Merajut Kebhinnekaan di Bulan Suci,Haul Gus Dur Berlanjut dengan Buka Bersama Lintas Iman di Biara Karmel Batu
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat pluralisme almarhum Gus Dur kembali terukir dalam sebuah forum kebersamaan yang unik. Rangkaian peringatan Haul Gus Dur di Kota Batu dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama yang digelar di sebuah lokasi yang sarat makna yaitu di Novisiat Carmel, Batu, Rabu, 25 Februari 2026. Acara ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah simbol kuat perekat sosial antar elemen masyarakat yang berbeda latar belakang.
Hadir dalam kesempatan tersebut para tokoh lintas iman,Ketua Satu Pena Jawa Timur, kelompok Gusdurian, kelompok band Power Of Disability, serta jajaran pengurus LABUNI Bumiaji. Kehadiran Pembina LABUNI Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos., yang juga menjabat sebagai Camat Bumiaji, menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif akar rumput ini.

Pemilihan Biara Novisiat Carmel sebagai lokasi acara menjadi poin penting dalam narasi kerukunan ini. Romo Andi Sumaryono, O.Carm, dalam sambutannya, menjelaskan secara etimologis makna dibalik nama “Karmel”. “Karmel berasal dari kata ‘Karm’ yang berarti kebun anggur dan ‘El’ yang berarti Tuhan. Jadi, Karmel adalah Kebun Anggur Tuhan,” ujarnya.
Lebih jauh, Romo Andi memberikan refleksi teologis yang mendalam tentang esensi perbedaan. Beliau menganalogikan pengalaman masa mudanya saat bergabung dalam kelompok pecinta alam yang multikultural.

“Kami pernah berkumpul dan merokok bersama. Ada yang merokok Ardath, Jarum Super, Gudang Garam, dan Marlboro. Meskipun merek rokok kami berbeda-beda, asap yang kami hasilkan tidak berjalan sendiri-sendiri. Asap-asap itu naik ke atas dan menyatu menjadi satu di udara,” tuturnya.
Analogi sederhana ini sarat makna, bahwa meskipun jalan setiap insan untuk mencapai Yang Ilahi berbeda (simbol dari merek rokok), namun tujuan akhirnya adalah satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. “Pada hakikatnya kita semua adalah satu keluarga dan satu saudara,” tegas Romo Andi, seraya berharap agar momen ini dapat memperkuat rasa persaudaraan di Kota Batu tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Sementara itu Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos., dalam kesempatannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif dari kelompok paduan suara lintas agama dan etnis yang terbentuk saat Haul Gus Dur.
“Kegiatan ini sengaja digelar di Biara Karmel agar masyarakat lebih mengenal bahwa tempat ini adalah bagian dari kekayaan dan keragaman komunitas di wilayah kita,” jelasnya.

Menurut Thomas, kehadiran berbagai elemen, mulai dari tokoh agama, seniman, jurnalis, hingga kelompok disabilitas, mencerminkan spektrum kebhinnekaan yang luas di Kota Batu. Ke depan, pihaknya berencana untuk tidak berhenti di sini.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
“Harapannya, kegiatan serupa bisa berkelanjutan. Kami ingin bergiliran hadir di Pondok Pesantren, Panti Jompo, Panti Asuhan, Pura, hingga Vihara. Tujuannya agar kita saling mengenal potensi satu sama lain dan memperkuat persatuan,” imbuhnya.

Ditempat yang sama Haris El Mahdi, perwakilan Gusdurian Batu, mengungkapkan bahwa momentum ini juga menjadi ajang reuni bagi Paduan Suara Kebangsaan yang diluncurkan pada peringatan Haul Gus Dur, 7 Februari lalu.
“Anggota paduan suara ini berasal dari latar belakang Islam, Kristen, dan Katolik. Setelah berminggu-minggu berlatih, kami ingin silaturahmi ini tetap terjaga,” ungkap Haris.


Ia pun memandang ke depan dengan visi yang lebih luas. “Kami akan berupaya merangkul lebih banyak anggota, termasuk dari kalangan Hindu, Budha, dan penghayat kepercayaan, untuk bergabung. Karena harmoni sejati adalah ketika semua suara bisa berdiri dalam satu irama,” pungkasnya.

Acara yang dihibur oleh kelompok Sanduk Kecamatan Bumiaji,serta kelompok PD ( Power of Disability ) ini menjadi bukti bahwa di tengah hingar-bingar perbedaan, ruang-ruang kebersamaan masih dapat diciptakan. Lebih dari sekadar berbuka puasa, pertemuan di Kebun Anggur Tuhan ini adalah sebuah ikrar kebangsaan bahwa kerukunan adalah fondasi utama bagi kedamaian yang abadi.
( Ria ).


Foto bersama-sama Camat Bumiaji, Romo, Pendeta, Suster, Paduan Suara Lintas Iman, Disabilitas, Tokoh masyarakat. ( Foto : istimewa ). 
