa setiap desa memiliki kemampuan mengenali ancaman, mengurangi risiko, serta mengambil tindakan awal sebelum bantuan dari luar wilayah tiba.

Dengan demikian, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus ditempatkan sebagai agenda perlindungan masyarakat yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.

 

Penulis : Riadi. 

Editor   : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Tutup