BAFC 2026 Kota Batu Hadirkan Harmoni Sinergi Semesta, Satukan Budaya, Florikultura, dan Kreativitas Masyarakat
BATU, Pendidikannasional.id – Pemerintah Kota Batu menggelar Batu Art Flower Carnival (BAFC) 2026 bertajuk Harmoni Sinergi Semesta, Sabtu (31/10/2026). Perhelatan parade mobil hias dan kebudayaan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu tersebut berlangsung meriah, dengan titik pemberangkatan di depan Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Batu dan berakhir di kawasan Perempatan Galeri Raos, Kota Batu.
Mengusung kekayaan florikultura, seni, budaya, dan kearifan lokal, BAFC 2026 menjadi ruang ekspresi kolektif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu perhelatan kreatif. Kegiatan ini melibatkan seluruh desa dan kelurahan, tiga kecamatan di Kota Batu, unsur pemerintah daerah, mitra perbankan, pelaku usaha pariwisata, komunitas seni, serta peserta umum.

Pembukaan kegiatan dilakukan langsung oleh Wali Kota Batu, H. Nurochman, S.H., M.H., didampingi Wakil Wali Kota Batu, H. Heli Suyanto, S.H., M.H., bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batu.
Dalam sambutannya, Nurochman menegaskan bahwa Batu Art Flower Carnival tidak semata-mata merupakan parade visual, tetapi juga menjadi representasi kreativitas masyarakat sekaligus instrumen kolaborasi untuk memperkuat perekonomian daerah.

Menurutnya, potensi florikultura dan hortikultura merupakan salah satu kekuatan ekonomi Kota Batu yang perlu dikembangkan melalui sinergi berbagai sektor, mulai dari petani, seniman, budayawan, dunia usaha, perbankan, hingga pemerintah.
Ia memandang BAFC sebagai ruang pertemuan antara potensi lokal dan kreativitas masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas Kota Batu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Batu Ir. Alfi Nur Hidayat, S.T., M.T., Ph.D., unsur TNI, Polri, Kejaksaan, Pengadilan, pimpinan perbankan, jajaran perangkat daerah, petani bunga, seniman, budayawan, masyarakat, serta wisatawan.
Sekitar 38 Kontingen, Mengedepankan Kolaborasi dan Ekspresi Budaya
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, menjelaskan bahwa BAFC 2026 diikuti sekitar 38 kontingen berdasarkan estimasi susunan acara dan rundown kegiatan.

Peserta berasal dari berbagai unsur, meliputi street percussion, pemerintah daerah, mitra perbankan, tiga kecamatan, seluruh desa dan kelurahan, serta sektor umum dan pariwisata.
Sejumlah pelaku usaha dan destinasi wisata yang turut berpartisipasi antara lain Baloga, Mikutopia, Perum Among Tirto, PT Selecta, Santera de Laponte, serta Kaliwatu Group dan Proflorist Batu.
Secara teknis, setiap kontingen melibatkan sedikitnya 20 orang dan maksimal 50 orang, termasuk penampil dan kru lapangan. Sementara itu, jumlah kendaraan hias dibatasi maksimal dua unit untuk setiap peserta.
Salah satu karakteristik yang membedakan penyelenggaraan BAFC tahun ini adalah pendekatan partisipasi yang tidak berorientasi pada perlombaan. Seluruh kontingen diberikan ruang untuk menampilkan kreativitas, ekspresi seni, serta kekhasan masing-masing dalam semangat kebersamaan.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah festival tidak selalu ditentukan oleh kompetisi, melainkan juga oleh kemampuan membangun partisipasi, mempertemukan keberagaman, dan menciptakan karya bersama.
Harmoni Sinergi Semesta: Bunga sebagai Bahasa Seni dan Identitas Daerah
Pemilihan tema Harmoni Sinergi Semesta memiliki landasan konseptual yang erat dengan karakteristik Kota Batu sebagai daerah yang memiliki kekayaan florikultura, bentang alam, serta tradisi budaya masyarakat.
Onny Ardianto menjelaskan bahwa bunga dalam konsep BAFC 2026 tidak ditempatkan semata-mata sebagai elemen dekoratif. Lebih dari itu, bunga dimaknai sebagai bahasa seni, identitas daerah, kekuatan budaya, sekaligus simbol kehidupan yang merepresentasikan hubungan manusia dengan alam.

