Tebar Pesona Bosima SDN Sisir 05 Kota Batu, Inovasi Pengelolaan Sampah yang Ubah Siswa Jadi Pelopor Lingkungan

Tebar Pesona Bosima SDN Sisir 05 Kota Batu, tampak siswa siswi mengumpulkan dan memilah sampah dan menimbang sampah. ( Foto : ilustrasi.)

Tebar Pesona Bosima, Inovasi SDN Sisir 05 Kota Batu Sulap Krisis Sampah Jadi Gerakan Lingkungan Berbasis Siswa

Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah meningkatnya persoalan sampah perkotaan dan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang semakin terbatas, SDN Sisir 05 Kota Batu menghadirkan langkah nyata melalui sebuah inovasi lingkungan yang melibatkan siswa sebagai motor perubahan.

Program bertajuk “Tebar Pesona Bosima” atau Terapi Baru Pengelolaan Sampah Organik dan Anorganik Bocah Sisir Lima menjadi solusi kreatif yang tidak hanya fokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga membangun budaya peduli lingkungan sejak usia dini.

Guru Pembina ketika memberikan pengarahan kepada siswa siswinya perihal sampah.
Guru Pembina ketika memberikan pengarahan kepada siswa siswinya perihal sampah.

Sebagai sekolah Adiwiyata yang kini tengah menuju penilaian Adiwiyata Nasional, SDN Sisir 05 melihat persoalan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan tantangan pendidikan karakter.

Sebelum program dijalankan, sekolah menghadapi berbagai persoalan, mulai dari rendahnya kesadaran siswa dalam memilah sampah, minimnya fasilitas tempat sampah terpisah, hingga pengelolaan sampah organik yang sering terlambat sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Tak hanya itu, partisipasi siswa dalam menjaga lingkungan juga dinilai masih rendah.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/pendidikan/siswi-sdn-sisir-05-kota-batu-raih-juara-3-fls3n-2026-cabang-menulis-cerita/

Ubah Pola Pikir Warga Sekolah

Melalui Tebar Pesona Bosima, SDN Sisir 05 mencoba mengubah kebiasaan warga sekolah secara bertahap melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.

Siswa Siswi bersama guru pembina bersihkan lingkungan area luar sekolah, sadar lingkungan yang bersih.
Siswa Siswi bersama guru pembina bersihkan lingkungan area luar sekolah, sadar lingkungan yang bersih.

Sekolah menghadirkan tempat sampah dengan sistem warna agar mudah dipahami siswa. Tempat sampah hijau digunakan untuk sampah organik seperti daun dan sisa makanan, sedangkan warna kuning digunakan untuk sampah anorganik seperti plastik dan kertas.

Di setiap titik tempat sampah juga dipasang poster infografis sederhana yang berisi panduan memilah sampah dengan bahasa dan gambar yang mudah dipahami anak-anak.

Tak berhenti di situ, sekolah rutin menggelar simulasi pemilahan sampah melalui kegiatan Jumat Ciling (Cinta Lingkungan). Dalam kegiatan tersebut, guru bersama siswa mempraktikkan langsung tata cara pengelolaan sampah di depan seluruh warga sekolah. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membangun kebiasaan baru di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah SDN Sisir 05 ketika berada di ruang kantornya.
Kepala Sekolah SDN Sisir 05 ketika berada di ruang kantornya.

 

Kepala Sekolah: Sekolah Harus Menjadi “Pesona” bagi Masyarakat

Kepala SDN Sisir 05, Puji Prihatin, S. Pd menjelaskan bahwa inovasi Tebar Pesona Bosima merupakan karya inovatif sekolah yang berhasil meraih penghargaan IGA (Innovative Government Award) dari Balitbangda.

Menurutnya, konsep “pesona” dalam program tersebut memiliki makna bahwa sekolah harus menjadi daya tarik positif bagi masyarakat, baik dari sisi lingkungan maupun prestasi siswa.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/pendidikan/hardiknas-2026-di-batu-sdn-sisir-05-gaungkan-merdeka-belajar-dan-kesejahteraan-guru/

“Selain fokus pada lingkungan, sekolah juga terus mendorong prestasi siswa baik di bidang akademik maupun non-akademik,” ujarnya pada Senin, 11/05/2026.

Ia menambahkan, siswa SDN Sisir 05 aktif mengikuti berbagai ajang seperti OSN (Olimpiade Sains Nasional), O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), hingga FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional).

