Dakwah Digital Jadi Fokus Muslimat NU Jatim, Khofifah Soroti Peran AI dan Generasi Muda

Muslimat NU Jawa Timur Perkuat Dakwah Digital, Khofifah Tekankan Kolaborasi Lintas Generasi dan Pemanfaatan AI secara Etis

Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur menegaskan komitmennya memperkuat transformasi dakwah digital sebagai bagian dari ikhtiar membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Komitmen tersebut mengemuka dalam forum konsolidasi yang mempertemukan para daiyah, Himpunan Daiyah (HIMDA), dan Majelis Taklim Muslimat NU Jawa Timur dengan mengusung tema “Muslimat NU Berhijrah Menuju Dakwah Digital untuk Peradaban.”( 11 Juli 2026 ). 

Kegiatan yang diselenggarakan secara berkala setiap enam bulan sekali itu tidak hanya menjadi ruang silaturahmi dan peningkatan kapasitas para pendakwah perempuan, tetapi juga menjadi forum strategis dalam merumuskan arah dakwah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan dinamika masyarakat digital.

Ketua DPW Muslimat NU Jawa Timur, ketika memberikan keterangannya ke tim Pendidikannasional.id.
Ketua DPW Muslimat NU Jawa Timur, ketika memberikan keterangannya ke tim Pendidikannasional.id.

Ketua DPW Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid, menjelaskan bahwa forum tersebut sejak awal dirancang untuk memperkuat kapasitas keilmuan para daiyah agar mampu menjawab berbagai tantangan zaman.

“Pertemuan ini bukan sekadar mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan bagi para daiyah agar memiliki bekal ilmu, metode, dan strategi dakwah yang relevan dengan tantangan masyarakat saat ini,”ujarnya.

Menurut Masruroh, pemilihan tema dakwah digital merupakan respons atas perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin bergantung pada ruang digital sebagai sumber informasi, termasuk dalam memperoleh referensi keagamaan.

Ketua DPW Muslimat Jawa Timur ketika memberikan apresiasinya berupa buku kepada Ketua Umum Muslimat Jawa Timur.
Ketua DPW Muslimat Jawa Timur ketika memberikan apresiasinya berupa buku kepada Ketua Umum Muslimat Jawa Timur.

Ia menilai perkembangan tersebut menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius. Di satu sisi, media digital memungkinkan penyebaran dakwah menjangkau masyarakat tanpa batas ruang dan waktu. Namun di sisi lain, ruang digital juga dipenuhi berbagai informasi yang belum tentu benar, bahkan berpotensi menyesatkan.

“Generasi milenial dan Gen Z lebih akrab dengan media digital dibandingkan metode dakwah konvensional. Karena itu, dakwah juga harus hadir di ruang yang mereka gunakan setiap hari,” katanya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/nasional/kunker-presiden-ke-surabaya-sekaligus-resmikan-konggres-muslimat-nu/

Masruroh mengingatkan bahwa apabila ruang digital terus dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, dan konten yang tidak mendidik, maka hal tersebut berpotensi memengaruhi pola pikir, karakter, hingga akhlak generasi muda.

Karena itu, Muslimat NU mendorong seluruh daiyah tidak hanya aktif berdakwah melalui majelis taklim, tetapi juga memproduksi konten edukatif di berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, Instagram, podcast, hingga media sosial lainnya guna menghadirkan narasi Islam yang moderat, menyejukkan, dan selaras dengan nilai-nilai perjuangan Nahdlatul Ulama.

Khofifah Dorong Kolaborasi Lintas Generasi dan Pemanfaatan AI yang Beretika

Ketua Umum Muslimat NU Jawa Timur ketika memberikan keterangannya disela sela kegiatan.
Ketua Umum Muslimat NU Jawa Timur ketika memberikan keterangannya disela sela kegiatan.

Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa transformasi dakwah digital harus diiringi peningkatan kualitas materi, metode penyampaian, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Menurutnya, kekuatan utama Muslimat NU selama ini terletak pada jaringan majelis taklim yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Namun perkembangan teknologi menuntut inovasi agar dakwah mampu menjangkau generasi digital secara lebih luas.

