Haul Gus Dur ke-16 di Batu Wali Kota Serukan Implementasi 9 Nilai Utama dan Waspadai Politik Identitas

Wali Kota Batu Ingatkan Ancaman Egoisme dan Politik Identitas, Serta Kaitkan Sejarah Otonomi Daerah dengan Warisan Sang Presiden

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Dalam gelaran Puncak Haul ke-16 almarhum Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Sabtu (7/2/2026) siang, nilai-nilai luhur kebangsaan dan kemanusiaan yang diwariskan sang tokoh dikumandangkan kembali. Acara yang dihadiri oleh segenap pimpinan daerah, perwakilan Forkopimda (Forkomando Pimpinan Daerah), anggota legislatif, tokoh masyarakat, dan ratusan undangan ini, tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, melainkan menjadi ruang refleksi publik tentang kondisi kebinekaan Indonesia terkini.

Wali Kota Batu ketika memberikan sambutanya
Wali Kota Batu ketika memberikan sambutanya

Dalam sambutanya Wali Kota Batu memaparkan nilai utama Gus Dur yang relevan sebagai penawar atas tantangan zaman. Ketahuhidan (Spiritualitas), Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Kesatriaan, dan Kearifan Tradisi. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, bukan sekadar konsep abstrak, melainkan paradigma tindakan yang harus dioperasionalkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Siang ini, kita berkumpul untuk merayakan keberagaman dan perbedaan. Nilai-nilai ini telah dicontohkan secara nyata oleh Gus Dur. Potret yang beliau tampilkan adalah bagaimana cara memuliakan serta menghormati perbedaan di tengah masyarakat,” ujar Wali Kota, membuka pidatonya.

Doa Lintas Agama dalam Haul Gus Dur ke-16
Doa Lintas Agama dalam Haul Gus Dur ke-16

Wali Kota memperingatkan bahwa kemuliaan Indonesia yang terletak pada kebinekaannya mulai terancam tergerus oleh perkembangan zaman yang disertai egoisme individu dan kolektif, disparitas ekonomi yang melebar, serta polarisasi politik dan agama yang kian meruncing. 

“Jika nilai-nilai ini tergerus maka kita seolah kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika telah menjadi komitmen kebangsaan kita yang bersifat final,” tegasnya, 

Ketika menyanyikan lagu Indonesia di ikuti oleh seluruh undangan
Ketika menyanyikan lagu Indonesia di ikuti oleh seluruh undangan

Lebih lanjut, Wali Kota menawarkan solusi melalui pendekatan implementatif. Ia menekankan bahwa perayaan perbedaan tidak boleh berhenti pada seremoni forum-forum elit, tetapi harus menjalar ke dalam praktik hidup sehari-hari, kebijakan publik, dan interaksi sosial paling dasar. 

“Kita harus mampu menunjukkan rasa cinta terhadap segala bentuk perbedaan dari elemen mana pun,” serunya. Ia mengajak semua pihak untuk menanamkan kesadaran bahwa seluruh anak bangsa adalah saudara dalam satu keluarga besar, di mana perdebatan identitas yang kontraproduktif harus ditinggalkan.

Penampilan dari seni tarian dalam rangkaian kegiatan Haul Gus Dur
Penampilan dari seni tarian dalam rangkaian kegiatan Haul Gus Dur

Wali Kota menyatakan bahwa Gus Dur adalah “tokoh yang melampaui batas lokal,” sebuah aset bangsa dan dunia, bukan hanya milik Nahdlatul Ulama. Namun, pada saat yang sama, ia mengungkap fakta historis yang membuktikan kedekatan emosional dan politis Gus Dur dengan kota ini.

“Sejarah mencatat bahwa penetapan Kota Batu sebagai daerah otonom (definitif) ditandatangani langsung oleh Gus Dur saat beliau menjabat sebagai Presiden pada tahun 2001. Ini adalah sejarah yang sangat berharga bagi kami,” paparnya. Pernyataan ini tidak hanya menjadi pengingat akan kontribusi nyata Gus Dur terhadap pembentukan kelembagaan daerah, tetapi juga mengaitkan warisan nilai-nilainya dengan pembangunan Batu ke depan.

 

Wali Kota kemudian menyatakan komitmen pemerintahan yang dipimpinnya untuk meneruskan estafet kepemimpinan dengan berpedoman pada pikiran-pikiran Gus Dur yang inklusif dan berpihak pada rakyat kecil. “Saya berharap dapat menjalankan amanah ini dengan baik dan terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Gus Dur yang selalu dekat dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang,” tuturnya.