Siswa di ajarkan juga untuk mencintai tumbuh tumbuhan dengan cara menyiram bunga yang ada di area sekolah.
Siswa di ajarkan juga untuk mencintai tumbuh tumbuhan dengan cara menyiram bunga yang ada di area sekolah.

 

Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Program Tebar Pesona Bosima tidak hanya berhenti pada edukasi memilah sampah. Sekolah juga membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan melalui biopori dan komposter.

Sampah organik dari kantin langsung dimasukkan ke dalam lubang biopori pada hari yang sama agar tidak menumpuk dan menimbulkan bau. Jika kapasitas penuh, sampah diolah menggunakan komposter.

Hasil pengolahan tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk tanaman sekolah. Bahkan hasil panen sayur dan buah dari lingkungan sekolah dapat dinikmati bersama oleh warga sekolah.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/kapolresta-dan-wali-kota-batam-pimpin-gotong-royong-ribuan-warga-bersihkan-lingkungan/

Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis dikumpulkan dalam area khusus berupa drop box sebelum disetorkan ke bank sampah.

Sekolah juga menerapkan budaya minim sampah dengan mengimbau siswa membawa wadah makan dan botol minum sendiri dari rumah. Kantin sekolah pun diarahkan untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai.

Guru Pembina Ciling ketika berada di area halaman sekolah.
Guru Pembina Ciling ketika berada di area halaman sekolah.

 

Guru Pembina: Kader Lingkungan Jadi Pelopor Perubahan

Guru pembina ekstrakurikuler Ciling (Cinta Lingkungan), Dian Anggraini, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan membentuk kader lingkungan yang mampu menjadi pionir bagi siswa lainnya.

“Harapannya program ini bisa memberi dampak positif yang berkelanjutan, tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan rumah dan masyarakat,” jelasnya.

Tampak salah satu siswa membersihkan saluran air di area sekolah dari sampah
Tampak salah satu siswa membersihkan saluran air di area sekolah dari sampah

Ekstrakurikuler Ciling saat ini diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 6. Dari sekitar 25 anggota, terdapat 15 siswa yang aktif menjadi penggerak utama program lingkungan sekolah.

Mereka bertugas memastikan sampah organik masuk ke komposter atau biopori serta sampah anorganik dikumpulkan ke drop box setiap hari.

Sebagai bentuk apresiasi, sekolah juga memberikan reward khusus kepada kader lingkungan yang aktif dan disiplin menjalankan tugasnya.

Achmad salah satu siswa ketika melihat sampah anorganik yang sudah terkumpul.
Ahmad salah satu siswa ketika melihat sampah anorganik yang sudah terkumpul.

 

Suara Siswa: Ingin Jadi Contoh yang Baik

Semangat menjaga lingkungan juga datang langsung dari para siswa. Salah satu anggota ekstrakurikuler lingkungan, Ahmad Hafiz Septian Abrani, siswa kelas 6 asal Sisir, Kota Batu, mengaku ingin menjadi contoh bagi teman-temannya agar tidak membuang sampah sembarangan.

“Harapannya bisa mengajak anak-anak di luar Siling agar tidak membuang sampah sembarangan lagi,” ujarnya saat diwawancarai.

Ahmad juga berharap kebiasaan baik tersebut bisa diterapkan di rumah dan lingkungan sekitar masyarakat.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/pendidikan/sangtibas-februari-fest-2026-karnaval-budaya-dan-cinta-lingkungan-meriahkan-hut-ke-182-kongregasi-pij-di-batu/

Kesadaran Siswa Meningkat Drastis

Hasil program Tebar Pesona Bosima menunjukkan perubahan yang signifikan. Tingkat kesadaran siswa dalam memilah sampah meningkat dari sekitar 40 persen menjadi 85 persen.

Kini lingkungan sekolah terlihat jauh lebih bersih, sehat, dan nyaman. Sampah yang sebelumnya sering tercampur kini mulai tertata sesuai jenisnya. Tak hanya itu, pengurangan volume sampah juga cukup signifikan.

Sebelum program berjalan, total timbulan sampah sekolah mencapai sekitar 1.078 kilogram per bulan. Setelah inovasi diterapkan, sebagian besar sampah berhasil dikelola secara mandiri oleh sekolah dan sampah anorganik turun drastis menjadi sekitar 66,1 kilogram per bulan.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Keberhasilan ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari lingkungan sekolah melalui edukasi, pembiasaan, dan keterlibatan aktif siswa.

SDN Sisir 05 kini terus bergerak menuju konsep zero waste school, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sumber daya yang dapat dikelola secara bijak dan bernilai manfaat.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

Array
Related posts
Tutup
Tutup