Dari Kediaman Camat Bumiaji Suara Jiwa Menyala Dalam Gelap

Suasana hangat dan penuh semangat latihan menyanyi anak disabilitas tuna netra di kediaman Thomas Maydo, dengan dukungan penuh dari keluarga ( Foto : Ria ).

https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia

Suara Kecil yang Menyala dalam Gelap Latihan Menyambut Festival Nala di Kota Batu

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di sebuah ruang hangat di kediaman Thomas Maydo, Kota Batu, Pada tanggal 23 Desember 2025 tak hanya diisi oleh hembusan angin dingin pegunungan. Pukul 19.00 WIB, ruang itu justru dihangatkan oleh suara-suara murni yang lantang beryanyi. Dua sosok kecil, Kenzi (5) dan Dillah (9), dengan penuh semangat melantunkan nada, didampingi oleh kedua orang tua mereka yang penuh perhatian. Ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan persiapan menyambut Festival Nala pada 28 Desember mendatang, sebuah momen di mana mereka akan unjuk kebolehan di hadapan publik.

Camat Bumiaji Kota Batu, Thomas Maydo, ketika berikan petunjuk dan saran kepada pendamping kedua anak penyandang disabilitas dalam sesi latihan vokal.
Camat Bumiaji Kota Batu, Thomas Maydo, ketika berikan petunjuk dan saran kepada pendamping kedua anak penyandang disabilitas dalam sesi latihan vokal.

Thomas Maydo,S.Sos., yang dikenal tidak hanya sebagai Camat Bumiaji tetapi juga sebagai pembina dan penggiat disabilitas yang tak kenal lelah, memandu kegiatan ini. Di rumahnya yang telah menjadi semacam sanggar informal, ia menciptakan ruang aman dan penuh penerimaan bagi anak-anak berkebutuhan khusus,salah satunya yaitu tuna netra.

“Ini adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap disabilitas. Esensinya, semua manusia sama. Kita tidak boleh membeda-bedakan berdasarkan status, agama, atau kondisi fisik. Mereka memiliki potensi yang luar biasa dan hak yang sama untuk bersinar,” ujar Thomas, dengan mata berbinar penuh keyakinan.

Kenzi, anak berusia 5 tahun penyandang disabilitas, sedang berkonsentrasi melantunkan nada saat latihan menyanyi
Kenzi, anak berusia 5 tahun penyandang disabilitas, sedang berkonsentrasi melantunkan nada saat latihan menyanyi

Dua penyanyi cilik ini datang dari latar belakang yang berbeda, membawa karakter unik masing-masing. Kenzi, berusia 5 tahun asal Songgokerto, Jl. Teratai Gang I, suaranya masih seperti kicauan burung kecil yang jernih dan penuh rasa ingin tahu. Setiap latihan, ia menyimak dengan saksama, belajar mengenali nada bukan dengan melihat, tetapi dengan merasakan getaran dan mendengar dengan hati. Dampingan penuh kasih orang tuanya menjadi tonggaknya untuk berani bersuara.

Sementara Dillah, gadis berusia 9 tahun asal Dusun Kedung, Desa Giripurno, menunjukkan kepribadian yang lebih mandiri. Selain memiliki bakat menyanyi, ia terampil merangkai manik-manik menjadi gelang tangan yang indah. Keterampilan tangannya yang lincah itu adalah cara lain baginya untuk ‘melihat’ dan mencipta keindahan. Bagi Dillah, dunia tidak gelap tetapi dunia penuh dengan tekstur, bunyi, dan warna imajinasi yang ia tuangkan dalam nyanyian dan kerajinan tangannya.

Dillah (9), Disabilitas yang berbakat menyanyi,yang juga mempunyai keterampilannya merangkai manik-manik menjadi gelang tangan.
Dillah (9), Disabilitas yang berbakat menyanyi,yang juga mempunyai keterampilannya merangkai manik-manik menjadi gelang tangan.

Meski karakter mereka berbeda yang satu masih belia dan polos, yang lain sudah mulai terampil dan mandiri mereka memiliki “komposisi kekuatan yang sama”, seperti disampaikan Thomas. Kekuatan itu adalah ketangguhan, semangat belajar yang tinggi, dan dukungan tanpa syarat dari keluarga. Latihan ini bukan hanya tentang mempersiapkan penampilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan rasa memiliki dalam sebuah komunitas yang saling mendukung.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/pkn-politeknik-angkatan-darat-82-mahasiswa-diterjunkan-tangani-sampah-dan-perbaiki-infrastruktur-ti-desa/

Kedua orang tua yang setia mendampingi pun menjadi bagian dari cerita inspiratif ini. Mereka tidak hanya sebagai pengantar, tetapi sebagai partner belajar, mata, dan sokongan emosional bagi anak-anak mereka. Kehadiran mereka membuktikan bahwa dukungan keluarga adalah fondasi terkuat bagi perkembangan anak disabilitas untuk mengeksplorasi dunia.

Persiapan menuju Festival Nala ini menjadi simbol yang lebih besar. Ia adalah cermin dari Kota Batu yang inklusif, di mana perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan. Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat diajak untuk menggeser perspektif dari melihat keterbatasan menjadi melihat kemampuan, dari rasa kasihan menjadi rasa hormat dan apresiasi.

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Kisah Kenzi dan Dillah adalah pengingat akan potensi tak terbatas yang ada dalam setiap individu. Mereka mengajarkan bahwa ‘melihat’ hakiki bukanlah semata fungsi mata, tetapi fungsi hati dan tekad. Saat suara mereka nanti berkumandang di Festival Nala, yang akan terdengar bukan sekadar melodi, tetapi sebuah deklarasi bahwa dalam gelap pun, cahaya jiwa bisa bersinar terang, dan setiap manusia, tanpa kecuali, berhak untuk didengar, dihargai, dan disemangati.

Festival Nala nanti bukan hanya puncak dari latihan mereka, tetapi sebuah pintu yang terbuka lebar untuk lebih banyak lagi ruang inklusif di masyarakat. Sebuah langkah kecil yang menginspirasi, bermula dari ruang hangat di rumah seorang camat yang peduli, menuju panggung yang lebih luas kehidupan bersama yang setara dan penuh empati.

 

( Ria ). 

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup