Gotong Royong Warga Sumberjo Buka Lahan Makam Baru 1,4 Hektar di Lereng Gunung Banyak

Suasana Gotong royong Guyub Rukun Warga masyarakat, dengan sekitar 400 orang ( Foto : Tim / Ria )

Semangat Gotong Royong Warga Sumberjo Buka Lahan Makam Baru di Lereng Gunung Banyak

Kota Batu, Sumberjo,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Rintik hujan pagi di lereng Gunung Banyak, Desa Sumberjo, tak sedikit pun meredam semangat ratusan warga pada Minggu 18 Januari 2026. Dengan antusias, mereka berduyun-duyun mendatangi sebidang lahan seluas sekitar 1,4 hektar untuk menggelar kerja bakti dan tasyakuran bersama. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya pembukaan lahan pemakaman umum baru yang sangat dinantikan masyarakat.

Acara yang penuh khidmat itu diwarnai dengan penyajian sekitar sepuluh tumpeng, simbol rasa syukur dan harapan. Tradisi tumpengan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ekspresi budaya dan sarana doa kolektif masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus pengikat tali kebersamaan sebelum memulai pekerjaan besar.

Salah satu ritual adat untuk pembukaan lahan
Salah satu ritual adat untuk pembukaan lahan

Kegiatan penting ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan desa. Turut hadir Kepala Desa Sumberjo,Drs.Riyanto, beserta perangkat desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), Badan Permusyawaratan Desa (BPD),perwakilan Kota Baru yaitu DLH, Assisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Para tokoh masyarakat, perangkat RT/RW, Kelompok Penggali Kubur (KPK), serta ratusan warga dari berbagai kalangan.

Kepala Desa Sumberjo, Drs.Riyanto Mendapat 2 Surat Pengesahan Lahan Fasum Makam,yang pertama dari Gubenur Jawa Timur dan kedua dari Wali Kota Batu.
Kepala Desa Sumberjo, Drs.Riyanto Mendapat 2 Surat Pengesahan Lahan Fasum Makam,yang pertama dari Gubenur Jawa Timur dan kedua dari Wali Kota Batu.

Dalam kesempatanya Kepala Desa Sumberjo, Drs,Riyanto, menjelaskan alasan mendasar dibalik inisiatif pembukaan lahan makam baru ini. “Ini dilandasi oleh dua kondisi yang mendesak, lahan pemakaman yang ada sudah penuh, sementara pertumbuhan dan kepadatan penduduk terus meningkat. Atas dasar itulah, kami mengajukan permohonan kepada  Pj. Wali Kota Batu saat itu kemudian ditindak lanjuti oleh Wali Kota Batu kepada Perhutani untuk meminta lahan seluas kurang lebih 1,4 hektar ini, yang diperuntukkan sebagai fasilitas umum, yaitu makam, dan telah disetujui” ujarnya. ( 19/01/2026 ). 

Kepala desa mengungkapkan rasa syukur yang mendalam karena permohonan tersebut mendapatkan respons positif. “Kami bersyukur mendapatkan surat pengesahan dari Gubenur Jawa Timur dan Wali kota Batu, sehingga kami tinggal melaksanakanya saja, Ini adalah bentuk perhatian dan dukungan nyata bagi kebutuhan vital masyarakat kami,” tambahnya.

Salah satu warga masyarakat Desa Sumberjo, Rojad ketika mengikuti Kegiatan pembersihan lahan
Salah satu warga masyarakat Desa Sumberjo, Rojad ketika mengikuti Kegiatan pembersihan lahan

Euforia dan rasa lega terasa jelas di antara para warga. Salah satunya, Rojad, yang ditemui awak media, menyampaikan kegembiraannya. “Tentunya kami sebagai masyarakat sangat senang. Kebutuhan akan lahan, termasuk lahan untuk pemakaman, semakin sempit, sementara pertumbuhan masyarakat semakin banyak. Keberadaan lahan baru ini sangat meringankan kekhawatiran kami,” tuturnya.