Khofifah mengungkapkan bahwa Muslimat NU sebelumnya telah melaksanakan berbagai pelatihan, mulai dari fotografi, videografi, hingga produksi konten digital sebagai bekal para daiyah menghadapi era komunikasi modern.

Ia mengutip berbagai hasil kajian yang menunjukkan lebih dari 60 persen masyarakat kini memanfaatkan media sosial sebagai salah satu rujukan memperoleh pengetahuan keagamaan. Dengan jumlah pengguna internet Indonesia yang mencapai ratusan juta orang, ruang digital dinilai sebagai ladang dakwah yang sangat strategis.

Untuk itu, Khofifah mendorong kolaborasi lintas generasi dengan melibatkan Fatayat NU dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Tampak kegiatan silaturahmi Muslimat NU se Jawa Timur.
Tampak kegiatan silaturahmi Muslimat NU se Jawa Timur.

Dalam konsep tersebut, materi dakwah tetap disusun oleh para ulama dan tokoh Muslimat NU, sementara penyajian visual, bahasa, desain, animasi, video pendek, serta kreativitas konten dikembangkan bersama generasi muda agar lebih komunikatif dan mudah diterima masyarakat.

Konten dakwah pun diharapkan tidak hanya berisi ceramah keagamaan, tetapi juga membahas isu-isu strategis seperti pendidikan anak usia dini, penguatan karakter, kesehatan mental, ketahanan keluarga, motivasi menghadapi tantangan kehidupan, hingga persiapan memasuki dunia kerja.

Khofifah juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari transformasi peradaban yang tidak dapat dihindari.

Menurutnya, AI harus dimanfaatkan secara produktif untuk meningkatkan efektivitas dakwah, mempercepat produksi konten edukatif, memperluas jangkauan penyebaran pesan-pesan kebaikan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI harus disertai tanggung jawab moral agar tidak menjadi sarana penyebaran hoaks, manipulasi informasi, pemalsuan identitas melalui tiruan wajah maupun suara, ataupun tindakan lain yang merendahkan harkat dan martabat manusia.

Kementerian PPPA: Dakwah Digital Harus Menjaga Nilai Aswaja dan Melindungi Anak

Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Bidang Perlindungan Anak, Prof. Dr. Zahrotun Nihaya, M.Si, ketika memberikan sambutan sambutanya.
Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Bidang Perlindungan Anak, Prof. Dr. Zahrotun Nihaya, M.Si, ketika memberikan sambutan sambutanya.

Memperkuat gagasan tersebut, Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Bidang Perlindungan Anak, Prof. Dr. Zahrotun Nihaya, M.Si, yang mewakili Menteri PPPA, menegaskan bahwa transformasi dakwah digital merupakan keniscayaan di era siber. Namun, menurutnya, perubahan media dakwah tidak boleh menggeser nilai-nilai dasar Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam sambutannya, Prof. Zahrotun yang juga menjabat sebagai Ketua Periodik PP Muslimat NU menyampaikan bahwa perpindahan ruang dakwah dari surau dan majelis menuju media sosial, podcast, hingga berbagai platform digital merupakan konsekuensi perkembangan zaman yang harus disikapi secara bijaksana.

“Bagi warga Muslimat NU, dakwah digital harus tetap berpijak pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang menjunjung tinggi nilai tawasut (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus),” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya budaya tabayun atau klarifikasi sebelum menyebarkan informasi agar ruang digital tetap menjadi ruang edukasi, persatuan, dan penyebaran nilai-nilai kebajikan.

Menurut Prof. Zahrotun, keberhasilan dakwah digital bukan hanya diukur dari banyaknya jumlah penonton atau pengikut media sosial, melainkan dari kemampuan menghadirkan konten yang benar, santun, mencerdaskan, serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Tampak Ketua Umum Muslimat NU bersama Muslimat se Jawa Timur.
Tampak Ketua Umum Muslimat NU bersama Muslimat se Jawa Timur.