Konsep tersebut diwujudkan melalui perpaduan bunga, seni, budaya, alam, musik, gerak, teknologi, dan kreativitas masyarakat. Secara konseptual, tema besar tersebut diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama.
Pertama, Folklore Legend, yakni pengangkatan legenda dan cerita rakyat yang memiliki keterkaitan dengan sejarah serta identitas lokal Kota Batu.
Kedua, Blooming Beyond Imagination (Floral Fantasy), yang memberikan ruang bagi eksplorasi artistik dan imajinasi melalui kreasi bunga, kendaraan hias, serta ragam pertunjukan visual.
Ketiga, Intangible Cultural Heritage, yang menekankan pentingnya warisan budaya takbenda melalui representasi tradisi, nilai sosial, dan semangat gotong royong masyarakat.

Ketiga pilar tersebut menjadi fondasi untuk menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki muatan edukasi, kebudayaan, dan penguatan identitas lokal.
Mengangkat Legenda Putri Gunung Banyak dan Sungai Brantas
Salah satu kekuatan narasi budaya dalam BAFC 2026 terlihat dari keterlibatan kontingen yang mengangkat cerita rakyat dan kekayaan alam Kota Batu.
Beberapa kontingen dari Kecamatan Batu dan Kecamatan Bumiaji menghadirkan interpretasi artistik mengenai legenda Putri Gunung Banyak serta keterkaitannya dengan ekosistem Sungai Brantas.

Pengangkatan cerita tersebut memberikan dimensi edukatif dalam sebuah parade kebudayaan. Masyarakat dan wisatawan tidak hanya menikmati keindahan mobil hias, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai kekayaan cerita rakyat, sejarah lokal, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan alamnya.
Dalam konteks pelestarian budaya, pendekatan semacam ini menjadi penting karena tradisi dan cerita rakyat memerlukan ruang aktualisasi agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Dengan demikian, BAFC dapat menjadi salah satu medium komunikasi budaya yang mempertemukan warisan masa lalu dengan kreativitas masyarakat masa kini.
Wali Kota Sampaikan Permohonan Maaf dan Tekankan Mitigasi Bencana
Di tengah kemeriahan perayaan Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Wali Kota Nurochman turut menyampaikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur dan potensi bencana hidrometeorologi menjelang musim hujan.

Ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan wisatawan atas ketidaknyamanan akibat sejumlah titik sumbatan saluran air yang memicu luapan air di beberapa ruas jalan.
Pemerintah Kota Batu, menurutnya, berkomitmen melakukan perbaikan infrastruktur dan memperkuat langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi curah hujan tinggi.
Perhatian tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan pariwisata harus berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan lingkungan, pemeliharaan infrastruktur, serta perlindungan keselamatan masyarakat dan wisatawan.
Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa agar Kota Batu senantiasa mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta dijauhkan dari berbagai bentuk bencana.
Gotong Royong sebagai Fondasi Pembangunan Kota Batu
Menutup sambutannya, Nurochman menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan semangat gotong royong sebagai salah satu fondasi pembangunan daerah.

Momentum Hari Jadi ke-25 Kota Batu diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kebersamaan dan membangun optimisme terhadap masa depan daerah.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat BAFC 2026 yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, petani, pelaku usaha, seniman, budayawan, dan sektor pariwisata dalam satu ruang kolaborasi.
Pada akhirnya, Batu Art Flower Carnival 2026 memperlihatkan bahwa kekayaan alam dan budaya dapat menjadi modal strategis pembangunan daerah apabila dikelola melalui kreativitas, partisipasi masyarakat, serta kerja sama lintas sektor.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionalcom?si=UjXPUpkON2ZP7j8f
https://instagram.com/pendidikannasional.id?obrf=MW5nZXZzYnBldWF6Ng==
https://www.facebook.com/share/1GUDtH83hq
Melalui tema Harmoni Sinergi Semesta, Kota Batu tidak hanya menampilkan keindahan bunga dan parade mobil hias, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan pembangunan ekonomi.
Sebuah perayaan yang diharapkan mampu memperkuat posisi Kota Batu sebagai destinasi wisata berbasis alam, budaya, dan kreativitas, sekaligus menjaga warisan lokal agar terus hidup dan berkembang lintas generasi.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.