Ketua Panitia ketika melaporkan rangkaian kegiatan Haul Gus Dur ke-16
Ketua Panitia ketika melaporkan rangkaian kegiatan Haul Gus Dur ke-16

Sebelum puncak acara, Ketua Panitia Haul Yuswo Eko Widodo, melaporkan bahwa peringatan kali ini telah dirangkaikan dengan serangkaian kegiatan multidimensi sejak Desember 2025, menunjukkan pendekatan yang holistik. Rangkaian kegiatan tersebut antara lain:

1. 20 Desember 2025.Acara pengobatan alternatif dan testimoni tentang Gus Dur yang menghadirkan KH. Said Aqil Siroj di Padepokan KH. Muslimin, mengangkat dimensi spiritual dan kearifan kesehatan tradisional.

2. 2 Januari 2026.Ritual Syukur “Gus Dur Menjadi Pahlawan Nasional” di Taman Makam Pahlawan (TMP), yang memadukan tahlil, istighosah, dengan orasi kebangsaan dari Cak Husin, menyatukan elemen religiusitas dan nasionalisme.

3. 9 Januari 2026. Festival Sastra dan pembacaan puisi tentang Gus Dur oleh Komunitas Satu Pena Kota Batu, mengolah warisan tokoh menjadi diskursus seni dan budaya.

4. 7 Februari 2026. Acara Puncak di Graha Pancasila sebagai pemersatu dan refleksi akhir dari seluruh rangkaian.

Tampak dari Lintas Agama dan Gus Durian mengikuti dengan khitmad
Tampak dari Lintas Agama dan Gus Durian mengikuti dengan khitmad

Struktur acara ini merefleksikan kompleksitas sosok Gus Dur sendiri seorang kiai, pemikir, budayawan, dan negarawan yang dapat dikaji dan dihormati dari berbagai sudut pandang.

Peringatan Haul Gus Dur ke-16 di Kota Batu ini terjadi dalam konteks nasional dan global yang penuh gejolak. Di tingkat global, gelombang populisme, nasionalisme sempit, dan konflik identitas menjadi tantangan bagi tatanan dunia. Di tingkat domestik, tahun-tahun pasca pandemi dan mendekati tahapan politik tertentu seringkali memicu pemanasan suhu politik yang berpotensi mengorbankan kohesi sosial.

Tampak anggota DPRD Kota Batu, Kemenag, Camat Batu, Lintas Agama dan undangan yang hadir
Tampak anggota DPRD Kota Batu, Kemenag, Camat Batu, Lintas Agama dan undangan yang hadir

Oleh karena itu, pesan-pesan yang disampaikan dalam acara ini memiliki resonansi yang kuat. Ajakan untuk mengimplementasikan nilai-nilai Gus Dur secara nyata, penegasan bahwa perbedaan adalah kekuatan, dan peringatan akan bahaya egoisme serta politik identitas, merupakan respons langsung terhadap kondisi tersebut. Haul ini berubah fungsi dari sekadar memperingati menjadi mengingatkan dan mengajak bertindak.

Semangat yang diusung adalah semangat inklusivitas radikal sebagaimana dicontohkan Gus Dur dengan membuka Istana untuk rakyat biasa. Dalam konteks pemerintahan daerah, ini dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang partisipatif, pelayanan yang tidak diskriminatif, dan pembangunan yang mempertimbangkan suara semua kelompok, terutama yang terpinggirkan.

Wali Kota Batu ketika bersama sama Lintas Agama, Gus Durian, Lintas Buda, Shindi dan Forkopimda
Wali Kota Batu ketika bersama sama Lintas Agama, Gus Durian, Lintas Buda, Shindi dan Forkopimda

Acara yang dihadiri juga oleh Ibu Dewanti Rumpoko (mantan Wali Kota dan Anggota DPRD Jatim), perwakilan Kodim 0818, Kejari, Polres, Kantor Kementerian Agama, serta seluruh camat se-Kota Batu ini ditutup dengan doa bersama dan harapan. Warisan Gus Dur, melalui sembilan nilai utamanya, terbukti tetap hidup dan relevan. Ia tidak hanya dikenang sebagai presiden atau kiai, tetapi sebagai “guru bangsa” yang ajaran-ajarannya menjadi kompas navigasi di tengah lautannya perbedaan Indonesia.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/wali-kota-batu-beri-mandat-khusus-kepada-pj-sekda-baru-eko-suhartono/

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Peringatan Haul ini menjadi penanda bahwa di Kota Batu, dan di banyak tempat lain di Nusantara, masih ada komitmen kolektif untuk merawat rumah besar Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, dengan semangat persaudaraan sejati tanpa syarat. Sebagaimana disimpulkan oleh Wali Kota, “Semoga semangat Gus Dur dalam menjaga kebhinekaan dan persatuan selalu menyertai langkah kita semua.” Pesan itu, sederhana namun mendalam, adalah inti dari seluruh perhelatan malam itu sebuah ikrar untuk terus merawat Indonesia yang satu dalam keberagamannya yang tak terhingga.

 

( Ria ). 

Array
Related posts
Tutup
Tutup