Selain membahas peluang dakwah, Prof. Zahrotun juga menyoroti tantangan besar terhadap keselamatan anak di ruang digital. Ia menyebut pesatnya perkembangan teknologi membawa berbagai risiko, mulai dari cyber bullying, eksploitasi seksual daring, penyalahgunaan data pribadi, hingga paparan konten negatif yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Sebagai bentuk komitmen negara, pemerintah telah menetapkan dua regulasi penting pada tahun 2025, yakni Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak di Ranah Dalam Jaringan (PARD) serta Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

Menurutnya, kedua regulasi tersebut menjadi landasan kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang aman bagi anak-anak Indonesia.

Prof. Zahrotun juga mengajak seluruh anggota Muslimat NU menjadi pelopor literasi digital yang beretika. Dengan jaringan organisasi yang menjangkau hingga tingkat desa, Muslimat NU dinilai memiliki modal sosial yang sangat besar dalam memperkuat ketahanan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas pengasuhan anak di era digital.

“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ketika seorang ibu memiliki literasi digital yang baik, ia akan mampu mendampingi putra-putrinya menggunakan teknologi secara sehat, kritis, dan bertanggung jawab,”tuturnya.

Dampak Positif terhadap Ekonomi Daerah

Penyelenggaraan kegiatan berskala nasional tersebut juga memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi daerah.

Tampak depan sebelah kiri, Pelaku Wisata serta Wakil Garuda Wisata Nusantara, Gubenur Jawa Timur, CEO Garuda Wisata Nusantara ketika di tempat kegiatan Muslimat NU se-Jawa Timur.
Tampak depan sebelah kiri, Pelaku Wisata serta Wakil Garuda Wisata Nusantara, Gubenur Jawa Timur, CEO Garuda Wisata Nusantara ketika di tempat kegiatan Muslimat NU se-Jawa Timur.

Chief Organizing Officer Garuda Wisata Nusantara, Dr.(c) Imam Khoirudin, S.Pd.,M M.,menjelaskan bahwa pihaknya dipercaya menjadi penyelenggara kegiatan karena pengalaman menangani berbagai agenda nasional di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurutnya, kegiatan nasional seperti ini memiliki efek berganda terhadap perekonomian melalui peningkatan tingkat hunian hotel, aktivitas pelaku UMKM, jasa transportasi, hingga sektor pariwisata.

Tampak Wakil Ketua Garuda Wisata Nusantara bersama CEO Garuda wisata Nusantara ketika memberikan keteranganya ke awak media.
Tampak Wakil Ketua Garuda Wisata Nusantara bersama CEO Garuda wisata Nusantara ketika memberikan keteranganya ke awak media.

Sementara itu, Wakil Garuda Wisata Nusantara, Gimin Suhartono, menilai keberlanjutan penyelenggaraan agenda nasional menjadi strategi penting dalam menjaga stabilitas industri perhotelan di tengah tantangan efisiensi anggaran dan ketatnya persaingan tarif.

Imam menambahkan bahwa persaingan sektor pariwisata saat ini tidak lagi berlangsung antarwilayah di Indonesia, melainkan telah memasuki tingkat regional bahkan global.

Karena itu, Indonesia memerlukan ekosistem pariwisata yang terintegrasi melalui regulasi yang berpihak pada investasi, tata kelola destinasi yang profesional, serta kolaborasi lintas sektor sebagaimana telah diterapkan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Ia berharap pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus memperkuat kebijakan strategis yang mampu meningkatkan daya saing pariwisata nasional sekaligus menjadikan Indonesia sebagai destinasi unggulan di tingkat internasional.

Melalui transformasi dakwah digital yang dibangun di atas fondasi ilmu, kolaborasi lintas generasi, literasi digital, perlindungan anak, serta pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab, Muslimat NU Jawa Timur berharap mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap menghadapi era digital, tetapi juga berakhlak mulia, moderat, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. 

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Umum PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur Nyai Masruroh Wahid, Staf Khusus Menteri PPPA Bidang Perlindungan Anak Prof. Dr. Zahrotun Nihaya, M.Si., para pengurus HIMDA, Majelis Taklim Muslimat NU, serta berbagai tokoh Muslimat NU dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Forum tersebut diharapkan melahirkan langkah-langkah konkret dalam mewujudkan visi “Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi” sebagai bagian dari kontribusi Muslimat NU menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

Array
Related posts
Tutup
Tutup