Rojad juga menekankan pentingnya mensyukuri anugerah ini. “Hasil pemberian ini tentunya wajib kita syukuri, kami wujudkan dengan selamatan dan tumpengan yang merupakan salah satu adat dan budaya kami. Lebih dari itu, kerja bakti hari ini merupakan simbol nyata dari kebersamaan dan kegotong royongan yang menjadi jiwa masyarakat Desa Sumberjo.” tambahnya Rojad. 

Masyarakat ketika membawa tumpeng sebagai sarana bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
Masyarakat ketika membawa tumpeng sebagai sarana bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

Aktivitas kerja bakti yang dilakukan usai tasyakuran bukan sekadar aksi fisik membersihkan dan merapikan lahan. Ia mengandung nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Kegotong royongan yang ditunjukkan warga Sumberjo mencerminkan kekuatan sosial yang mampu mengatasi keterbatasan sumber daya. Setiap cangkul yang tertancap, setiap rumput yang dicabut, merupakan manifestasi dari tanggung jawab bersama terhadap kepentingan publik.

Tradisi tumpengan sendiri sarat dengan filosofi. Bentuk gunungan nasi yang menjulang tinggi melambangkan harapan agar kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat terus meningkat. Berbagai lauk pauk yang mengelilinginya menggambarkan keragaman dan kekayaan alam, serta keragaman warga yang dipersatukan oleh satu tujuan. Proses memotong puncak tumpeng dan membagikannya kepada seluruh yang hadir adalah simbol pembagian rezeki dan kebahagiaan secara merata.

Dengan jumlah Sepuluh Tumpeng,warga masyarakat berdoa bersama-sama atas perluasan lahan makam
Dengan jumlah Sepuluh Tumpeng,warga masyarakat berdoa bersama-sama atas perluasan lahan makam

Keberadaan lahan makam baru ini diharapkan dapat memecahkan masalah krusial untuk puluhan tahun ke depan. Selain menyediakan solusi spasial, proses partisipatif dari pengajuan hingga pembukaan lahan ini memperkuat kohesi sosial dan kepercayaan antara masyarakat, pemerintah desa, dan instansi terkait seperti Perhutani.

Kepala Desa,Drs,Riyanto menyatakan bahwa setelah kerja bakti pembukaan lahan, akan segera dilakukan penataan lebih lanjut. “Lahan ini akan kami bagi menjadi blok-blok, dibuat jalan akses, dan dipastikan pengelolaannya dilakukan secara transparan dan bergotong royong oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga yang ada di desa,” paparnya.

Tempat dimana warga masyarakat mengumpulkan tumpeng dan berdoa bersama-sama
Tempat dimana warga masyarakat mengumpulkan tumpeng dan berdoa bersama-sama

Kelompok Penggali Kubur (KPK) sebagai ujung tombak pelayanan pemakaman juga menyambut baik hal ini. Ketersediaan lahan yang memadai akan memudahkan tugas mereka dalam memberikan pelayanan yang layak kepada keluarga yang berduka.

Hujan yang membasahi lereng Gunung Banyak pagi itu seakan menjadi berkah yang menyuburkan niat baik. Perpaduan antara tradisi tasyakuran, semangat kerja bakti, dan respons cepat terhadap masalah publik menunjukkan kematangan masyarakat Desa Sumberjo dalam mengelola diri mereka.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/polemik-dana-mbg-natuna-investor-protes-yayasan-putus-kerja-sama-sepihak-dengan-basecamp-id/

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Kisah dari Sumberjo ini adalah potret nyata bahwa di tengah tantangan keterbatasan lahan, semangat kolektif dan kearifan lokal tetap menjadi senjata ampuh. Mereka tidak hanya sekadar membuka lahan untuk makam, tetapi lebih dari itu, mereka sedang mengukir sebuah cerita tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga martabat warganya hingga akhir hayat, dengan cara yang penuh hormat, syukur, dan kebersamaan. Sebuah pelajaran berharga tentang gotong royong yang tetap relevan dari masa ke masa.

 

( Ria ). 

Array
Related posts
Tutup
Tutup