PSHT Cabang Batu Gelar Bakti Sosial, Bantu Pengecoran Masjid ASIA

PSHT Cabang Batu Teguhkan Kepedulian Sosial melalui Bakti Sosial Pengecoran Masjid ASIA di Kota Batu. 

KOTA BATU, Pendidikannasional.id — Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Batu kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Naiful Fallah Miftakhul Janah, Kota Batu, Minggu (27/9/2026) pagi.

Kegiatan tersebut diwujudkan melalui keterlibatan warga PSHT dalam proses pengecoran pembangunan Masjid ASIA. Kehadiran organisasi pencak silat tersebut tidak sekadar dimaknai sebagai kegiatan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, serta budi pekerti luhur yang menjadi bagian penting dalam kehidupan warga PSHT.

Tampak dengan antusias warga SH Terate bersama masyarakat melakukan pengecoran.
Tampak dengan antusias warga SH Terate bersama masyarakat melakukan pengecoran.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, pencak silat tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bela diri. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga menekankan pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, persaudaraan, serta kepedulian terhadap sesama.

Semangat tersebut sejalan dengan filosofi “memayu hayuning bawono”, yang secara umum dimaknai sebagai upaya menjaga, memperindah, dan menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah lingkungan dan masyarakat.

Tampak puluhan hingga ratusan masyarakat bergotong royong dalam pengambilan bahan bahan dan proses pengecoran.
Tampak puluhan hingga ratusan masyarakat bergotong royong dalam pengambilan bahan bahan dan proses pengecoran.

Bagi PSHT Cabang Batu, nilai tersebut berusaha diterjemahkan ke dalam tindakan nyata dengan hadir ketika masyarakat membutuhkan tenaga dan kebersamaan.

Dalam kegiatan bakti sosial itu, turut hadir Ketua PSHT Cabang Batu KangMas Sutrisno beserta jajaran pengurus, Ketua Dewan PSHT Cabang Batu Drs. Suyono bersama anggota dewan, Ketua Ranting Junrejo, perwakilan Ranting Ngantang, Ranting Pujon, Ranting Bumiaji, Ketua Komisariat Bani Salim Sapari, perwakilan Ranting Batu, Pamter, serta warga PSHT yang turut berpartisipasi.

KangMas Sutrisno sebagai Ketua PSHT Cabang Baru ketika di lokasi.
KangMas Sutrisno sebagai Ketua PSHT Cabang Baru ketika di lokasi.

Ketua PSHT Cabang Batu, KangMas Sutrisno, mengatakan keterlibatan warga PSHT dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari program organisasi untuk turut mengambil peran dalam kegiatan kemasyarakatan.

“Hari ini kami mengikuti bakti sosial, yaitu pengecoran Masjid ASIA. Ini merupakan salah satu program SH Terate, yaitu turut serta membantu dalam kegiatan kemasyarakatan,” kata KangMas Sutrisno.

Tampak Ketua Ranting Junrejo dengan penuh semangat turut serta dalam mengangkut bahan bahan.
Tampak Ketua Ranting Junrejo dengan penuh semangat turut serta dalam mengangkut bahan bahan.

Menurutnya, kepedulian sosial tidak semestinya berhenti pada lingkungan internal organisasi. PSHT, kata dia, berupaya membuka diri untuk ikut memberikan manfaat kepada masyarakat secara lebih luas.

“Ke depannya, siapapun warga masyarakat yang membutuhkan tenaga dari SH Terate, maka kami siap membantu,” ujarnya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/syukuran-psht-batu-kebhinekaan-dan-persaudaraan-jadi-pesan-utama/

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan organisasi masyarakat dapat mengambil peran konstruktif dalam membangun solidaritas sosial. Tenaga, waktu, dan kebersamaan warga organisasi dapat menjadi modal sosial yang membantu menyelesaikan berbagai kebutuhan masyarakat, terutama kegiatan yang membutuhkan semangat gotong royong.

Ketua Dewan PSHT Cabang Batu, KangMas Suyono ketika menjelaskan ke Pendidikannasional.id.
Ketua Dewan PSHT Cabang Batu, KangMas Suyono ketika menjelaskan ke Pendidikannasional.id.

Sementara itu, Ketua Dewan PSHT Cabang Batu,KangMas Drs. Suyono, menegaskan bahwa kepedulian terhadap kepentingan umum merupakan salah satu bentuk pengamalan nilai persaudaraan.

“Memang orang SH Terate itu membantu kepentingan umum, peduli terhadap lingkungan sekitar, dan apalagi ini juga merupakan saudara kita sendiri,” ujar KangMas Suyono.

Ia kemudian menjelaskan hubungan persaudaraan antara PSHT dengan pengasuh Pondok Pesantren Naiful Fallah Miftakhul Janah, Gus Nur.

Salah satu warga SH Terate yang turut serta juga didalam bakti sosial pengecoran masjid.
Salah satu warga SH Terate yang turut serta juga didalam bakti sosial pengecoran masjid.

Menurut Suyono, Gus Nur merupakan salah satu warga PSHT yang disahkan sekitar tahun 2009. Saat itu, terdapat sekitar 13 kiai yang berangkat dari Kota Batu menuju Madiun untuk mengikuti proses pengesahan.

“Gus Nur ini adalah salah satu warga SH Terate yang disahkan sekitar 2009, dengan jumlah sekitar 13 kiai yang dibawa dari Kota Batu ke Madiun atau disahkan di Madiun,” jelasnya.

KangMas Suyono menuturkan, setelah menjadi warga PSHT, Gus Nur juga mengembangkan kegiatan pendidikan keagamaan melalui pondok pesantren. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kuat bagi warga PSHT Cabang Batu untuk hadir memberikan dukungan dalam pembangunan masjid tersebut.

Tampak warga SH Terate bersama masyarakat antusiasnya dalam kegiatan baksos pengecoran masjid.
Tampak warga SH Terate bersama masyarakat antusiasnya dalam kegiatan baksos pengecoran masjid.

“Sehingga kebetulan di sini Gus Nur itu menjadi Romo Yai dengan mengembangkan pondok-pondok, sehingga mengembangkan nilai-nilai agama serta ajaran SH Terate juga yang diterapkannya,” katanya.

“Maka dari itu, kami saat ini ikut mendukung serta mendoakan untuk di dalam membangun Masjid ASIA ini,” lanjut KangMas Suyono.

Hubungan tersebut menunjukkan bahwa nilai persaudaraan dapat berkembang melampaui batas-batas kegiatan organisasi. Ketika persaudaraan bertemu dengan kepentingan masyarakat, ia dapat diwujudkan dalam bentuk kerja bersama, kepedulian, dan kontribusi nyata.

Gus Nur sebagai Pengasuh Ponpes juga sekaligus Warga PSHT Cabang Batu ketika memberikan keteranganya ke Pendidikannasional.id.
Gus Nur sebagai Pengasuh Ponpes juga sekaligus Warga PSHT Cabang Batu ketika memberikan keteranganya ke Pendidikannasional.id.

Pengasuh Pondok Pesantren Naiful Fallah Miftakhul Janah, Gus Nur, yang juga merupakan warga PSHT Cabang Batu, menjelaskan bahwa pembangunan masjid tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan kehidupan keagamaan sekaligus ruang kebersamaan masyarakat.

Ia menerangkan, nama ASIA pada masjid tersebut merupakan singkatan dari Ageng Siti Inggil Alfalah.

“Masjid ini nantinya seluas sekitar 700 meter persegi yang diikuti oleh semua elemen masyarakat,” jelas Gus Nur.

Pembangunan masjid dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat tersebut mencerminkan bahwa tempat ibadah tidak hanya memiliki fungsi spiritual, tetapi juga dapat menjadi ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan.

Tampak area pengecoran untuk masjid ASIA.
Tampak area pengecoran untuk masjid ASIA.

Dalam konteks pembangunan masyarakat, gotong royong semacam itu memiliki nilai penting. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pembangunan itu sendiri.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Nur juga menyampaikan pesan filosofis mengenai bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.

Ia menggunakan ungkapan Jawa yang sarat dengan makna reflektif, antara lain “kepingin nyapu ngelumpukne sodo” dan “karo ngeliwet tumpangi tahu”.

Ungkapan tersebut disampaikan sebagai perenungan bahwa kehidupan tidak semata-mata mengenai keinginan memperoleh sesuatu, tetapi juga bagaimana manusia mampu menata diri dan mengendalikan hawa nafsu.

Tampak suasana gotong royong yang di lakukan masyarakat serta warga SH Terate.
Tampak suasana gotong royong yang di lakukan masyarakat serta warga SH Terate.

Pesan tersebut kemudian dirangkai dengan ungkapan, “Pingin uripmu ora soro, sing ngerti rijiki nafsu.”

Secara substantif, pesan itu mengajak manusia memahami bahwa kehidupan yang baik membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan keinginan, mengelola nafsu, serta memahami batas antara kebutuhan dan dorongan yang berlebihan.

Ia juga menyampaikan prinsip perjuangan melalui ungkapan:

“Kober ora kober maju, setiap ada peluang ojo nguber beras, baju, uang.”

Pesan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan agar manusia tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya orientasi kehidupan. Kesempatan untuk berbuat baik, mengabdi, dan memberikan manfaat kepada orang lain juga merupakan bagian dari perjuangan hidup.

Kegiatan bakti sosial PSHT Cabang Batu dalam pembangunan Masjid ASIA pada akhirnya bukan hanya mengenai pekerjaan fisik berupa pengecoran bangunan.

Lebih jauh, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai organisasi dapat diterjemahkan menjadi pendidikan karakter di tengah masyarakat.

Tampak Salah satu Pamter Cabang Batu dengan semangatnya mengangkat bahan bahan.
Tampak Salah satu Pamter Cabang Batu dengan semangatnya mengangkat bahan bahan.

Gotong royong mengajarkan manusia untuk bekerja bersama. Kepedulian mengajarkan kepekaan terhadap kebutuhan lingkungan. Persaudaraan mengajarkan penghormatan terhadap sesama. Sementara budi pekerti mengarahkan seseorang agar menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan manfaat.

Dalam perspektif pendidikan karakter, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat karena pembentukan manusia tidak hanya berlangsung melalui ruang kelas atau lembaga pendidikan formal. Lingkungan keluarga, organisasi, pesantren, komunitas, dan masyarakat juga menjadi ruang pembelajaran yang membentuk sikap serta perilaku seseorang.

Karena itu, keterlibatan organisasi kemasyarakatan dalam kegiatan sosial dapat menjadi bagian dari proses membangun masyarakat yang memiliki kepedulian, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.

Bagi PSHT Cabang Batu, kehadiran dalam pembangunan Masjid ASIA menjadi salah satu bentuk sederhana untuk menerjemahkan nilai persaudaraan dan budi pekerti ke dalam tindakan nyata.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berkembang, semangat semacam ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk menjaga persaudaraan, memperkuat kepedulian, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
Tutup